"Dimana aku?" tanyaku panik, saat aku terbangun aku terkejut melihat sekeliling ruangan yang sangat asing bagiku.
"Tenang, kamu bukan sedang diculik ... kamu sedang di rumah suamimu sendiri, jadi nggak perlu takut!" sahut Gala yang ternyata ikut tidur di sampingku.
Aku terkejut sampai aku lompat dari atas ranjang. Panik bukan main, seketika aku melihat tubuhku. Aku cek kondisiku sendiri, karena takut Gala berbuat nekat.
"Kenapa?" tanya Gala mengerutkan dahinya ketika melihatku memeriksa tubuhku sendiri.
Hingga aku melihat senyum tipis terbit di wajah Gala. "Kenapa panik seperti itu? Takut saya apa-apain kamu, hmmm? INGAT KITA INI SUDAH SAH SUAMI ISTRI." Gala berkata dengan lembut membuat tubuhku bergidik ngeri.
"Siapa suruh kita satu kamar? Aku nggak mau kita satu kamar!" tegasku membuat Gala terkekeh lucu.
"Kamu ini lucu sekali ya ... wajarlah kita satu kamar karena kita ini suami istri!" ucap Gala tak kalah tegas.
Udara yang terasa sejuk seketika terasa panas. Aku tak menyangka kalau sekarang aku sudah menjadi istri dari Gala. Aku pikir tadi aku hanya mimpi buruk saja, tapi rupanya semua ini benar-benar nyata.
Aku pun melangkahkan kakiku keluar kamar. Tiba-tiba aku merasa haus dan ingin sekali minum. Namun baru juga beberapa langkah, Gala kembali bersuara.
"Mau kemana?" tanyanya padaku membuat langkah kakiku terhenti.
"Haus," jawabku singkat tanpa menoleh.
"Biar aku saja yang ambil!" kata Gala lalu bangkit dari tidurnya dan keluar kamar, meninggalkan aku sendiri di kamar.
Tak lama Gala datang kembali dengan membawa segelas air putih. Dia langsung memberikannya padaku. Aku langsung saja menghabiskan satu gelas minum itu sampai habis tidak tersisa.
"Hmm ... sekarang kita sudah sah menjadi suami istri, tolong kamu hargai saya sebagai suami kamu." Gala berkata dengan suara lirih, setiap kali Gala berkata suami istri membuatku geli.
Sampai saat ini pun aku masih berharap kalau kami memang bukan pasangan suami istri. Namun, mendengar perkataan Gala yang terus berulang membuatku akhirnya tersadar. Aku pun diam dengan keadaan belum menerima sepenuh hati.
"Aku ingin melanjutkan pendidikanku," ucapku dengan menatap Gala.
"Ya," jawab Gala singkat membuatku dirundung rasa curiga.
Aku tau Gala ini orangnya sangat-sangat ambisius. Aku tau jawaban Gala barusan tidak sepenuhnya benar-benar mengizinkanku untuk kuliah. Aku yakin diam-diam dia memiliki maksud tertentu.
"Om nggak sedang bercanda kan?" tanyaku memastikan.
Aku semakin bertambah curiga saat melihat Gala tersenyum tipis. Tuh kan firasatku benar. Fix pasti ada udang dibalik batu dengan jawaban "iya nya."
"Kamu lihat wajah saya sedang bercanda?" sahut Gala dengan menaik turunkan alisnya.
Tuh kan semakin dibuat penasaran saja aku sama Gala ini. Apalagi melihat wajahnya yang nggak meyakinkan itu. Tuh kan tiba-tiba aja Gala mendekatiku.
Semakin Gala mendekat semakin pula aku mundur perlahan. Sampai-sampai aku tersudut di dinding dekat lemari. Tempatku berdiri saat ini membuatku tersudut, semakin tersudut karena Gala sudah berada di hadapanku.
"Saya tidak akan menghalangi cita-cita kamu. Tapi, tolong jangan lupakan status kamu saat ini. Kamu adalah seorang istri bukan anak gadis lagi yang bisa melakukan segala hal dengan sesuka hati," ucap Gala lirih tapi setiap katanya penuh penekanan.
Kata-kata Gala barusan membuat dadaku sesak. Lagi-lagi Gala membahas soal kebebasan. Aku pun mengepalkan kedua tanganku, rasanya ingin sekali memukul kepala Gala.
"Aku tidak pernah mau semua ini terjadi padaku!" ucapku dengan suara gemetar.
Galak kembali tersenyum dan berkata kepadaku. "Hidup memang tidak selalu menuruti apa keinginan kita. Anggap saja ini sudah menjadi takdirmu dan kamu harus menerima itu semua."
"Kamu boleh melanjutkan pendidikanmu, tapi jangan berharap kamu bisa lari dari pernikahan ini!" imbuhnya lagi lalu pergi meninggalkanku.
Gala keluar dari kamar, aku tatap punggung Gala yang semakin menjauh. Kepergian Gala membuatku akhirnya bisa bernapas lega. Namun, tidak dengan hatiku.
Hari sudah malam, aku sampai tidak tahu berapa lama aku pingsan. Aku pun duduk kembali di atas ranjang. Tidak tidur, perkataan Gala tadi membuatku terus kepikiran.
Hingga malam semakin larut dan Gala pun kembali ke kamar. Aku pikir kita benar-benar pisah kamar, tapi nyatanya Gala tidak mau. Melihat Gala mendekat membuatku memalingkan wajahku.
"Sudah malam, lebih baik kamu tidur lagi! Besok saya antar kamu daftar ke kampus!" ucap Gala sambil menaiki ranjang.
Jantungku berdetak begitu kencang, jujur aku takut kalau Gala akan meminta haknya. Aku belum siap! Mungkin, tidak akan pernah siap. Aku tidak rela tubuhku disentuh oleh Gala.
"Tidur!" ucap Gala lagi dengan paksaan.
Sikap Gala yang seperti ini membuatku berdecak kesal. "Om tuh bisa nggak sih sehari aja nggak usah jadi kang paksa. Hidupnya otoriter banget nih!" gerutuku yang sudah pasti terdengar jelas di telinga Gala.
"Tidur sendiri atau mau saya tidurin?" ucap Gala membuat tubuhku bergidik ngeri.
Buru-buru aku merebahkan tubuhku di ranjang yang sama dengan Gala. Tapi, aku tetap menjaga jarak aman dengannya. Ku pakai guling untuk batas kami tidur, aku nggak mau dekat-dekat dengannya apalagi sampai bersentuhan.
Tanpa aku tahu di belakangku Gala menggelengkan kepalanya. Karena, posisiku saat ini aku membelakangi Gala. Aku tidur benar-benar sangat mepet ke pinggir.
Tidur satu ranjang dengannya membuatku tidak bisa langsung tidur. Aku selalu merasa was-was kalau tiba-tiba Gala menerkamku. Sampai akhirnya aku mendengar suara dengkuran halus, aku yakin Gala sudah tertidur.
***
"Kenapa belum siap-siap juga?" tanya Gala dengan memakai pakaian rapi, sedangkan aku baru saja bangun tidur.
Entah aku tertidur jam berapa, tau-tau sudah pagi. Dan, saat aku terbangun Gala sudah tidak ada di sampingku. Aku lirik jam ternyata sudah jam delapan pagi.
"Mandi sendiri atau dimandiin?" tanya Gala membuatku bergidik ngeri.
"Apa sih? Kenapa pikiran Om-om tuh selalu m***m?" sahutku membuat Gala menatapku tajam.
Buru-buru aku pergi ke kamar mandi daripada Gala mandiin aku. Nggak Sudi rasanya tubuhku dilihat oleh Gala. Sampai di kamar mandi bukannya langsung mandi malah duduk dulu sambil melamun.
"Kenapa hidupku jadi seperti ini? Setia hari dibuat senam jantung terus sama Gala itu?" gumamku lirih.
Rasanya aku pengen healing tanpa ada Gala. Ingin bebas dari Gala, satu hari saja. Tapi, sepertinya itu hanya angan-angan ku saja.
Mana mungkin Gala mengizinkanku pergi sendirian. Ini saja mau daftar harus ditemani sama dia. Memangnya aku ini anak kecil yang apa-apa harus ditemani.
"KAMU MANDI APA BERTAPA?" Suara Gala mengejutkanku membuat aku tersadar dari lamunanku.
"Sepuluh menit nggak keluar berarti nggak usah kuliah!" tegas Gala membuatku buru-buru mandi.
"Dasar Om-om bawel!" gerutuku kesal.