8. Pernikahan Penuh Aturan

1199 Kata
"Kamu boleh turun!" titah Gala saat mobil yang ditumpangi kami sudah berhenti di depan gerbang kampus. Aku pun langsung membuka pintu mobil, saat aku ingin keluar tiba-tiba Gala menarik tasku. Aku berdecak kesal, karena aku nggak suka selalu diperlakukan seperti ini oleh Gala. Aku pun menepis tangan Gala agar menjauh dari tasku. "Ada apa lagi?" tanyaku ketus. "Sepertinya kamu melupakan sesuatu, sebaiknya kita putar balik saja, Pak!" sahut Gala membuatku terkejut, bagaimana bisa sudah sampai di kampus malah pulang lagi. "Apaan sih Om??? Om tuh kerjaannya selalu buat aku kesal aja!" ucapku dengan mendengus kesal. "Benar-benar tidak ingat?" tanya Gala dingin sambil menatapku tajam. Aku masih bingung mencerna ucapan Gala. Mungkin saking kesalnya Gala menggelengkan kepalanya. Ternyata menikah dengan Om-om seribet itu ya. "Sesederhana ini kamu abaikan?" tanyanya lagi sambil menyodorkan tangannya. Dengan malas dan ragu aku mencium tangan Gala. Setelah itu, aku memilih buru-buru keluar. AC mobil sangat dingin, tapi tidak dengan tubuhku yang tiba-tiba menghangat. "Oh ya, Om ... nanti biar aku pulang sendiri!" ucapku sebelum menutup pintu mobil. Tidak ada sahutan apapun dari Gala, aku lihat mobil Gala masih terparkir rapih di depan gerbang. Sepertinya dia memang belum pergi sebelum aku tidak terlihat lagi dari pandangannya. Aku sendiri memilih berjalan santai menuju kelas, karena hari masih pagi juga. "Anak baru?" tanya laki-laki yang tiba-tiba mensejajarkan aku berjalan. Aku ragu untuk menjawab, karena aku baru pertama kali melihat laki-laki ini. Kemarin saat di kelas tidak ada dia, mungkin dia dari jurusan berbeda atau memang kating. Tanpa aku sadari kalau dari kejauhan ada yang sedang mengamatiku. Karena tidak mengenalnya, aku memilih buru-buru jalannya. Sampai di kelas napasku masih tersengal, untung saja laki-laki tadi tidak mengikuti sampai ke kelas. Aku berharap kuliah kali ini diberi ketenangan setelah hidupku rasanya seperti rollercoaster semenjak kenal dengan Gala. Selama pembelajaran di kampus, aku cenderung diam memperhatikan dosen menjelaskan di depan. Bahkan, saat jam kosong saja aku diajak ke kantin sama teman kelas, aku menolak. Aku lebih banyak duduk di kelas, karena memang aku tidak mau kemana-mana. "Sendirian aja? Nih aku ada minum buat kamu. Pasti kamu hauskan?" tanya laki-laki itu yang tiba-tiba menghampiriku di kelas. Aku terkejut, karena aku pikir dia tidak berani masuk ke dalam kelasku. Tapi, nyatanya dia berani dan memberikanku sebotol mineral. Aku hanya tersenyum sangat tipis sekali. "Terima kasih untuk minumnya, tapi aku bawa dari rumah." Aku berusaha menolak dengan sopan supaya dia tidak tersinggung. Dan benar saja, laki-laki itu pun tersenyum padaku. Dia malah membuka segel botol minum itu lalu meminumnya hingga setengah. Setelah itu, dia menatapku yang aslinya membuatku risih. "Pratama ... kamu panggil aku Tama," ucapnya memperkenalkan diri. Bukan hanya memperkenalkan diri saja, tapi dia juga menyodorkan tangannya untuk kami bersalaman. Aku sendiri hanya menjawab dengan anggukan kepala. Tak banyak bicara sampai kelasku kembali masuk dan dia keluar dari ruang kelasku. "Aneh banget," ucapku lirih. Tujuanku kuliah untuk belajar, kehadiran laki-laki itu untungnya tidak membuat fokus belajarku menurun. Aku simak materi demi materi hari ini sampai akhirnya tiba waktunya pulang. Aku membuang napas berkali-kali saat jam pembelajaran sudah selesai. "Akhirnya pulang juga," ucapku lirih. "Mau pulang bareng nggak?" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah ada di belakangku. Aku lihat laki-laki itu lagi, oh iya namanya Tama. Aku pun bertanya-tanya kenapa Tama senang sekali datang tiba-tiba dan berakhir membuatku terkejut. Tama lalu mensejajarkan langkah kakiku. "Ayo!" ajak Tama langsung menggandeng tanganku membuat aku terkejut. Aku pun buru-buru melepasnya. Agak risih tiba-tiba mendapat perlakuan seperti itu. Ku lihat sikap Tama jadi merasa bersalah begitu. "Oh maaf," ucap Tama lirih. Aku tidak menghiraukan perkataan Tama lagi. Aku memilih berjalan cepat supaya Tama tidak mengikuti aku lagi. Ada-ada saja, baru dua hari kuliah ada aja yang membuatku menarik napas dalam-dalam. Sesampainya di gerbang, aku pikir Gala tidak menjemputku. Ternyata mobilnya sudah terparkir rapi di depan gerbang. Aku pun berjalan cepat menuju mobil Gala, aku nggak mau ada yang sampai curiga denganku. Ceklek! "Lama sekali!" ucap Gala saat aku masuk ke dalam, tapi pandangannya lagi-lagi tidak melihat ke arahku sedikitpun. "Langsung pulang!" titah Gala pada sopir. Aku jadi nggak bisa ngebayangin kalau sampai Gala tau tentang Tama yang berusaha mendekatiku. Duh kalau bisa mah jangan sampai tau ya, bisa-bisa perang dunia ke tiga. Apalagi kalau lagi lihat wajahnya yang tegas begini, nggak bisa ngebayangin kalau sampai dia ngamuk. "Setelah ini istirahat!" ucap Gala saat sudah tiba di rumah. Gala tidak turun, dia melanjutkan perjalanannya entah kemana. Sedangkan, aku turun sendirian. Aku masuk ke dalam rumah, saat masuk tiba-tiba aku merasa sepi. Rumah sebesar ini bagiku terasa sunyi, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Dulu di rumahku kalau Mama pulang duluan, pasti Mama selalu menyambut aku dengan senyuman lebarnya. Bukan cuma itu aja, Mama juga memelukku dengan penuh kehangatan. "Ma, aku kangen ... Mama lagi apa disana? Aku kangen makan masakan Mama, aku kangen cerita sama Mama. Aku kangen semua itu, Ma. Andai aku nggak marah-marah sama Mama pasti sekarang Mama nyambut aku dengan senyuman dan pelukan," ucapku lirih membuat aku tidak tahan dan berakhir air mataku terjatuh. Penyesalan itu terus saja datang kepadaku. Aku sampai tidak sanggup untuk berjalan masuk ke kamar. Di ruang tamu yang sunyi dan sepi, aku menangis seorang diri. Benarkah ketika kita kehilangan orang yang kita sayang semakin lama bukannya semakin hilang malah semakin bertambah rindu? Itu yang aku rasain saat ini. Aku rindu Mama, rindu Mama yang tidak pernah bilang lelah merawatku sampai sebesar ini. Jika bisa aku mau Mama hidup lagi. Aku mau Mama, aku mau hidup sederhana lagi seperti dulu asalkan sama Mama. Lama aku merenung membuatku kepikiran untuk pergi ke makam Mama, mungkin ini salah satu cara supaya rasa kangenku terobati. "Mau kemana, Non?" tanya security yang sedang berjaga. "Saya mau pergi dulu sebentar, Pak." Aku menjawab dengan sopan. Bodyguard itu terus saja memperhatikanku, dia sepertinya tau kalau aku habis menangis. Aku tak mempedulikan tatapannya. Yang aku mau sekarang ini hanya ingin pergi ke makam Mama. "Maaf Bu, tapi Bapak tidak mengizinkan Ibu pergi seorang diri. Jika Ibu mau pergi bisa izin dulu dengan Bapak," ucap bodyguard Gala. Aku berdecak kesal, ingin pergi saja tidak sebebas dulu. Aku tidak suka diperlakukan seperti ini. Apa-apaan Gala mengatur hidupku sampai begini. "Saya sudah izin dengan beliau dan beliau mengizinkan. Kalau Bapak nggak percaya silahkan Bapak hubungi bos Bapak itu," ujarku dengan ketus. Bodyguard dan satpam pun saling menatap. Aku lihat sekeliling untuk mencari celah supaya bisa kabur. Dan benar saja, saat mereka sedang sibuk menghubungi Gala, aku siap-siap kabur. "Ups sory aku pergi dulu! Aku nggak suka hidup penuh aturan begini," ucapku lirih saat berhasil pergi diam-diam dari mereka. Rasanya puas sekali, biar aja mereka yang dimarahin Gala. Salah sendiri ngurung orang udah kayak di penjara aja. Aku pun segera naik ojek online yang sebelumnya sudah aku pesan. Jantungku berdetak kencang saat di jalan dari kejauhan aku melihat mobil Gala sedang melaju. Duh mati aku kalau sampai Gala tau. Aku pura-pura tidak tau dan melihat ke arah lain supaya Gala tidak mengenaliku. "Ada jalan pintas nggak, Bang?" tanyaku saat mobil Gala semakin mendekat. "Ada, bentar lagi belok ya!" sahut Abang ojolnya membuat napasku sedikit lega. Namun, kelegaanku sepertinya hanya sementara aja. Karena, Gala menyadariku mungkin karena aku nggak ganti baju dan masih memakai baju yang sama. Jantungku semakin berdetak saat klakson mobil Gala terus berbunyi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN