"Kamu udah dengarkan apa pesan mama itu sebelum meninggal?" tanya Gala yang sore itu datang ke rumahku.
Aku sedang duduk melamun di depan teras rumah. Rasanya aku masih belum percaya kalau Mams pergi secepat itu. Detik demi detik berlalu, bukannya lupa. Aku malah teringat terus dengan Mama.
"HEI ... SAYA SEDANG BICARA!" ucap Gala dengan suara meninggi, aku menoleh sebentar dan setelah itu memilih menghindar.
"Harin!" panggil Gala yang semakin mendekatiku.
"Apa sih, Om? Lihatlah kuburan Mamaku belum juga kering! Om itu nggak manusiawi sekali jadi orang!" ucapku lalu berlalu meninggalkan Gala.
Namun, baru saja aku melangkahkan kaki sebanyak dua langkah. Tiba-tiba tanganku digenggam erat oleh Gala. Aku pun terkejut dan berusaha untuk bisa melepaskannya.
"Kita kabulkan permintaan terakhir Mamamu sekarang juga!" tegas Gala membuat mataku melotot.
Tidak sempat menghindar, lantaran Gala langsung membopong tubuh kecilku. Dia membawaku pergi keluar rumah. Aku berusaha melepaskan diri, namun pegangan Gala begitu kuat, bahkan tenagaku saja tak sanggup melawannya.
"Om!" teriakku berharap Gala akan melepaskan ku.
Namun, semakin aku meronta semakin membuat Gala berbuat nekat. Akhirnya, aku pun pasrah saat Gala membawaku pergi. Di dalam mobil, aku langsung saja memukul d**a Gala karena saking kesalnya.
"Kenapa Om seperti itu, ha? Om tahu nggak Om ini sedang melakukan pemaksaan!! Aku ini bukan b***k, Om!! Jadi, tolong hormati aku juga meskipun usia kita selisih sangat jauh!" ucapku panjang lebar, tapi Gala membalas dengan terkekeh.
Memang sudah gila Gala ini. Melihat dia terkekeh membuatku semakin muak. Laki-laki pemaksaan yang baru pertama kali aku temui.
"Kita nikah sekarang juga!" ucap Gala dingin, namun dengan penuh penekanan.
Mataku langsung membelalak mendengar kata-kata itu. Nikah? Sekarang? Rasanya jantungku berhenti berdetak sejenak. Udara di dalam mobil pun tiba-tiba membuat sesak.
Semudah itu kah mengambil keputusan untuk menikah?
Kenapa akhirnya harus berakhir tragis?
Aku benci semuanya!!! Aku benci!
Aku pun menatap Gala dengan tatapan tajam. "Apa?! Om sudah gila, ya?!" suaraku bergetar, antara marah dan takut.
"Mama memang berpesan sesuatu sebelum meninggal, tapi bukan begini caranya!" imbuhku semakin kesal.
"Tolong berhentikan mobilnya!!! Aku mau pulang!" teriakku sambil berusaha membuka pintu dan kunci mobil, namun usahaku sia-sia, yang ada tenagaku malah habis.
Aku melihat Gala menoleh sekilas, tatapannya tajam, dingin, seolah tak peduli dengan protes ku. Mobil melaju semakin cepat, membuatku semakin panik. Aku ingin melompat, tapi aku belum mau mati sia-sia.
Aku diam sambil menatap Gala dengan tatapan penuh kebencian. Namun, semakin aku tatap, Gala semakin menjadi, dia menatapku dengan tatapan menjijikan. Apa-apaan ini, aku muak rasanya, bahkan jika bisa aku ingin muntah di hadapannya.
Saat napasku masih memburu, aku mendengar helaan napas pelan dari Gala. Namun wajahku berpaling, aku enggan menatap Gala lama-lama.
"Saya tidak peduli kamu mau atau tidak menikah dengan saya, Harin!!! Saya menikahimu karena permintaan terakhir Mamamu. Coba kamu pikirkan kalau Mamamu nggak akan tenang disana selama kamu belum menikah dengan saya!" ucap Gala datar.
"Kamu ingatkan dengan pesan terakhir Mamamu yang meminta saya untuk menjagamu dan menikahimu. Itu yang dia minta." Gala kembali berkata membuatku memejamkan mata.
Aku tercekat dengan perkataan Gala. Jujur sampai saat ini aku masih nggak percaya dengan kata-kata Mama seperti petir yang menyambar di siang bolong. Aku masih ingin mengejar mimpiku, bahkan Mama tau. Tapi, kenapa Mama malah menjodohkanku dengan calon suaminya yang modelan seperti Gala.
"Aku tidak percaya! Bahkan, sampai sekarang aku masih menyangka kalau Mama hanya ngelindur bicara seperti itu! Dan kamu, jangan harap aku mau menikah dengan Om-om sepertimu!" teriakku, air mataku terus mengalir tanpa bisa kutahan, wajahku pun sudah sembab, mataku juga merah, rasanya lelah.
Rasa penyesalanku masih terus menghantuiku sampai saat ini. Ditambah beban permintaan Mama yang menginginkanku menikah dengan Gala. Aku lelah, sungguh sangat lelah. Kepalaku pun sangat sakit karena sudah terlalu lama menangis.
"Aku tidak suka dipaksa! Aku mau hidup berdasarkan dengan impianku. Bukan aturan yang seperti Om katakan!" ketusku dengan jengkel.
"Apakah kamu mau selalu terbayang-bayang dengan permintaan terakhir Mamamu? Itu artinya kamu bukan anak yang berbakti! Kamu hanya seorang anak yang bisanya hanya bisa menyusahkan orang tua tanpa tau arti BALAS BUDI!" tegas Gala dengan penuh penekanan membuatku semakin tertekan dengan kata-kata Gala.
Aku menundukkan kepala, membayangkan wajah Mama yang sedih karena aku. Dalam hatiku aku masih bisa berpikir, pintar sekali Gala mencari kelemahanku. Dia benar-benar menekanku dan membuat mentalku down.
Aku sempat terdiam cukup lama. Aku terus berpikir tentang keputusan apa yang akan aku ambil selanjutnya. Sampai dimana, aku menatap Gala dengan tatapan berani.
Namun, sebelum mengatakan sesuatu lebih dulu aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Berharap keputusanku kali ini adalah keputusan yang benar. Meskipun, aku masih ragu untuk menjalankan kehidupan selanjutnya.
"Baik aku mau menikah dengan Om," ucapku tegas dan sangat singkat.
Aku lihat Gala terkejut dengan kata-kataku barusan. Mungkin, dia tidak menyangka kalau pada akhirnya aku mau menikah dengannya. Belum tau aja di kepalaku isinya banyak rencana.
"Benarkah?" tanya Gala masih belum percaya dengan perkataanku barusan.
"Ya," jawabku singkat tanpa keraguan sedikitpun, padahal tadi aku menentang keras ajakannya. Biarlah dia berpikir aku ini orang yang plin-plan.
Aku tak peduli itu, aku ingin hidupku tenang. Aku juga nggak mau selalu terbayang-bayang wajah Mama yang sedih. Mama sudah bahagia di surga, sudah bertemu dengan cinta sejatinya.
"Mari kita lakukan pernikahan ini sekarang," kata Gala yang sepatunya tidak mau menunggu lebih lama lagi.
Gala pun menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam mobilnya. Entah dia mau bawaku kemana. Aku hanya ikut saja karena semakin lama kepalaku semakin sakit.
Saking sakitnya membuat aku ketiduran. Padahal satu mobil dengan Gala membuatku malas. Laki-laki pemaksa yang selalu memaksakan kehendaknya.
"Bangun!" ucap Gala sambil mengguncang tubuhku.
Kulihat samar-samar Gala mendengus, lalu menepikan mobil di sebuah halaman luas yang asing bagiku. Aku pun membuka mataku perlahan. Aku melihat di sana sudah berdiri seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian jas formal dengan memakai kopyah, pakaiannya seperti penghulu.
Tadi saja so-soan berani, tapi sesampainya disini tiba-tiba tubuhku gemetar. Aku berusaha mundur, tapi Gala menggenggam tanganku lebih erat. Ini kah yang dimakan menjilat ludah sendiri? Sampai panas dingin aku dibuatnya.
"Kamu sudah memutuskannya tadi! Dan, sekarang kamu harus menuruti kata-kataku saya. Jangan coba-coba melawan saya, Harin!" Gala berkata dengan suara tegas.
Lagi-lagi aku menatap Gala dengan penuh kebencian. Aku kesal, tapi ini semua sudah menjadi keputusanku. Mau mundur pun aku yakin Gala tidak akan melepaskan aku begitu saja.
"Hais ... kenapa sekarang aku jadi bimbang seperti ini?" gerutuku dalam hati.
Raut wajah Gala berubah mengeras saat aku tak kunjung melangkahkan kakiku. Sampai dimana, tiba-tiba aku merasa tubuhku melayang. Gala membopongku bagaikan karung beras, benar-benar pemaksaan bukan?
"Turunkan aku!!! Aku tidak akan menikah dengan cara ini! Tolong jangan paksa aku!" ucapku lantang, suaraku bergetar namun penuh tekad.
Gala terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. Tidak lama, karena Gala kembali melanjutkan langkah kakinya. Hingga aku lelah dan tubuhku semakin melemah.
Yang tadinya aku memberontak sekarang tidak lagi. Aku hanya diam sambil menahan rasa sakit ku. Hingga kami tiba di sebuah ruangan yang ku lihat sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya.
Ruangan yang ditata rapi, tidak ada kemewahan seperti orang nikah pada umumnya. Bahkan, orang-orang yang menyaksikan pernikahanku hanya sedikit. Entah mengapa aku jadi curiga kalau aku ini dijadikan istri kedua Gala, secara Gala ini seumuran dengan Mama.
Terpaut usia jauh tidak salahkan aku berpikir seperti ini? Kelamaan berpikir membuatku tidak sadar kalau di hadapanku saat ini sudah ada seseorang berpakaian rapi. Seketika jantungku berdetak kencang?
"Bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan!" gumamku, tapi hanya dalam hati.
"Ini bukan pernikahan impianku!" Batinku terus berisik.
Sampai suara lantang Gala yang mengucapkan ijab Qabul tidak ku dengar. Sampai kata SAH yang akhirnya membuatku tersadar. Bahkan, aku bengong dan linglung saat penghulu mengucapkan selamat padaku, serta menyuruhku mencium tangan Gala.
"Selamat ya kalian sudah sah sebagai pasangan suami istri. Mbak Harin boleh untuk mencium tangan Pak Gala," ucap penghulu yang menikahkan ku dengan Gala.
Seketika tatapanku memburam, aku melihat banyak bayangan berputar. Bahkan, semakin cepat sampai aku tak bisa lagi melihat dengan jelas. Sampai dimana penglihatan ku semakin gelap dan aku tak tau lagi gimana kelanjutannya.