7. Rumah Tangga Penuh Keributan

1297 Kata
Aku yang sudah terlanjur kesal sama Gala memilih masuk ke dalam kamar lain. Aku nggak mau tidur satu kamar dengan Om-om itu. Sebenarnya risih, tapi mau bagaimana lagi. "Harin buka pintunya!" teriak Gala dari luar membuat mataku terpejam. Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Baru juga masuk Gala sudah menggedor-gedor pintu kamar. Tau aja lagi aku masuk ke dalam kamar ini. Malas berdebat membuatku mengabaikan ketukan pintu itu. Aku lelah seharian ini, ditambah kesel sama sikap Gala. Baru juga merebahkan tubuh, dari luar susah terdengar suara kunci pintu terbuka. "Ck, benar-benar seperti penjara!" gerutuku kesal. Belum juga sampai satu jam aku di kamar, tapi Gala sudah berhasil membuka pintu. Melihat Gala masuk membuat aku memutar bola mata malas. Apalagi saat lihat Gala, ekspresi wajahnya tidak merasa bersalah sedikit pun. "Pindah!" tegas Gala dengan raut wajah tegas. "Ck, sana kalau mau tidur nggak usah ngajak-ngajakin aku lagi tidur satu kamar sama Om-om kayak kamu! MULAI MALAM INI AKU TIDUR DISINI!" ucapku dengan penuh emosi, segala sesuatu yang berhubungan dengan Gala selalu membuatku merasa kesal. "Jalan sendiri atau saya gendong?" tanya Gala lagi-lagi dia mengancam ku. Aku kesal bukan main, rasanya kepala dia mau aku getok biar nggak marah-marah udah kayak ibu-ibu komplek. Aku menatap Gala dengan tatapan tajam, seolah ingin menusuknya dengan colokkan biar dia sadar. Nafasku lama-lama terasa berat, dadaku jadi naik turun menahan emosi. "Aku nggak mau pindah! Lebih baik Om tidur sendiri sana daripada gangguin orang terus!" jawabku lantang seperti orang yang tidak takut dengan Gala, padahal suaraku terdengar sedikit bergetar karena rasa, kesal, marah dan lelah menjadi satu. Aku kaget tiba-tiba Gala mendekat, tatapannya tajam dan juga terlihat rahangnya mengeras, semakin lama semakin mendekat membuat jarak di antara kami semakin sempit. Aura tegasnya membuat aku merinding, dalam hati aku bertanya-tanya dengan apa yang akan dilakukan Gala selanjutnya. "Aku hitung sampai tiga," ucap Gala dingin, seolah tak peduli dengan perasaanku. Lagi mana peduli dia karena selama ini taunya hanya memaksa saja. Ish pantas usianya sudah tua tapi belum pernah menikah, pasti nggak akan ada yang mau sama dia. Laki-laki suka marah-marah, kang paksa, dan kang ngatur. "Satu ...." Tiba-tiba suara Gala meninggi membuatku terkejut. Aku spontan langsung bangkit dari kasur, sebelum pergi aku menatapnya penuh perlawanan. "Jangan sok berkuasa di sini deh, Om Gala yang terhormat! Aku bukan lagi anak kecil yang bisa seenaknya Om atur!" ucapku ketus dengan sangat kesal. "Semakin kesini aku rasa Om selalu mengendalikan atas diriku. Aku ini sudah besar Om, bukan anak kecil lagi!!! Seharusnya Om itu mengerti! Om juga kan udah lebih dulu ada diposisi aku dan harusnya lebih ngerti dong!" ucapku lagi dengan napas naik turun, aku luapin aja rasa kesalku padanya. Terdengar Gala membuang napas kasar. "Sudah malam ... saya nggak mau berdebat! Sekarang, cepat masuk!" titah Gala karena dari tadi aku hanya berdiri di depan pintu kamar. "MASUK!" titah Gala dengan suara meninggi membuatku terkejut. Seketika tubuhku didorong masuk oleh Gala. Aku pun pasrah mengikuti maunya dia, nggak enak juga tengah malam ribut-ribut. Pasti suara Gala terdengar sampai kamar Bibi. "Siapa suruh kamu tidur disana?" tanya Gala saat aku memilih untuk tidur di sofa. Dengan langkah malas aku mulai naik ke atas ranjang. Sebelum tidur ku tatap wajah Gala dengan tatapan sengit. Kali ini aku lagi-lagi dibuat kesal dengannya, tapi tidak besok ... lihat aja, ada banyak rencana di otakku ini. *** "Harin!!!" teriak Gala pagi-pagi sudah membuat orang terkejut. Aku pun yang sedang di dapur terkejut mendengar suaranya. Tapi, aku tidak menyahuti perkataannya. Biarin aja dia terus teriak-teriak mencariku. Toh nanti dia sendiri yang capek hihihi. "Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?" tanya Gala saat sudah berhasil menemukanku. "Ngampus," sahutku tanpa menoleh ke arahnya. Bekal yang aku siapkan sudah selesai dan saatnya sekarang aku berangkat. Saat aku melewati Gala begitu saja, dia tidak membiarkan aku pergi. Dipegang tanganku lalu mencengkramnya dengan cukup erat. "Tunggu! Berangkat bareng saya!" titah Gala, tapi aku menggelengkan kepalaku. "Berani ngelawan?" tanya Gala semakin kencang mencengkram tanganku membuatku