bc

Aluna, Jejak Hasrat Masa lalu

book_age18+
177
IKUTI
1.0K
BACA
HE
kickass heroine
city
like
intro-logo
Uraian

"Kamu meninggalkanku, kamu harus membayarnya dengan setimpal."Lionel Christian.Aluna meninggalkan Tian bukan karena tida mencintai lelaki itu, tapi karena ancaman dari seseorang. Hidup Aluna berantakan, bahkan untuk memenuhi kebutuhannya saja ia harus bekerja di kelab malam. Mereka kembali dipertemukan dengan amarah, dendam dan cinta belum usai.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Lama tidak jumpa
Di sebuah bar ternama Jakarta tiga orang lelaki melangkah beriringan menuju sebuah ruangan yang sudah merasa pesan sebelumnya, salah satu dari mereka bertiga akan melepas masa lajang, dalam waktu kurang dari dua bulan lagi akan melangsungkan pernikahan. Sebuah kemajuan yang patut diapresiasi, sebab lelaki yang hendak melepas lajang itu adalah sosok yang menganut hidup bebas dan anti komitmen, namanya Lionel Christian. “Lo nggak akan berubah pikiran, kan Tian? ” Andi menatap takjub. “Patut dirayakan lebih dari ini sih,” lanjutnya dengan senyum jahil. “Setelah sekian lama berkelana bahkan nggak tahu udah ratusan wanita di tiduri, eh langsung dapat jodoh wanita cantik kaya raya. Lo harus bersyukur.” sahut temannya yang satu lagi, Reza. “Gue selalu beruntung, kalau kalian lupa. Anggap aja investasi jangka panjang, dapat warisannya, dapat juga anaknya yang cantik.” balasnya dengan senyum pongah. Tian sapaannya, si petualang ranjang yang tidak pernah puas pada satu wanita saja. Bukan karena tidak punya hati, tapi karena kisah kelam masa lalu, kekecewaan yang masih berkarat dalam hati membuatnya berubah menjadi liat tidak terkendali. Beberapa tahun lalu, Tian pernah melakukan kesalahan fatal hingga ia harus merasakan dinginnya jeruji besi, hukuman itu tidak pantas membuatnya jera, ia justru semakin tidak terkendali. Julukan i si tukang celup pun melekat padanya, Tian tidak sedikitpun keberatan karena faktanya memang seperti itu, sering bercinta dengan banyak wanita yang dianggap menarik olehnya. “Lo beneran nggak pernah tidur sama cewek lain, selain Sienna?” Andi penasaran, sekaligus tidak percaya selama ini Tian bisa menahan hasratnya untuk tidak bermain perempuan. “Nggak.” balasnya enteng. “Dia udah sadar, Ndi. Main perempuan nggak akan ada habisnya.” Reza menjawab. “Bisa dikuliti hidup-hidup sama Nyonya Subagyo kalau ketahuan nyakitin Sienn, sang menantu idaman.” “Gue udah berubah,” Tian menyesap minumannya hingga habis. “percaya atau tidak terserah.” “Lagipula gue mau menikah, nggak seperti kalian yang memilih living together, tanpa status jelas.” Tian menunjuk pada kedua temannya. “At least, kami nggak menikah karena perjodohan, paksaan dan tanpa cinta kayak lo.” Reza dan Andi pun tertawa bersama, namun Tian tidak tersinggung sedikitpun karena faktanya memang seperti itu. Hubungan yang terjalin atas dasar balas budi dan belum juga menemukan rasa yang bisa dijadikan pondasi kuat untuk membangun sebuah rumah tangga. Tian tahu bagaimana perasaannya untuk Sienna, tapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Hidupnya benar-benar hampa selama ini, seolah tidak ada tujuan bahkan Tian lupa bagaimana rasanya mencintai dan dicintai, yang tersisa hanya penyesalan dan sakit hati terhadap seseorang yang sampai detik ini belum juga ditemukan. “Ngomong-ngomong, lo pernah deket sama temannya Nadia bukan? Siapa namanya, gue lupa.” Andi kembali membuka percakapan, kilas masa lalu Tian yang pernah dekat dengan seorang wanita. Pertanyaan itu kembali mengingatkan Tianpada sosok wanita yang masih menjadi tanda tanya besar dalam hidupnya selama ini. Kemana perginya wanita itu? Apakah wanita itu masih ada di negri ini? Atau mungkin sudah menikah dan memiliki keluarga? Memang sudah terlalu lama tidak bertemu sangat memungkinkan untuknya menikah dan memiliki keluarga. “Aluna.” balas Reza. “Cewek yang tergila-gila sama playboy cap kadal kayak Tian.” “Untung nggak hamil, kalau hamil berabe. Punya anak tanpa suami.” Tian tiba-tiba tersedak, sampai dadanya terasa sakit. “Lo kenapa?” Andi menepuk pundak Tian, “Kaget gitu.” “Nggak apa-apa. Gue mau ke toilet dulu.” Tian beranjak dari tempat duduknya, menuju toilet. Mendengar nama Aluna adalah hal yang masih menjadi sesal dan kecewa dalam hatinya. Bagaimana cara wanita itu menghilang dari hidupnya benar-benar menggores ego Tian. Kecewa yang berubah menjadi benci, bahkan Tian membungkus perasaannya dengan kebencian. Tian mencuci wajahnya, mencoba menghilang pikiran tentang Aluna yang samoai detik ini masih menghantuinya. Apalagi menjelang hari pernikahannya, bayangan wanita justru semakin sering muncul tidak hanya dalam benaknya tapi juga dalam mimpi. “Jalang murahan!” umpatnya. “Bahkan mungkin saat ini dia hidup dengan baik, tanpa mikirin gue!” Tian berdecak kesal, mengusap wajah dengan kain. Saat langkahnya hendak meninggalkan toilet, ia mendengar seseorang memanggil nama yang begitu familiar bahkan baru saja dipikirkannya. “Aluna, mau langsung pulang?” “Iya. Udah selesai, kan? Mending langsung pulang aja.” Wajah dan suaranya benar-benar sama persis, bahkan bentuk tubuh dan senyuman pun masih sama, hanya saja penampilannya benar-benar mencolok. Rok mini dan atasan mini, mencetak lekuk tubuhnya. Dari balik pintu, Tian memperhatikan Mila yang tidak menyadari kehadirannya. “Ya sudah, ayo!” Kedua wanita itu segera pergi meninggalkan area toilet. Rasa ingin tahu muncul dalam hati, ia bergegas mengikuti kedua wanita itu secara diam-diam. Rupanya mereka masuk ke dalam salah satu ruangan khusus yang ada di Bar, sebuah ruangan VIP. Tian ingin masuk untuk memastikan apa yang dilakukan Aluna di dalam sana. Kedua mata Tian terbelalak saat melihat apa yang dilakukan Aluna. Wanita itu menemani seorang lelaki yang bisa dipastikan sebagai salah satu tamu disana. Aluna terlihat menggoda, dengan senyum dan sentuhan sensualnya. Tian memastikan bahwa Aluna adalah salah satu pegawai di klub tersebut, atau bisa saja Aluna menjadi salah satu wanita penghibur, atau panggilan. Tian tersenyum penuh arti. “Sekali murahan tetap murahan.” Setelah sekian lama, akhirnya Tian berhasil menemukan Aluna dan keinginan untuk membalas dendam itu pun kembali muncul.. Tian menghampiri seorang pegawai yang tengah membawa minuman, yang juga keluar dari ruangan itu. “Tunggu!” Tian menghadang. “Kamu kenal wanita itu? Yang memakai rok hitam?” Pegawai itu terdiam sejenak, mencoba mengingat. “Yang mana? Saya lupa.” “Kamu pasti ingat,” Tian mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah dari dalam dompetnya. Informasi akan didapat dengan beberapa lembar uang. Pegawai yang berjenis kelamin laki-laki itu langsung tersenyum, “Tentu ingat. Dia bekerja disini. Aluna namanya.” “Bisa dipanggil?” “Tentu.” Tian menyeringai. “Berikan kontaknya, aku akan tambah lagi.” Tian memberikan beberapa lembar uang lagi dan dengan mudah ia sudah menemukan kontak Aluna. Tian menyeringai, otaknya mulai menyusun rencana untuk mempermainkan wanita itu, membalaskan dendamnya. Ia merasa sangat tersinggung, atas kepergian Aluna beberapa tahun lalu, saat Tian menyerahkan seluruh hatinya untuk Aluna tapi wanita itu justru pergi tanpa sepatah katapun, meninggalkan Tian disaat terpuruk. “Sepertinya kita akan kembali bersenang-senang, cantik. Tunggu aku.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.9K
bc

TERNODA

read
200.7K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook