"Udah bertapanya?" tanya Gala saat aku keluar dari kamar mandi.
Ini Om-om emang beneran nyebelin banget ya, nggak bisa apa mulutnya diem sebentar. Kalau ada plester rasanya pengen aku plester aja itu mulut. Aku pun malas menanggapi jadinya aku memilih melewati dia begitu aja.
Udah kesel tambah kesel saat lihat Gala terus menatapku. Ish emang bener-bener nggak ada kerjaan ini orang. Tiap hari hobinya selalu lihatin aku aja.
"Mau daftar kuliah apa mau pergi kondangan?" ketus Gala kala aku mau pakai lipstik.
Benar-benar bawel kan Om-om satu ini. Kesel banget aku, akhirnya aku pun tidak jadi memakai lipstik. Emang ga punya suami spek om-om segalanya serba dilarang.
Ku gelengkan kepalaku karena jijik sendiri saat mengingat Gala adalah suamiku. Aneh kenapa dulu Mama bisa suka laki-laki modelan kayak Gala ini. Eh ngomong-ngomong tentang Mama, aku jadi kangen Mama.
"Kenapa?" tanya Gala pasti dia sadar dengan perubahan raut wajahku.
"Jawab!" tegas Gala membuatku tersentak kaget, karena suaranya yang meninggi.
Aku tatap Gala, tatapannya seperti mengintimidasi ku. Aku jadi takut ditatap seperti itu. Tatapannya seolah membuatku segera menjawab pertanyaannya.
"Hanya kangen Mama," ucapku lirih dan sudut mataku basah.
Tuh kan ingat tentang Mama kembali rasa penyesalan itu menghantuiku. Aku jadi kembali merasa bersalah. Mama ... andai kemarin aku nggak mengedepankan emosi, pasti Mama masih ada disini dan kita masih sama-sama.
"Ayo!" ajak Gala dengan menarik tanganku.
Ditarik paksa tanganku membuat mau tak mau aku mengikutinya. Selalu seperti ini, aku pun pasrah karena Gala mengajakku masuk ke dalam mobil. Selama dalam perjalanan pun aku hanya diam dan Gala fokus mengemudikan mobilnya.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang sampai kami tiba di salah satu kampus impianku. Tapi tunggu dulu, dari mana Gala bisa tau kalau aku sangat menginginkan kuliah disini? Apa dulu Mama ada cerita sama Gala kalau aku sempat gagal tes disini?
"Turun!" titah Gala membuatku tersadar dari lamunan.
Aku pun turun dengan rasa tak percaya. Aku masing-masing ingat bagaimana perjuanganku dulu untuk kuliah disini. Dan, hasilnya pun nihil ... tapi sekarang Gala malah membawaku kesini.
"Kamu mau kuliah jurusan bisnis kan? Kita temui rektornya sekarang juga!" ujar Gala membuatku terkejut.
Ini nggak salah langsung temui rektor? Bahkan, dulu aku rela berangkat pagi-pagi sekali saat daftar disini. Aku pun melangkahkan kaki dengan perasaan campur aduk.
"Ini beneran mau ke ruang rektor?" tanyaku dengan suara bisik-bisik.
"Hmmm," sahut Gala dingin.
Entah mengapa aku merasa lihat Gala berbeda di kampus ini. Gala menjadi orang yang lebih dingin. Rahangnya pun mengeras, aku rasa dia seperti dosen-dosen killer.
Setibanya di ruang rektor aku sempat ragu saat ingin masuk ke dalam. Gala pun memaksaku untuk masuk. Ruangan dingin dan sunyi, sampai akhirnya kami disambut oleh laki-laki paruh baya.
"Jangan ditatap seperti itu! Dia takut!" ucap Gala dengan raut wajah datar, bahkan aku saja tidak bisa bedakan mana bercanda dan mana serius.
"Mau kuliah?" tanya laki-laki paruh baya itu yang udah jelas menduduki posisi rektor.
Aku yang ditanya pun bingung mau jawab apa, karena aku kesini dibawa Gala dan selama perjalanan tadi Gala tidak berkata apa-apa. Semuanya serba membuatku terkejut. Entah maksudnya apa, Gala benar-benar membuatku panas dingin ditanya seperti itu.
"Jawab Harin!!!" titah Gala dingin membuatku akhirnya mengangguk ragu.
"Kenapa masih disini? Cepat masuk kelas sana!!" titah laki-laki paruh baya itu dengan suara terkesan marah.
Aku semakin bingung maksudnya gimana. Akhirnya aku beranikan diri menatap Gala, Gala menatapku sambil menyuruhku keluar dengan kode matanya. Kenapa orang-orang nggak bisa bicara gamblang aja sih, jadi kesel kan aku.
"Cepat Harin malah bengong!" titah Gala dingin membuatku pun terkejut dan aku hanya bisa mengangguk bingung.
Daripada terus disuruh keluar, aku pun melangkah kakiku keluar dari ruangan itu dengan langkah penuh ragu. Sekarang aku bingung harus pergi kemana. Kenapa semua ini terlihat mendadak dan mengejutkanku?
Nafasku pun terasa berat, seolah ada beban yang menekan dadaku, eh nggak boleh bilang beban. Rintangan, karena semakin kita bilang beban, semakin berat juga kita melangkah. Aku baru menyadari rupanya mengikuti ku dan Gala berjalan di belakangku, auranya dingin, sama sekali tanpa ekspresi. Tatapan matanya menusuk punggungku, membuatku semakin gelisah, bagaimana nggak gelisah speknya saja sudah seperti dosen killer.
Ternyata lorong kampus tempatku melangka terasa panjang, sunyi, hanya suara langkah kaki kami yang terdengar. Sebenarnya mulutku dari tadi sudah gatal sekali ingin bertanya, ingin tahu maksud semua ini, tapi lidahku kelu. Gala sepertinya memang sengaja membuatku senam jantung dan membiarkan aku dalam kebingungan.
"Aku nggak ngerti, Om. Maksudnya apa sih semua ini? Kenapa semua terlalu mengejutkan buatku?" tanyaku, akhirnya aku memberanikan diri bertanya, meski lirih.
Gala berhenti. Dia menatapku lama, tatapan yang membuatku ingin segera menunduk, tapi ingat ... aku nggak boleh takut sama Gala. Aku pikir Gala mau mengatakan sesuatu ternyata cuma berhenti sesaat terus kembali lagi melangkahkan kakinya.
"Dasar Om-om nyebelin!" gerutuku lirih, pengen aku tarik jasnya saking gemesku pada Gala.
Hampir saja aku ingin mengayunkan tanganku ke punggung Gala karena saat ini dia ada di depanku. Setelah melewati lorong yang sepi, kini aku dan Gala tiba di fakultas bisnis. Disini sangat beda di gedung rektor tadi yang terkesan horor, disini ramai dan banyak mahasiswa-mahasiswi berlalu lalang.
Tiba-tiba, dari kejauhan, seorang perempuan muda muncul, aku rasa usianya nggak beda jauh denganku. Rambutnya terikat rapi, wajahnya ramah, berbeda sekali dengan aura dingin Gala.
"Kamu Harin, kan?" tanyanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk pelan dan bingung. Rasanya berada disini seperti mimpi. Perempuan muda itu pun kembali tersenyum ramah padaku.
"Kenalin aku Gracia, aku dosen pembimbing jurusan bisnis. Rektor sudah bilang kamu akan masuk kelas hari ini." Namanya Gracia, sepanjang dia memperkenalkan diri dia selalu saja melirik Gala.
Perasaanku mengatakan tidak enak, tapi otakku sedang tidak bisa berpikir keras. Hari ini semuanya serba tiba-tiba jadi membuatku seperti orang linglung. Aku pun hanya mengangguk saja.
Aku menoleh ke Gala, aku lihat matanya masih menatapku, namun kali ini lebih tenang. Seolah semua ini sudah direncanakan jauh sebelum aku tahu. Sebesar itukah rasa peduli Gala terhadapku? Intinya sekarang apapun yang Gala perlakukan aku nggak boleh terbawa suasana.
"Ayo aku tunjukan kelas kamu, Gala ... aku bawa Harin ke kelas ya!" ucap Gracia lembut dengan mata yang masih terus tertuju pada Gala.
Gala sendiri menanggapinya tidak terlalu berlebihan. Dia hanya mengangguk sambil terus menatapku. Aku tak peduli karena aku terus melangkah mengikuti Gracia.
"Adiknya Gala?" tanya Gracia, aku pikir dia tau statusku dengan Gala.
Rupanya dia belum tau. Aku pun hanya mengangguk saja, sudah tau juga arah bicaranya mau kemana. Dan, aku pun malas menanggapinya.
***
Hari ini adalah hari yang cukup membuat tenagaku terkuras habis. Belum lagi Gala yang meninggalkanku di kampus. Aku pikir Gala akan menungguku, tapi ternyata dia meninggalkanku dan berakhir aku pulang dengan taksi online.
"Awas aja ... aku bales perbuatan Om hari ini," ucapku dalam hati.
Sesampainya di rumah sudah menjelang Maghrib, tadi aku kejebak macet di jalan. Alhasil sekarang baru sampai rumah. Ku lihat mobil Gala sudah di rumah, aku yang lelah pun memutuskan untuk masuk ke dalam.
Aku benar-benar lelah, saking lelahnya aku membanting pintu lebih keras dari biasanya. Gala yang sedang duduk santai di ruang tamu sambil memainkan ponselnya langsung menoleh, karena kaget.
"Kenapa Om ninggalin aku di kampus, hah?!" suaraku meninggi, penuh amarah yang tak bisa lagi ditahan.
Salah siapa pergi tanpa pamit dan pesan. Dia kira aku nggak akan bisa marah kali. Nyatanya dia salah, emosiku langsung meledak begitu melihat wajahnya.
Gala yang tak mau kalah pun berdiri, wajahnya tetap dingin. "Ada urusan mendadak." Gala berkata seolah tanpa beban.
"Urusan mendadak?! Urusan mendadak mana yang lebih penting?!" Aku pun mendekat, jarak kami hanya beberapa langkah.
Ku tatap Gala dengan tatapan sengit. Napasku memburu, harusnya hari ini aku berterima kasih dengan Gala karena berkat dia, aku bisa kuliah di kampus yang aku inginkan. Tapi, melihat wajah Gala membuatku semakin dipenuhi amarah.
"Halah ... nggak usah banyak alasan deh Om! Bilang aja Om ini emang pengen ngerjain aku, kan? tau nggak?" bentak ku tanpa memberikan waktu Gala untuk membela diri.
Suasana terlihat semakin memanas. Kata-kataku keluar seperti peluru, dan Gala hanya menatapku dengan tatapan yang membuat darahku semakin mendidih. Bagaimana nggak mendidih orang sejak tadi diam saja.
Aku bisa saja terus berteriak, melampiaskan semua sakit hati. Tapi tiba-tiba aku berhenti. Nafasku berat, mataku menatapnya tajam. Senyum tipis muncul di bibirku, senyum yang bukan lagi marah, melainkan ancaman.
"Awas aja, Om ... malam ini aku mau tidur sendiri!!" ucapku tegas, lalu aku pergi berlalu meninggalkan Gala yang masih diam saja sejak tadi.