meringis kesakitan. "Duduk dan sarapan dengan benar, saya siap-siap dulu!" ucap Gala tanpa mau mendengarkan jawabanku terlebih dahulu. Apa ini? Apa-apaan Gala ini, ish ... dia benar-benar menjengkelkan. Masa aku makan ditemani bodyguard segala. Menjijikan sekali saking nggak maunya aku pergi duluan dia rela melakukan ini. Aku mendengus kesal dengan sikap Gala yang sangat-sangat posesif ini. Tapi, akhirnya aku duduk di kursi makan. Ku ambil sendok dan garpu, meskipun sendok di tanganku bergetar karena masih terasa sakit di pergelangan tangan yang tadi dicengkram Gala, benar-benar Gala nggak ada habisnya mencengkram tangan aku terus. "Kenapa sih harus ribet banget?!" protesku sambil menatap nasi bersama ayam goreng di piring. Rasanya aku kenyang duluan sebelum makan. Apalagi ada bodyguard di belakangku yang siap siaga menjagaku kalau aku kabur. Bodyguard itu terus saja mengawasiku membuat sarapan pagiku terasa tidak nyaman. Gala pun kembali datang dengan pakaian yang sudah rapi. Dia menyeruput kopinya yang sudah disiapkan oleh Bibi. Mana mau aku melayani Gala dengan menyiapkan segala keperluannya, manja sekali ... aku saja apa-apa sendiri. "Kenapa lihatin saya seperti itu?" tanya Gala tanpa menatapku, tapi dia tau kalau sejak tadi aku menatapnya. Aku mendengus kesal. "Empet lama-lama liat muka Om yang nyebelin itu!" ucapku asal, tapi emang iya aku muak liat sikap dia yang seperti ini. Dia menaruh gelas kopi di depanku dengan suara yanh agak keras. Gala juga menatapku tajam. Rumah tangga macam apa ini tiada hari tanpa ada keributan. "Habiskan sarapanmu setelah itu kita berangkat." Gala berkata seperti itu membuat aku semakin kesal saking kesalnya sendok dan garpu aku buat saling beradu hingga menimbulkan suara yang nyaring. Setelah, selesai sarapan kami pun berangkat. Tumben sekali kali ini yang mengemudikan mobilnya sopir bukan Gala. Mungkin, dia pusing dengan rumah tangga kita yang selalu ribut terus. Selama dalam perjalanan Gala sibuk dengan ponselnya. Sedangkan aku, aku memilih menatap keluar jendela. Pemandangan di luar lebih bagus daripada menatap wajah Gala yang terlihat garang. Lama-lama jenuh juga karena perjalanan pagi ini cukup macet. Banyak orang yang ingin berangkat kerja, kuliah, sekolah, ke pasar. Apalagi ini tahun ajaran baru, yang dimana para orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah. "Om," panggilku saat aku mengingat satu hal. Kemarin aku sudah lelah jadi nggak sempet buat nanya. Dan sekarang, mumpung masih banyak waktu jadinya aku beranikan diri untuk bertanya. Lagi juga bukan bertanya masalah yang serius. "Hmmm," sahut Gala tanpa menatapku karena tatapannya masih fokus dengan ponselnya. "Gracia itu cantik ya," ucapku yang sukses membuat Gala berhenti melakukan pekerjaannya dan menatapku sekilas. Pikirku Gala akan menimpali perkataanku. Tapi, rupanya dia hanya melirik sekilas saja. Karena, setelah itu Gala kembali fokus dengan ponselnya. Aku pun mendengus kesal, tapi aku masih dirundung rasa penasaran. Apalagi melihat tatapan Gracia kemarin. Benar-benar kelihatan sekali dia suka sama Gala. "Om kenapa nggak nikah aja sama Gracia? Dia cantik, wanita berpendidikan dan umurnya juga sama kayak Om. Pastinya dia lebih dewasa daripada aku yang masih anak ingusan ini," ucapku membuat Gala melotot tajam ke arahku. "Fokus kuliahmu saja Harin ... tidak perlu memikirkan hal yang memang tidak seharusnya dipikirkan!" ucap Gala tegas. "Tapi Gracia cantik, Om ... aku rasa Gracia lebih pantes jadi istri Om daripada aku," ucapku lagi tanpa aku tahu kalau diam-diam Gala sedang memendam amarah yang siap meledak. Ku lirik ke arah sopir, ternyata sejak tadi diam-diam dia juga memperhatikan kita. Aku terkejut saat Gala tiba-tiba duduk di dekatku, sangat dekat sekali karena tidak ada lagi jarak. Bertambah kaget saat Gala memegang pinggangku dengan cukup erat. "Om minggir sana!!! Om tuh bau rokok tau nggak!" ucapku gugup karena Gala benar-benar mengunci pergerakkan ku. Gala masih terus memeluk pinggangku dengan cukup kuat. Jantungku jadi berdegup kencang. Apalagi jarak wajah kami yang begitu dekat membuatku semakin tidak nyaman. "Berhenti bicara omong kosong itu kalau kamu terus bicara, siap-siap nanti malem kamu harus melayani saya!" bisik Gala membuat tubuhku menegang seketika, apalagi bisikkan itu bersamaan dengan Gala yang berani mencium pipiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN