9. Lupa Bawa Baju Ganti

1346 Kata
"Alhamdulillah dia nggak ngikutin aku lagi," ucapku saat berhasil menghindari Gala. Bukan maksud ingin melarikan diri, aku hanya ingin tenang sementara waktu. Aku mau ke makam Mama sendiri tanpa ditemani siapapun. Meskipun, setelah ini aku tau resiko yang akan aku tanggung. Aku yakin Gala nggak akan ngebiarin aku begitu saja. Pasti dia sedang berusaha mencariku. Bodo amatlah, yang penting saat ini aku ingin sendiri dulu. "Terima kasih ya, Pak," ucapku setelah sampai di pemakaman Mama. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Untuk melangkahkan kaki saja rasanya berat sekali. Begitu sampai di pemakaman Mama, rasa bersalah kembali muncul dan air mataku pun tidak bisa ditahan. "Assalamualaikum, Ma ... aku datang, Ma. Maaf aku baru bisa mengunjungi, Mama." Aku berkata dengan suara gemetar. Senyuman Mama selalu membuatku terbayang-bayang sampai saat ini. Begitu juga raut sedih wajah Mama saat aku marahi sebelum meninggal. Mengingat itu membuatku ingin berteriak sekencang-kencangnya. "Mama apa kabar? Pasti Mama sudah bahagia ya disana?" ucapku dengan suara gemetar. Aku berlutut di depan pusara Mama, aku tatap pusara Mama dengan rasa sakit yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata, jemariku gemetar saat ku beranikan diri menyentuh nisan yang dingin. Angin sore berhembus pelan membuat rambutku sedikit berantakan, semakin lama aku tatap rasanya aku ingin selalu ada disini. "Ma ... sampai saat ini penyesalan itu terus saja menghantuiku. Andai aku nggak marah-marah sama Mama waktu itu pasti Mama masih ada di sampingku saat ini," ucapku lirih dan tangisku pun sampai sesenggukan. "Maafkan aku, Ma. Kalau saja waktu itu aku bisa lebih sabar ... kalau saja aku nggak marah sama Mama, aku bisa ikhlas melihat Mama menikah lagi, pasti semua ini nggak akan terjadi." Aku menunduk, meremas tanah di sekitar pusara Mama, seakan ingin menggenggam kembali kehangatan Mama yang sudah hilang. Rasa bersalah itu menekan dadaku, membuat napasku terasa sesak. Cukup lama aku berada di makam Mama. Aku tumpahkan semua isi hatiku, meski aku tahu aku hanya bicara seorang diri. Sampai tiba waktu Maghrib, aku memutuskan untuk pulang. "Aku pulang dulu ya, Ma ... nanti aku kesini lagi," ucapku yang sebenarnya berat meninggalkan makam Mama. Aku memutuskan untuk jalan kaki saja. Aku jalan santai sambil mencari udara segar. Sepanjang jalan banyak motor dan kendaraan lain berlalu lalang, tapi pikiranku entah kemana. Aku terus berjalan, tapi tiba-tiba bayangan Gala kembali menghantui pikiranku. Aku tahu dia pasti sedang mencariku sampai saat ini. Gala selalu punya cara untuk menemukan aku, tapi untuk pulang ke rumah Gala rasanya berat. "Aku mau pulang ke rumah Mama aja deh," ucapku mungkin dengan tidur di rumah bisa mengobati rinduku pada Mama. Lima belas menit lamanya aku berjalan sampai akhirnya aku tiba di rumah. Namun, aku terkejut saat melihat mobil Gala terparkir di depan rumah Mama. Aku pun membuang napas kasar, Gala benar-benar tidak membiarkan aku pergi. "Sudah saya duga kalau kamu akan kesini. Ayo kita pulang sekarang!" titah Gala dengan tatapan tajam dan suara dingin. Aku yang sedang lelah pun tidak menolak ajakan tersebut. Percuma menolak juga karena ujung-ujungnya pasti akan ikut pulang bersamanya. Aku duduk di samping kursi kemudi, karena Gala sendiri yang mengemudikan mobilnya. Sepanjang jalan tidak ada kata yang keluar dari mulut Gala, begitupun denganku yang lebih memilih diam. Sampai akhirnya kami tiba di rumah, Gala langsung menggenggam tanganku erat dan membawaku ke kamar. Aku terkejut saat Gala tiba-tiba membanting pintu kamar. "Begitu cara istri pergi?" tanya Gala dengan suara meninggi. "Saya tahu kamu menikah dengan saya bukan atas dasar cinta! Tapi, tolong ... tolong hormati pernikahan sakral ini, tolong hormati saya sebagai kepala keluarga! Apa pantas seorang istri pergi diam-diam dan memilih menghindari suaminya?" ucap Gala dengan suara meninggi. Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Aku tahu Gala sangat marah atas sikapku tadi. Tapi, aku juga tidak suka dengan sikapnya yang terlalu mengekang ku. "Om tuh sadar nggak sih? Aku ini istri, masa apa-apa harus minta persetujuan Om. Aku tanya setiap aku minta Om selalu setuju nggak? Bahkan, Om selalu mempertimbangkannya! Aku ini cuma ke makam Mama, Om ... tapi, Om marahnya udah kayak singa!" ucapku ketus sambil ku keluarkan semua uneg-uneg di hatiku. "Sekarang kamu mandi!" titah Gala sudah seperti bapak menyuruh anaknya saja. Daripada terus-terusan ribut, aku memilih masuk ke dalam kamar mandi sambil memasang raut wajah kesal pada Gala. Bodohnya aku, aku lupa membawa baju ganti. Mau pakai baju kotor lagi sudah terlanjur basah, alhasil aku cuma bisa mondar-mandir di dalam kamar mandi. "Harin jangan kebiasaan mandi lama!" teriak Gala dari luar, dia memang selalu berisik kalau aku lama-lama di kamar mandi. "Duh gimana ini bodoh banget sih aku. Kalau aku keluar Gala lihat gimana? Aku nggak mau sampai Gala liat," ucapku lirih sambil berpikir keras. "Bodoh-bodoh-bodoh!!! Kamu kenapa bisa bodoh banget sih, Harin!!!" ucapku sambil merutuki kebodohanku sendiri. Pelan-pelan aku melangkahkan kaki mendekat ke arah pintu. Aku menempelkan telingaku ke pintu kamar mandi, supaya bisa tau apakah Gala masih ada di kamar atau sudah keluar. Sayup-sayup aku mendengar langkah Gala mondar-mandir di luar. "Ck, ternyata dia masih di kamar." Menunggu lama-lama di kamar mandi pun terasa dingin. Aku coba dengarkan lagi, karena aku masih berharap salah mendengar. Namun, suara sepatunya beradu dengan lantai, membuat jantungku berdegup semakin cepat. Aku jadi semakin ragu ingin keluar. "Bisa nggak sih dia pergi dulu?" gumamku lirih. "Saya hitung sampai tiga, Harin. Kalau kamu nggak keluar, jangan salahkan saya kalau pintunya saya dobrak!!" Suara Gala terdengar dingin, penuh ancaman membuatku semakin panik. Aku menggigit bibir, menahan rasa panik itu. "Ya Allah, apa aku harus keluar dengan kondisi begini? Aku nggak mau dipermalukan. Tapi kalau aku tetap di sini, Gala bisa makin marah samaku," ucapku dengan memikirkan jalan keluarnya. Takut terjadi apa-apa dengan diriku, tiba-tiba pintu kamar mandi digedor keras. "Harin!" teriaknya membuat tubuhku gemetar. Aku refleks mundur, punggungku menempel ke dinding dingin. Air yang menetes dari rambutku membuat tubuhku menggigil, bukan hanya karena dingin, tapi juga karena ketakutan. Harusnya aku tidak perlu takut, toh Gala adalah suamiku tapi aku belum siap untuk memperlihatkan semuanya sekarang. "Jangan sekarang ... aku mohon jangan sekarang," ucapku lirih. Aku pun berpikir keras sampai akhirnya aku tak sengaja menatap ke arah gantungan handuk. Satu-satunya pilihan hanyalah aku harus memakai handuk tipis itu. Aku pun meraih handuk, membalut tubuhku seadanya, lalu menarik napas panjang. "Harin buka pintunya!" teriak Gala lagi membuatku memejamkan mata sebentar demi mengurangi degup jantung yang berdetak kencang. Akhirnya dengan langkah ragu, aku memberanikan diri membuka pintu sedikit. Gala berdiri di depan pintu dengan wajah merah padam, matanya tajam menusukku. Hingga tiba-tiba Gala menarik tanganku membuat aku mau tak mau keluar. "Kenapa lama sekali, ha?" tanya Gala, aku merasa suaranya saat ini terasa berat. Aku lihat juga jakunnya naik turun. Sejak tadi Gala menatapku dengan tatapan ingin memangsa. Ingin kabur dan segera memakai baju pun tidak bisa lantaran Gala masih menggenggam tanganku erat. "Apa susahnya nurut sama suami?!" bentaknya sambil membuang napas kasar. Aku menunduk, mencoba menahan air mata. "Om ... aku bukan lagi anak kecil yang kemana-mana harus diantar jemput. Aku cuma minta ingin dihargai. Aku cuma ingin bebas kemana-mana tanpa harus merasa diawasi setiap saat," suaraku bergetar, tapi aku berusaha tegas. Gala terdiam sejenak, tatapannya berubah. Ada kilatan ragu di matanya, seolah kata-kataku menusuk hatinya. Namun, gengsi membuatnya tetap berdiri kaku. "Disini kamu bukan lagi seorang gadis yang bebas melakukan apa saja! Saya ini kepala keluarga, Harin. Sebagai seorang istri kamu harus tahu batasanmu," katanya lebih pelan, tapi tetap keras membuat mataku berkaca-kaca. Aku menatapnya, kali ini dengan mata yang penuh perlawanan. "Kalau kepala keluarga artinya mengekang, aku lebih baik jadi istri yang dianggap durhaka." Aku berkata seperti itu dengan napas naik turun. Gala pun terdiam membuat suasana jadi hening. Hanya suara jam dinding yang terdengar. Gala menatapku lama, seolah sedang memikirkan sesuatu. Dan tiba-tiba Gala melangkah mendekat, jarak kami hanya sejengkal. Aku bisa merasakan napasnya yang berat, perlakuan Gala saat ini membuatku terkejut dan reflek membuatku mundur perlahan sampai menabrak dinding samping lemari. "Saya nggak mau kehilangan kamu, Harin," ucapnya lirih, berbeda dari nada sebelumnya. Namun, tetap saja membuatku takut. Aku terdiam, hatiku bergetar. Kata-kata itu seperti pengakuan yang tersembunyi di balik amarahnya. Tapi apakah itu benar-benar cinta, atau hanya obsesi? Mengingat Gala selalu melakukan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN