Tidak Kunjung Hamil
"Bagaimana hasilnya?"
"Negatif."
"Kau benar-benar tidak berguna! Tugasmu hanya hamil saja, sesulit itu? Bahkan, aku sudah mengeluarkan biaya yang banyak untukmu!" teriak Bayu marah.
Arsila tertunduk diam, tangannya memegang tespek dengan gemetar. Ia sudah terlambat datang bulan, ia pikir akan hamil, tapi nyatanya hasilnya zonk.
"Maaf," ucap Arsila pelan.
"Maaf, maaf! Memangnya maafmu itu bisa menyelesaikan masalah?"
Sudah satu tahun mereka menikah. Awalnya semua baik-baik saja, Bayu memperlakukannya dengan baik. Karena memang sebelumnya mereka telah berpacaran selama setahun juga.
Tapi, belakangan ini, setiap kali pertemuan keluarga yang menjadi topik pembicaraan hanyalah Arsila yang tidak kunjung hamil.
Pertanyaan kapan hamil, selalu membuat telinga panas. Hingga akhirnya membuat mereka memutuskan untuk menjalani program kehamilan.
Setelah pemeriksaan dokter, keduanya dinyatakan sehat dan normal. Dokter menyarankan untuk mengkonsumsi vitamin dan makanan yang bergizi.
Tiga bulan ini mereka mengikuti anjuran dokter, setiap bulan selalu menanti tespek berubah menjadi garis dua. Dan lama-kelamaan Bayu menjadi obsesi dan berubah. Setiap kali Arsila datang bulan, ia akan marah besar. Bahkan tidak jarang sampai melakukan penyiksaan.
Hingga akhirnya Arsila terlambat datang bulan. Keduanya sangat antusias, mereka yakin kalau kali ini Arsila benar-benar hamil.
Namun, empat tespek yang digunakan tidak ada satupun yang bergaris dua. Bayu kembali emosi.
Braak!
Bayu merebut tespek yang ada di tangan Arsila dan membantingnya ke lantai.
Ia menyalahkan Arsila, padahal bisa jadi kegagalan itu karena tekanan yang membuat Arsila stress.
"Dasar tidak berguna!" teriak Bayu lagi dan segera berlalu.
"Kamu mau kemana?" tanya Arsila.
"Pergi. Menenangkan otak!"
Arsila terdiam menatap punggung Bayu yang kini sudah menghilang di balik pintu.
Bruum!
Suara mobil Bayu meninggalkan rumah, meninggalkan Arsila yang masih berdiri dengan tatapan nanar.
Arsila memungut tespek di lantai lalu membuangnya ke kotak sampah. Harapannya yang semula begitu besar pada alat ini, sekarang semua hancur berkeping-keping, pun dengan perasaannya. Kini semakin berantakan.
Ia duduk pada sofa ruang tengah, menyandarkan kepalanya dan memegang rambut. Air matanya tidak lagi keluar, rasanya sudah lelah tiga bulan ini di caci maki saat tidak berhasil hamil.
"Kenapa? Kenapa sulit sekali hamil? Mengapa ada orang yang begitu mudah untuk hamil?" tanya Arsila pada dirinya sendiri dengan air mata menggenang.
Tanpa sadar, Arsila malah ketiduran di atas sofa. Dan ia tidak sadar kalau ternyata Bayu kembali lagi ke rumah. Lelaki itu marah besar saat mendapati Arsila malah enak-enak tidur, tidak menyambutnya pulang.
Byuur!
Satu gelas air dingin mengguyur wajah Arsila, membuatnya terkejut bukan main. Arsila langsung membuka matanya.
“Astaga…”
“Masih hidup kau rupanya. Aku kira kau sudah mati, sampai gak dengar aku pulang.”
“Kamu kenapa kembali lagi?” tanya Arsila sambil menahan dingin di wajahnya.
“Tiba-tiba temanku membatalkan rencana.”
Arsila tidak menjawab, ia ingin masuk ke kamar, tapi Bayu malah menahannya.
“Kau mau kemana?” tanya Bayu.
“Ke kamar, ganti baju, Mas.”
“Aku lapar.”
Arsila menganggukkan kepalanya pelan. “Setelah aku ganti baju, aku akan masak, Mas.”
Arsila tetap berusaha menjadi istri yang baik, ia menyiapkan semua keperluan Bayu, melayani Bayu dengan setulus hati.
Ia juga seorang pekerja, tapi setiap harinya selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah. Termasuk dalam urusan makan, karena Bayu berdalih ia tidak terlalu suka dengan masakan orang lain ataupun beli.
Meskipun dalam beberapa bulan ini kehidupannya terasa begitu berat, Arsila masih mencoba bertahan. Ia yakin, Bayu seperti itu karena tekanan keadaan. Nanti, kalau ia berhasil hamil ia yakin Bayu akan berubah dan kembali bersikap baik padanya.
Walaupun ia sendiri tidak tahu kapan waktu itu tiba.
“Tidak perlu!” ucap Bayu.
“Hah? Terus bagaimana denganmu?” tanya Arsila heran.
“Aku sedang tidak mau makan masakanmu. Belikan saja aku nasi kotak dari rumah makan di depan gerbang perumahan itu!”
Arsila menatap Bayu nanar, suaminya itu baru saja dari luar rumah. Kalau memang ia mau makan nasi dari rumah makan diluar, kenapa tidak sekalian ia beli dari luar tadi?
Dan sekarang Bayu meminta Arsila untuk membelikannya.
“Kenapa? Kau tidak mau?” tanya Bayu kesal.
“Kenapa kamu gak belikan langsung saat tadi di luar, Mas?”
“Aku lupa.”
“Kalau begitu, aku pesan ojek online saja, ya.”
Bayu menatap Arsila dengan marah. “Lama! Kalau pakai ojek jam berapa aku makannya?”
Dengan menahan perasaan yang menyesak, akhirnya Arsila keluar dari rumah untuk membeli makanan yang diinginkan oleh Bayu.
Memang tidak jauh, hanya cukup pergi ke depan gerbang perumahan dan rumah makan itu terletak di seberangnya. Tapi, pergi kesana malam-malam, padahal suaminya ada di rumah, rasanya itu membuat Arsila sakit.
Dengan mengendarai sepeda listrik, Arsila pergi ke depan.
Bayangan beberapa tespek hari ini terus berputar di kepalanya, apalagi Bayu tadi sempat mengatakan Arsila harus berhenti bekerja kalau mau hamil.
Pastinya, bagi sebagian wanita menjadi ibu rumah tangga mungkin adalah impian yang sangat besar. Tapi, itu beban bgi Arsila. Sebab, selama ini uang yang diberikan bayu kepadanya jauh dari kata cukup.
Bayu beralasan kalau mereka hanya hidup berdua, tidak mungkin uang dua juta kurang. Padahal, untuk bayar listrik, air dan wifi saja uang sebanyak itu hampir kurang. Kalau Arsila tidak bekerja, bagaimana menutupi kekurangannya?
Sedangkan selama ini, Bayu tidak pernah mau mendengar kalau uang yang ia berikan itu kurang. Ia selalu mengatakan Arsila tidak bersyukur. Dan salah satu cara Arsila agar tidak memancing keributan pastinya dengan menggunakan uang gajinya.
Arsila memejamkan matanya, bayangan pernikahan impian yang selama ini ia impikan kini hanyalah sebuah khayalan belaka. Kenyataan yang ia dapatkan setelah menikah justru jauh dari kata impian.
Terbesit rasa penyesalan dalam hatinya mengapa dulu ia menerima pinangan dari Bayu. Kalau teringat dulu, wajar saja jika ia menerimanya, sebab Bayu begitu baik, lembut dan penuh kasih sayang. Orang tuanya juga menerimanya dengan tangan terbuka.
Tidak pernah ia sangka kalau kebahagian itu hanya sementara. Disaat mereka tidak kunjung menimang anak dari Bayu dan Arsila semua langsung berubah. Bahkan suaminya pun ikut berubah.
Banyak orang bilang kalau dunia ini akan baik-baik saja kalau suami masih berada di pihak kita. Biarpun mertua, ipar dan keluarga besar memojokkan, semua akan baik-baik saja. Tapi, Bayu tidak berada di pihak Arsila, tentu saja itu membuat dunia Arsila pun runtuh.
Tiiin!
Sebuah klakson panjang mengagetkan Arsila dan membuyarkan lamunannya. Saat ia menyebrang, tanpa melihat kiri dan kanan, dan ternyata dari sebelah kiri sebuah mobil melaju kencang.
Braak!
Arsila jatuh ke aspal karena kaget dan bersamaan dengan itu suara decitan ban pada aspal akibat pengereman mendadak itu memekakkan telinga.