Bab 3. Gratisan

1337 Kata
Tatapan lelaki itu begitu tajam ke arahnya, membuat Aluna merasa takut dan terintimidasi hanya dengan tatapannya saja. Menoleh ke kanan dan kiri, untuk memastikan situasi, sayangnya di tempat itu hanya ada mereka berdua saja. Aluna berusaha menjauh, melepaskan diri namun Tian sepertinya enggan melepaskan dirinya dengan mudah. Ia berlari menuju pintu keluar, soalnya pintu tersebut terkunci, membuatnya terkurung bersama lelaki itu. Nafas Aluna tertahan saat melihat sosok itu berjalan mendekat, membuatnya mundur karena merasa terintimidasi. Tapi sikapnya seperti itu hanya akan membuat Tian merasa menang, karena telah berhasil memposisikan dirinya sebagai dominan. Tidak! Hal tersebut tidak akan dibiarkan! Sudah cukup lelaki itu menghancurkan hidupnya, ia tidak akan bersikap lemah. “Melarikan diri lagi?” Tian menyeringai, mendekati Aluna. “Tidak. Hanya ingin memastikan pintu ini terkunci, karena saat bekerja apalagi menemani tamu istimewa seperti Tuan, saya harus fokus.” Aluan memaksakan diri untuk tersenyum, menutupi degup jantung yang mulai berdetak tidak karuan. Sepasang mata Tian sudah menyapu lekuk tubuhnya, dalam balutan pakaian serba mini. Rok mini yang memperlihatkan paha mulusnya, bagian atas pun tidak kalah menggoda dimana belahan d**a itu terlihat sangat menggoda. Dari semua yang terlihat, pikiran Tian langsung bekerja untuk bagaimana melucuti pakaian wanita itu, dan melihat lekuk tubuhnya tanpa halangan sedikitpun. “Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya hanya menemani minum, tidak untuk yang lain.” Aluna balas menatap Tian dengan tatapan berani. “Bukankah pelayananmu tergantung uang? Aku sanggup membayar berapapun,” jawabanya dengan senyum menyeringai. “Sepertinya Tuan salah orang, saya tidak..” “Aku tidak pernah salah!” Tian mendekat. Sebutan “Tuan” Yang ditujukan Aluna padanya, membuat Tian merasa sangat tersinggung. Sebutan lumrah yang biasa didengar tapi saat Aluna mengatakannya, ada rasa tidak terima yang membuatnya marah. “Aku butuh penjelasan dari seseorang yang tiba-tiba pergi begitu saja.” Aluna tersenyum samar, “Penjelasan apa? Bukankah Tuan selalu benar, lantas penjelasan apa yang Tuan mau dari saya?” “Berhenti panggil aku Tuan!” Langkahnya semakin dekat, hingga Aluna terpaksa mundur, hingga membuat punggungnya menyentuh dinding yang dingin. “Meninggalkanku hanya untuk bekerja di tempat murahan seperti ini? Menyedihkan.” “Aku tidak perlu izin darimu, Tuan. Ini hidupku, aku yang memutuskan.” balas Aluna. “Baiklah, kami bilang ini pilihan hidupmu dan ini pekerjaanmu saat ini, jadi aku minta kamu bekerja dengan baik dan profesional. Jangan buat tamu mu ini kecewa.” Tiba-tiba Tian menarik tubu Aluna, untuk maju dan mendekapnya erat. Tidak sampai disitu, ia kembali mendorong tubuh Aluna ke sofa. Tatapan mengintimidasi, Tian menyeringai puas saat berhasil melihat sorot mata sok berani itu berubah menjadi takut dan cemas.. “Katakan, kenapa hari itu kamu pergi dan tidak kembali?” Tian membuka jas dan melonggarkan dasi yang mengikat erat lehernya. “Kamu nggak perlu tau, kenapa kamu tanyakan hal itu sekarang? bukan lagi urusanmu. Bukankah kamu yang memintaku pergi! Arghh!” Aluna mengerang kesakitan saat Tian menangkup lehernya dalam satu cengkraman kuat disana. Sorot mata lelaki itu tajam dan nyaris tidak berperasaan. Bahkan tidak peduli Aluna kesakitan dan sulit bernafas. “Jangan mengujiku, p*****r!” sembur Tian dengan nada yang begitu dingin. Kedua tangan Aluna sudah mencengkram pergelangan tangan Tian yang menangkup lehernya, berusaha memberontak, namun sia-sia saja sebab tenaga lelaki itu jauh lebih kuat. “Lepas brengsekk!” suara Aluna tercekat. “Tidak, sebelum aku tahu alasan kamu pergi.” “Tian! Akhh!!” “Baiklah, jika itu pilihanmu pergi dariku hanya ingin menjajakan diri seperti sekarangi. Tapi, aku pun ingin merasakan kembali bagaimana rasanya, apakah masih sama seperti dulu? Atau mungkin sudah jauh lebih mahir?” Alasan mengapa Tian begitu kesal dan tersinggung, karena selama ini ia benar-benar tidak pernah melupakan Aluna. Wanita yang pernah berhasil merebut hatinya tapi tiba-tiba menghilang tanpa jejak dan tanpa kabar. Tian merasa dirinya di buang, tidak dicintai dan juga dibohongi. Bahkan saat ia bercinta dengan kekasihnya, yang terbayang hanyalah wajah Aluna. Wajah yang memenuhi ruang pikirannya saat mencapai pelepasan. Fakta yang disembunyikan Tian selama ini, yang membuat kekecewaannya semakin menjadi-jadi. “Tian, please!” dengan susah payah Aluna berusaha terus menarik cengkraman Tian di lehernya. “Mohonlah, aku suka mendengarnya.” Tian berbisik tajam, mengikis jarak dengan menghimpit tubuh besarnya pada Aluna, sehingga wanita itu tidak dapat berkutik. Satu tangan Tian dengan kurang ajarnya mendarat di salah satu paha Aluna, rok mini yang dikenakannya bisa dengan mudah diangkat hanya dalam satu tarikan. Disentuhnya kulitnya yang terasa begitu lembut. Lembut sekali. Aluna berontak dengan terengah, tetapi sorot mata mengikat tajam seolah hendak memangsa lawan, yang membuat hasrat Tian melonjak begitu saja melihat betapa liarnya wanita itu. “Jangan sentuh aku! Sialan!” umpat Aluna, meringis pelan ketika Tian mengeratkan cengkramannya di leher.Melihat wanita itu kesakitan membuatnya semakin b*******h, seperti ada sensasi kepuasan dalam dirinya Satu tangan Tian merayap naik, tepat di depan titik sensitif yang membuat nafasnya memberat. Aluna kian brutal dalam upaya melepaskan diri. Ia memukul-mukul, bahkan mencakar apapun yang bisa digapai juga mendorong lelaki itu yang sudah berhasil menindihnya. “Jangan!” Aluna memekik saat lelaki itu berhasil menarik celana dalamnya hanya dengan satu tarikan saja. “f**k!” satu tangannya berhasil memasuki area sensitif Aluna. Degup jantungnya bergemuruh kencang, nafasnya memburu kasar. “Tian!” Panggilan bernada desahan itu kembali mengumandang di telinga Tian, yang semakin membangkitkan sisi iblis dalam dirinya. Cengkraman itu mengurai, berganti dengan bernafsu untuk menyentuh bagian tubuh yang lain, apalagi saat satu tangannya berhasil menurunkan tali tank top yang dikenakan Aluna dimana ia bisa melihat dua bukit kembar yang begitu menggoda untuk disentuh. Tian meringis ketika Aluna mulai mencengkram rambutnya, menjambak kasar, agar tatapan keduanya bertemu. Keduanya memberi sorot mata tajam yang sama. “Bagaimana, apakah aku masih menjadi satu-satunya lelaki yang bisa memuaskanmu?” Bisik Tian sinis dan senyum mengejek saat mendengar desah Aluan disela pemberontakannya. “Untuk apa berontak jika masih bisa menikmati apa yang kita lakukan sekarang.” . “Kamu terlalu percaya diri Tuan, banyak lelaki yang jauh lebih hebat darimu.” Balasnya, dengan nada tidak kalah sinis, membalas seringai Tian. Aluna mengerang saat Tian mulai melakukan penyatuan, sementara Tian pun kembali meringis, saat Aluna membalas dengan mengerahkan jambakan di kepalanya. Aluna tidak pasrah, namun perlawanan yang dilakukan justru semakin membuat Tian b*******h. Penyatuan itu berhasil, keduanya berciuman. Hanya saja bukan ciuman hangat dan lembut, melainkan keinginan untuk saling menyakiti. Aluna menggigit bibir lelaki itu dengan kasar, diiringi rintih sakit dari keduanya, Aluna yakin lidahnya terluka saat ia bisa merasakan asin di sela ciuman kasar itu. Tian berhasil melepas ciumannya, tatapan keduanya bertemu. Tian melihatnya, sorot mata Aluna yang mengisyaratkan kesedihan mendalam disana, tangannya nyaris mengusap lembut puncak kepala Aluna, namun fakta bahwa wanita itu melakukan pekerjaan di dunia malam, amarahnya kembali muncul. “Apalah semua pelangganmu tidak sebaik aku? buktinya kamu masih sesak dan sempit.” Tian mengejek. Patut diakui, Aluna masih sangat sempit. Meskipun sudah terlihat kacau, tapi mulut lelaki itu tetap berbisa juga menikmati setiap hentakan keras yang semakin menggila. “Yang benar saja. Atau,, atau jangan-jangan tidak ada wanita sepertiku, yang membuatmu tidak sabaran sepet ini hingga harus melakukannya di tempat seperti ini.” Aluna membalas. “Tamuku yang lain, selalu menyediakan tempat yang layak dan, ah,,,” Aluna nyaris tidak bisa menahan tubuhnya, saat lelaki itu menghentak dengan keras dan keras. Aluna berpegangan pada pundak Tian. Kepalanya semakin pening, saat gairah sampai ke titik puncak. Satu tangan Tian meremas kencang salah satu gunung kembar Aluna hingga wanita itu merintih kesakitan. “Tian,, ah,,” Keduanya bernafas dalam buruan kasar, menikmati sensasi klimaks yang masih terasa dalam diri. Tidak ada kalimat yang terucap, setelahnya mereka sibuk merapikan diri. Rok pendek yang dikenakannya pun sudah kembali terpasang dengan seperti semula. “Buka pintunya, bukankah tugasku sudah selesai?” Ia menatap tajam ke arah lelaki yang juga sudah terlihat berpenampilan rapi seperti semula. Hanya rambutnya yang terlihat sedikit acak-acakan akibat jambakannya tadi. “Berikan nomor rekeningmu, aku akan membayarnya untuk yang barusan.” “Tidak perlu.” Aluna menggelengkan kepalanya, tersenyum sinis. “Gratis, khusus untukmu.” “Aku tidak suka barang gratis!” “Kalau begitu lupakan saja. Aku pun tidak ingin uang darimu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN