Bab 30

1750 Kata
"Kak kita mau kemana?" tanya Luna yang bingung ketika Bastian tiba-tiba mengajaknya keluar. "Kita makan malam di luar sayang. Sekalian aku mau ngajak kamu ke suatu tempat," jawab Bastian yang masih fokus menyetir. "Aku kan bisa masak buat makan malam kita jadi gak usah makan diluar. Lagian emang kakak mau ngajak aku kemana sih?" tanya Luna penasaran. "Sayang sekali-kali kita makan di luar gak apa-apa kan. Aku mau menikahi kamu bukan untuk menjadikan kamu pelukan aku yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Aku mau menikahi kamu karena memang aku mencintai kamu. Jadi jangan pernah berpikir jika kamu menikah dengan aku berarti kamu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Jika perlu nanti aku sewa asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan di rumah sehingga kamu gak perlu beres-beres segala," kata Bastian yang gemas sekali mendengar penolakan dari Luna. Entah kenapa mendengar perkataan dari Bastian membuat jantungnya berdebar. Ia tak menyangka jika laki-laki yang sedang menyetir mobil di sampingnya ini tampak sungguh-sungguh menyatakan perasaan cintanya. Apakah ini pertanda jika Luna mulai merasakan perasaan cinta kepada Bastian. Mungkin dengan berjalannya waktu Luna akan menemukan jawabnya sendiri. Setelah itu Luna pun memilih diam dan mengikuti kemanapun Bastian akan membawanya. Karena ia yakin Bastian tak akan berbuat yang aneh-aneh. Setelah menempuh hampir setengah jam akhirnya mereka sampai di sebuah restoran yang bisa di katakan sangat mewah. Dan Luna sangat ketika Bastian mengajaknya masuk apalagi pakaiannya saat ini kurang pantas untuk masuk ke restoran ini. Malam ini Luna hanya memakai kemeja warna putih dan di padukan dengan rok jeans selutut dengan memakai flat shoes warna biru. Sedangkan rambutnya ia biarkan terurai. Bahkan Luna hanya memoles wajahnya dengan bedak dan lipstik saja. Yang pasti membuat penampilan Luna terlihat sangat kasual dan tak cocok untuk masuk ke restoran mewah ini. "Kak kita akan makan di restoran ini?" tanya Luna untuk memastikan. "Iya kita akan makan malam disini. Kenapa memangnya? Kamu gak suka makan di restoran ini?" tanya Bastian balik. "Bukan gitu tapi kakak lihat penampilan aku saat ini sangat tidak cocok makan di restoran mewah seperti ini. Apa lebih baik kita makan di tempat lain aja. Aku gak masalah kok makan di tempat lain kok," kata Luna yang merasa gak nyaman. Bastian pun melihat penampilan dari Luna dan menurutnya tak ada yang salah dengan penampilannya. "Memang penampilan kamu kenapa? Aku lihat-lihat gak ada yang salah. Terus kenapa kita gak bisa makan disini?" tanya Bastian lagi. "Ya ampun kak Bastian kenapa kakak gak ngerti juga. Kakak lihat aja sendiri dari tadi pengunjung yang datang ke restoran itu pakaiannya resmi gitu sedangkan aku cuma pakai kemeja dan rok jeans yang sangat kasual gitu. Jadi aku merasa gak cocok aja masuk ke restoran itu," jawab Luna mencoba menjelaskan kepada Bastian. Bastian mengerutkan keningnya ketika mendengar penjelasan dari Luna. Sebenarnya restoran ini tak menentukan bagaimana cara berpakaian para pengunjungnya untuk makan di restoran itu. Yang penting pengunjung itu bisa membayar makanan di restoran itu. Jadi Bastian pikir penampilan mereka masih cocok-cocok aja. Tanpa menunggu lama Bastian pun sudah menarik tangan Luna untuk masuk ke restoran itu. Bastian tak peduli ketika Luna masih mencoba untuk menolak untuk masuk ke restoran itu. Tapi seperti biasa seorang Sebastian Philip tak bisa dibantah. Dan mau tak mau Luna pun hanya mengikuti Bastian masuk ke restoran. Luna sangat kagum dengan interior yang ada di restoran itu karena terlihat sangat mewah. Dan yang pasti Luna belum pernah berada di restoran semewah ini. "Kak makanan disini pasti mahal ya? Kayaknya dari tadi aku lihat orang-orang yang datang dari kalangan orang kaya dan penting deh. Memang makanan disini seenak apa sih sampai yang datang banyak banget," bisik Luna kepada Bastian yang ada di sebelahnya. "Restoran ini memang salah satu restoran paling mahal dan juga enak di negri ini. Dan yang datang pun biasanya dari kalangan atas. Jadi wajar aja kalau ada orang-orang penting yang datang kesini," kata Bastian menjelaskan. "Ooooooo....." Luna hanya bisa berkata seperti itu saja karena memang dia bingung harus merespon seperti apa. Dan tak lama pelayan di restoran ini pun datang untuk memberikan buku menu yang bisa mereka pesan. Dan ketika Luna membaca buku itu ia dibuat kaget ketika melihat harga yang tertera di buku menu itu. Harga makanan yang ada di buku menu membuat matanya terbelalak karena ada makanan yang harganya sama dengan gajinya sebulan ketika bekerja di supermarket. Dan Luna terkadang suka heran ketika orang-orang di luar sana suka sekali menghamburkan uangnya untuk makanan yang harganya fantastis. Dan salah satu orang yang suka menghambur-hamburkan uang ada di hadapannya sedang memilih makanan di buku menu yang diberikan oleh pelayan tadi. "Sayang kamu mau pesan apa?" tanya Bastian sambil menatap kearah Luna. Luna bingung ketika Bastian menanyakan kepada dirinya tentang makanan apa yang dipesannya karena jujur saja ia tak tahu menu apa yang ingin ia pesan. Melihat harganya saja sudah membuat perutnya kebayang terlebih dahulu. Terkadang Luna tak habis pikir kenapa orang-orang kaya suka membeli makanan yang semahal ini. Padahal di luar sana masih banyak makanan enak tapi murah. "Terserah kakak aja," jawab Luna seadanya. Akhirnya Bastian juga yang memesan makanan untuk Luna. Karena Bastian tahu jika Luna tak biasa membeli makanan seperti ini jadi Bastian memesankan makanan yang Bastian pikir akan disukai oleh Luna. Mereka berdua pun terdiam sejenak setelah memesan makanan untuk makan malam mereka berdua. Tapi tak berapa lama Luna membuka suaranya. "Kakak sering makan disini ya?" tanya Luna tiba-tiba. "Gak terlalu sering juga tapi beberapa kali sering makan disini. Restoran ini memang salah satu restoran favorit kakak. Memang kenapa kamu tanya begitu?" tanya Bastian balik. "Aku agak merasa aneh aja. Kakak tahu ini pertama kalinya aku makan makanan yang mahal seperti ini. Bahkan tadi aku lihat ada makanan yang harganya sama kayak gaji aku selama sebulan di supermarket. Apa kakak gak sayang menghabiskan uang sebanyak itu hanya buat makanan aja. Padahal di luar sana banyak makanan yang enak tapi murah." Luna pun mengatakan kekagetannya ketika melihat harga makanan di restoran ini. "Sayang kakak selama ini kerja keras kan memang untuk bisa menikmati hidup. Sesekali menyenangkan diri sendiri gak ada masalah. Dan restoran ini memiliki makanan yang sangat enak sehingga sesekali kakek mampir kesini ketika sudah terlalu sibuk dengan berbagai pekerjaan yang ada. Jadi kamu gak usah mikir soal biaya segala. Kakak masih sanggup untuk membayar makanan disini. Tugas kamu hanya perlu menikmati makanan disini. Dan jangan berpikir yang aneh-aneh," kata Bastian mengingatkan. Luna pun akhirnya hanya bisa pasrah ketika Bastian berkata seperti itu. Ia tahu percuma saja berdebat dengan laki-laki yang dari tadi terus memandangnya dengan pandangan yang penuh arti. Luna akan mencoba menikmati makanan yang harganya sangat menguras kantong ini. Ketika Luna dan Bastian sedang menunggu makanan mereka tiba-tiba ada orang yang memanggil nama Bastian. "Dokter Bastian," sapa seseorang. Bastian yang merasa namanya di panggil pun melihat kearah sumber suara. Dan ketika ia tahu siapa orang yang memanggilnya ia pun segera bangkit dari kursi dan bersalaman dengan laki-laki itu. "Selamat malam pak Tony," sapa Bastian balik. "Saya pikir tadi salah orang ternyata tidak salah orang. Saya gak menyangka jika bertemu dengan dokter Bastian disini. Dan wanita ini siapa? Kematian dokter Bastian?" tanya Pak Tony sambil melirik kearah Luna. "Iya pak saya memang sedang makan malam disini. Dan wanita bukan kekasih saya melainkan calon istri saya," kata Bastian memperkenalkan Luna kepada pak Tony. "Wah jadi benar gosip yang beredar di rumah sakit jika dokter Bastian sudah memiliki calon istri. Saya pikir itu hanya kabar yang tidak benar tapi sekarang saya bisa bertemu dengan calon istri dokter Bastian. Apa Carlos sudah tahu juga soal ini?" tanya Pak Tony tiba-tiba. "Daddy sudah tahu kalau saya punya calon istri cuma Daddy belum pernah bertemu karena Daddy sedang sibuk saat itu. Mungkin lain kali saya akan membawa Luna ke Italia untuk bertemu dengan Daddy," jawab Bastian dengan santai. Kening Luna berkerut karena mendengar Bastian berkata jika ia memiliki seorang Daddy. Bukannya Bastian tak memiliki keluarga ataupun orang tua. Tapi kenapa tadi dia bilang punya seorang Daddy. Dari awal Luna selalu merasa jika Bastian sedang menyimpan sesuatu dan itu membuat dirinya penasaran. Mungkin lain waktu ia akan menanyakan langsung kepada Bastian tentang masa lalunya. Ketika sedang saling berbicara tiba-tiba ada seorang wanita yang dikenal datang diantara mereka. Dan wanita itu terlihat kaget ketika melihat keberadaannya dengan Bastian. "Papa, Tania tadi cariin papa. Kenapa papa ada disini?" tanya Tania yang memang berada disana. "Maaf sayang tadi gak sengaja papa melihat ada dokter Bastian ada disini jadi papa mau menyapa," jawab pak Tony dengan apa adanya. Tania pun langsung melihat kearah Luna dengan tatapan tak suka dan itu tak luput dari pandangan Bastian. Sepertinya Tania tipe wanita yang keras kepala. Ia sudah berkata banyak hal kepada Tania tapi sepertinya Tania tak peduli. Hingga suasana canggung pun dapat Bastian rasakan. Tak berapa lama makanan pesanan mereka datang dan itu membuat pak Tony dan Tania pun memutuskan untuk pergi dari meja Bastian dan Luna. Dan sekarang tinggallah Luna dan Bastian di meja itu. "Kak sebenarnya wanita tadi siapa sih? Apa dia orang penting ya? Dan bapak-bapak itu siapa juga? Kayaknya kakak kenal banget." Luna yang tak sabar pun segera bertanya kepada Bastian. Bastian tahu jika Luna pasti akan menanyakan soal ini. Tapi ia sedang tak ingin menjelaskan semuanya saat ini. "Sayang kita bahas soal ini nanti ketika sampai penthouse. Sekarang kita makan dulu sebelum nanti kita pergi ke tempat lain sebelum pulang ke penthouse," jawab Bastian yang sedang tak ingin di bantah. Dan mau tak mau Luna pun segera menyantap makanan yang sudah datang. Di depan matanya sudah ada makannya yang sepertinya enak. Ia pun mulai menyantap makanan itu. Dan ketika makanan itu masuk ke mulutnya ia bisa merasakan bagaimana enaknya makanan itu. Pantas saja makanan yang ada di restoran ini mahal-mahal karena rasanya memang sepadan dengan rasa yang diberikan. Luna pun langsung memakan makanan yang dipesan oleh Bastian dengan sangat lahap. Dan tanpa ia duga ia cepat sekali menghabiskannya. Bastian sendiri yang melihat tingkah Luna tak kuasa menahan senyum karena sikap polos yang Luna perlihatkan. Luna tak pernah malu-malu menunjukkan apa yang ia suka dan apa yang tidak ia suka. Dan sikap itu juga yang membuat Bastian menyukai Luna. Sementara itu di tempat lain ada seorang wanita yang cantik sudah membawa koper dan sekarang wanita cantik itu sedang menunggu pesawat yang akan membawanya untuk menemui laki-laki yang ia cintai. Ia akan menemui laki-laki yang ia cintai dan ia rebut wanita itu dari wanita lain. "Kak Bastian tunggu aku. Aku akan menemui kakak dan akan menjadikan kakak milik aku," kata Paula dengan ekspresi yang penuh percaya diri. Wah bakal ada perang lagi nih.... Gimana kira-kira nasib mereka? See you next chapter..... Happy reading.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN