Ternyata Dia Bos Suamiku

1069 Kata
"Kamu gapapa?" Suara berat terdengar, Arsila yang semula memejamkan matanya perlahan membuka mata. Di depannya, seorang pria muda dengan kacamata bening bertengger di hidungnya, matanya tajam seperti mata elang. Wajahnya tampak khawatir. Awalnya Arsila sudah pasrah kalau ia akan ditabrak mobil, tapi nyatanya ia baik-baik saja. "I-ya, aku gapapa," jawab Arsila terbata. Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk membantu Arsila berdiri. Pandangan keduanya bertemu, Arsila merasa wajah itu tidak asing dan cukup familiar. Tapi, Arsila tidak tahu ia pernah melihatnya dimana. Disana juga sudah ada satpam perumahan, mereka pun terkejut dengan kejadian ini, apalagi Arsila baru saja melewati pos penjagaan. "Aku antarkan kamu pulang, sepeda kamu sepertinya rusak," ucap lelaki itu. Arsila melirik sepedanya yang dituntun oleh satpam ke pos, sepertinya memang tidak bisa dipakai. "Tidak usah, aku naik ojek aja," jawab Arsila menolak. "Maaf, aku membuat kamu terkejut. Aku Nathan." "Arsila." Lelaki yang mengaku bernama Nathan itu menganggukkan kepalanya. Tatapannya masih lekat pada Arsila. "Aku yang minta maaf, aku tidak hati-hati," sambung Arsila. Akhirnya, setelah Nathan cukup memaksa Arsila menyetujui tawaran dari Nathan untuk mengantarkannya pulang, apalagi waktu sudah malam begini. Sebelumnya, Arsila tetap membelikan makanan untuk Bayu. Ia tidak mau ada keributan lagi di rumahnya, kalau tidak dibelikan makanan, Bayu pasti akan marah. Akhir-akhir ini emosi Bayu memang cukup tinggi, kesalahan sedikit saja membuatnya marah besar. Arsila pikir, saat ini Bayu pasti stress memikirkan program kehamilan mereka. "Kamu belum makan?" tanya Nathan. "Sudah." "Terus, makanan itu?" "Untuk suamiku." "Apakah suami kamu sedang sakit?" Arsila menggeleng, bibirnya menyunggingkan senyuman getir. "Gak, tapi dia sedang lelah. Pekerjaannya sedang padat." "Oh. Harusnya kamu bisa order online." "Takut kelamaan." "Hmmm." Mereka tiba di rumah, dan Arsila tidak menyangka kalau Nathan malah ikut turun mengantarkannya sampai depan pintu. Kriet! Pintu terbuka. "Kemana saja kau? Beli makanan di depan saja lama sekali!" sambut Bayu. "Mas..." "Apa?!" tanya Bayu berteriak sembari menoleh, ia sangat terkejut saat menyadari kalau Arsila tidak sendirian. Terlebih lagi saat melihat siapa yang datang bersama sang istri, itu adalah Nathan, bos nya di kantor. "P-pak Nathan..." Bayu menyapa dengan tergagap. "Istrimu hampir kecelakaan di depan, jadi aku mengantarnya pulang," ucap Nathan dengan santai. Sekarang Arsila paham, mengapa ia merasa wajah Nathan familiar, itu karena mereka memang pernah bertemu. Ketika baru menikah, Arsila pernah diajak Nathan untuk menghadiri acara kantor, dan bertemu dengan bos sang suami. Bayu menatap Arsila dari ujung kepala hingga kaki, mungkin untuk melihat bagian yang terluka. Detik berikutnya, ia kembali menatap Nathan. "Pak Nathan, mari masuk. Maaf sudah merepotkan, Arsila memang sering tidak berhati-hati," ucap Bayu sambil tertawa yang dipaksakan. "Ini sudah malam, kenapa kamu malah membiarkan istrimu keluar sendirian?" tanya Nathan. "Oh itu..." Nathan gugup dan menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. "Kebetulan Arsila juga ada keperluan." "Oh." Nathan melirik ke arah Arsila yang sudah berlalu masuk ke dalam. Dan tidak lama, Arsila kembali keluar dengan membawa minuman dingin. "Istrimu kerja dimana?" tanya Nathan yang terus menatap Arsila tidak berkedip. "Resepsionis hotel Golden Star, Pak." Nathan menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya ia berpamitan meninggalkan rumah Arsila dan Bayu. Setelah kepergian Nathan, Bayu menatap Arsila tajam. "Apa yang kau katakan pada Pak Nathan?" "Gak ada, Mas." "Awas kalau kau bicara aneh-aneh." Arsila hanya menghela nafas berat. Rasanya, pernikahannya saat ini sangatlah berat. Ia sama sekali tidak mendapatkan dukungan dari sang suami. ** Keesokan harinya... "Aku akan tugas keluar kota selama dua hari. Jangan menghubungi kalau bukan aku yang menghubungi lebih dulu. Aku sibuk!" ujar Bayu sambil menikmati sarapannya. "Kamu kemana, Mas?" Ting! Bayu melepaskan sendok dan garpu di tangannya dengan kasar. "Apa harus kamu tahu setiap detail pekerjaanku?" Arsila terkejut melihat Bayu marah, bukannya tidak ada yang salah dengan pertanyaannya? "Aku hanya bertanya, Mas. Kalau Mama tanya aku bisa menjawabnya." "Alasan saja! Kamu itu selalu begitu, sejak pacaran selalu pencemburu. Pikiranmu itu selalu kotor. Aku keluar kota untuk bekerja, jangan terlalu curiga!" "Iya, Mas." Padahal, Arsila merasa ia sebagai istri, apa salahnya tahu kemana suaminya pergi bertugas. Tapi, pertanyaan kecil itu saja sudah membuat Bayu marah. "Aku sudah tidak bernafsu makan! Semakin lama, kau semakin mengesalkan. Bukan hanya tidak bisa hamil, kau juga semakin menjengkelkan," ucap Bayu kemudian mendorong piringnya dengan kasar dan berlalu dari meja makan. Bruum! Tidak berapa lama, terdengar suara mobil Bayu meninggalkan rumah. Sejak lima bulan lalu, Bayu tidak pernah lagi menawarkan tumpangan pada Arsila, padahal mereka searah dan kantor Bayu melewati hotel tempat Arsila bekerja. Hari ini Arsila bekerja seperti biasa, senyum selalu menghiasi bibirnya sebagai bentuk profesionalitasnya, meskipun pikirannya seperti sedang berperang. "Kamar Junior Suite satu." Ketika Arsila sudah bersiap untuk pulang, karena jam kerjanya hampir berakhir seorang tamu datang. "Pak Nathan?" tanya Arsila terkejut saat melihat Nathan yang berdiri di depannya memesan satu kamar di hotel tempatnya bekerja. "Hai Arsila." "Ini Pak kuncinya. Kamar di lantai tujuh dari lift sebelah kiri ya, Pak. Terima kasih," ucap Arsila setelah memproses pesanan Nathan. "Bisa kamu antarkan aku kesana?" tanya Nathan. Arsila menatap rekan di sebelahnya dan manager di belakangnya, setelah mendapatkan persetujuan akhirnya Arsila mengangguk. "Ini pak kamarnya," ujar Arsila setelah tiba di depan kamar Nathan. "Boleh temani aku sebentar, aku butuh teman bicara." Setelah menimbang beberapa saat, Arsila juga takut kalau ini akan mempengaruhi pekerjaan Bayu, ia setuju dan ikut masuk ke dalam kamar Nathan. "Apakah kamu bahagia bersama Bayu?" tanya Nathan setelah duduk di sofa yang ada di dekat jendela. Arsila menatap Nathan heran. "Bahagia, Pak." "Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?" "Pak, Bapak memang atasan Mas Bayu di kantor. Tapi, Bapak tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga kami," jawab Arsila tegas. Nathan tersenyum, ia menarik tangan Arsila dan meminta Arsila duduk di sebelahnya. "Aku tahu. Tapi, ini bukan karena Bayu anak buahku." "Terus apa?" "Karena kamu." "Maksud Bapak?" "Bukan apa-apa. Lupakan saja.” Arsila menatap Nathan dengan tatapan yang sulit diartikan. “ Kalau tidak ada keperluan lagi, saya permisi, Pak. Saya sedang kerja.” Nathan menoleh. “Aku baru tinggal di kota ini. Maukah malam ini kamu menemaniku ke suatu tempat. Kebetulan temanku mengajak bertemu. Tapi, aku tidak tahu tempatnya.” Arsila menggeleng. “Bapak bisa cari di maps.” Nathan mengangguk. “Aku sudah minta izin sama Bayu. Dan dia mengizinkan kamu untuk menemani aku malam ini. Karena awalnya aku minta temani Bayu, tapi dia harus keluar kota.” “Hah?” Arsila terkejut bukan main mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau Nathan sudah izin pada Bayu. Dan sialnya, Bayu malah mengizinkan istrinya pergi dengan bosnya. Apa yang Bayu pikirkan? “Ini pesan dari Bayu,” sambung Nathan sambil menunjukkan ponselnya pada Arsila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN