3. Permintaan Terakhir Mama

1314 Kata
"Bagaimana daftar kuliahnya kemarin?" tanya Mama, tumben pagi-pagi sudah menghampiriku dengan sedikit kelembutan. "Harin, Mama tau kamu ...." "Apa sih, Ma? Kalau Mama mau bahas si Gala-Gala itu mending pergi aja deh! Ganggu orang lagi sarapan tau nggak!" ucapku dengan suara ketus memotong perkataan Mama yang belum selesai. Ku dengar Mama menghela napas panjang. "Maafkan Mama, Nak ... semoga lambat laun kamu akan mengerti," ucap Mama dengan suara sangat pelan. "Mengerti apa? Mengerti Mama menikah lagi dengan laki-laki mata keranjang kayak Gala itu?" bentakku membuat Mama terkejut, sudah terlanjur marah. Suaraku pun tidak bisa lembut lagi. "Apa Nama pikir Gala itu laki-laki baik? Enggak, Ma!!! Dia cuma manfaatin Mama. Dia itu mata keranjang, Mama aja yang mau dibodohin dengan si Gala itu," ketusku lalu berlalu meninggalkan Mama. Tanpa aku tau kalau di belakangku Mama memegangi dadanya yang mungkin terasa sesak. "Ha-harin," ucap Mama lirih. Bruk!!! Aku menoleh melihat Mama yang sudah terjatuh di lantai. Buru-buru aku berlari menghampiri Mama. Aku lihat Mama sudah tidak sadarkan diri, jelas aku panik sampai aku bingung harus berbuat apa dulu. Sampai akhirnya aku langsung berlutut di samping Mama, mengguncang tubuhnya dengan panik. "Ma! Mama! Bangun, Ma!" suaraku bergetar, hampir pecah. Tanganku gemetar mencoba meraba denyut nadi di pergelangan tangannya. Ada, tapi lemah sekali. Air mataku mulai jatuh tanpa bisa kutahan. Semua kata-kata kasar yang baru saja keluar dari mulutku berputar di kepalaku, menusuk seperti pisau. Andai akan jadi seperti ini, aku tidak akan berkata kasar lagi pada Mama. Aku buru-buru meraih ponsel di meja, jari-jariku bergetar saat menekan nomor darurat. "Halo! Tolong! Mama saya jatuh, dia nggak sadarkan diri! Cepat datang ke rumah saya!" Suaraku gemetar, dalam hatiku berharap Mama segera mendapat pertolongan. Sambil menunggu, aku mencoba melakukan apa yang pernah kulihat di video pertolongan pertama. Kuangkat kepala Mama sedikit, memastikan jalannya napas tidak terhalang. Namun, Mama belum juga sadar hingga akhirnya aku memutuskan untuk menunggu ambulans. "Ma, jangan tinggalin aku ... Mama harus kuat, ya," bisikku dengan suara serak. Detik demi detik terasa seperti jam. Suara sirene ambulans akhirnya terdengar mendekat, membuatku sedikit lega. Petugas medis bergegas masuk, memeriksa Mama dengan cepat. "Beliau kena serangan jantung ringan, harus segera dibawa ke rumah sakit," ucap salah satu paramedis. Aku hanya bisa mengangguk, wajahku pucat. Saat mereka mengangkat Mama ke tandu, aku menggenggam tangannya erat. "Ma, aku janji ... aku nggak akan ngomong kasar lagi. Aku akan jaga Mama. Tolong bertahan, Ma!" pintaku lirih. Aku pun mengikuti di belakang dengan langkah gontai. Tatapanku terlihat kosong, kini penyesalan yang aku rasakan. Ambulans pun berjalan melaju kencang, sementara aku duduk di samping Mama, hatiku penuh rasa bersalah dan takut kehilangan. Sesampainya di rumah sakit, aku harus menunggu di ruang tunggu rumah sakit. Aku duduk dengan wajah pucat. Kedua tanganku saling menggenggam erat hingga buku-buku jariku memutih. "Ya Allah selamatkan Mama," bisikku lirih. Suara mesin monitor dari ruang ICU terdengar samar, menusuk telingaku seperti pengingat kejam. Mama terbaring di dalam sana, kritis, sementara kata-kata kasarku tadi masih bergema di kepalaku. Tadi petugas media bilang Mama kena serangan jantung ringan, tapi sesampainya di rumah sakit, Mama dinyatakan kritis dan harus dirawat di ruang ICU. "Kenapa aku ngomong begitu? Kenapa aku tega bentak Mama? Kalau saja aku bisa tarik kembali semua kata-kata itu ...." Rasanya aku nggak kuat melanjutkan kata-kataku. Air mataku jatuh tanpa henti. Setiap detik terasa seperti hukuman. Aku merasa seolah-olah aku sendiri yang mendorong Mama ke ambang bahaya, aku benar-benar menyesali perbuatanku. "Mama cuma ingin bicara ... cuma ingin aku mengerti. Tapi aku malah menutup telinga, menutup hati. Aku yang bikin Mama sakit hati. Aku yang bikin Mama jatuh ...." Ah lagi-lagi aku nggak sanggup melanjutkannya, semakin terus diingat semakin sakit aku merasa. Rasa bersalah itu menyesakkan d**a, membuat detak jantungku terus berdetak kencang. Aku ingin masuk ke ruangan Mama, mau bilang bahwa aku menyesal, bahwa aku sebenarnya sayang Mama lebih dari apapun. Tapi tubuh Mama yang lemah di balik kaca membuatku hanya bisa menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Ma ... jangan pergi. Aku janji nggak akan kasar lagi. Aku janji akan dengar Mama, akan jaga Mama. Tolong bertahan, Ma ...." Aku berkata dengan suara lirih, berharap Mama segera sadar. Aku menunduk, wajahku tertutup kedua tanganku. Penyesalan itu begitu dalam, seperti jurang yang tak ada dasarnya. Aku sadar, kalau sampai Mama benar-benar pergi, luka itu tak akan pernah sembuh. Lagi dan lagi pikiranku terlalu jauh. Aku takut Mama pergi meninggalkanku. Aku takut kehilangan Mama. Aku berdiri kaku di depan pintu ICU. Jantungku berdegup kencang, seolah menolak kenyataan yang ada di balik kaca bening itu. Dengan langkah gemetar, aku akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam, mendekati ranjang tempat Mama yang terbaring lemah, wajahnya pucat, napasnya ditopang oleh alat medis. "Ma ..." Suaraku pecah, lirih, penuh rasa bersalah. Aku menggenggam tangan Mama yang dingin, air mataku jatuh tanpa henti. "Maafkan aku ... aku nggak seharusnya ngomong kasar. Aku sayang Mama ... lebih dari apapun," imbuhku lagi. Kelopak mata Mama bergerak perlahan, membuka dengan susah payah. Senyum tipis muncul, meski tubuhnya tampak berjuang keras. Aku genggam terus tangan Mama, genggamannya begitu kencang, aku takut sekali. "Ha-rin," bisik Mama pelan dengan suara terbata. "I-iya, Ma ... aku disini. Aku minta maaf sama Mama, aku janji nggak akan bentak-bentak Mama seperti tadi. Mama cepat sehat ya," ucapku dengan air mata yang terus mengalir. Mama hanya tersenyum saja padaku. Wajahnya pucat, tapi tidak terlihat seperti orang sakit. Sampai dimana, Mama membalas genggaman tanganku. "Mama cuma ingin kamu bahagia, Sayang. Mama ingin ada yang jaga kamu." Mama berkata seperti itu membuat perasaanku tiba-tiba tidak enak. Aku buru-buru menggeleng cepat, aku bertambah panik. "Jangan ngomong begitu, Ma. Mama yang harus tetap ada buat aku. Aku nggak butuh siapa-siapa, aku cuma butuh Mama." Aku berkata dengan suara gemetar. Kulihat Mama menghela napas berat, matanya berkaca-kaca. "Nak, kalau Mama nggak ada ... biarkan Mas Gala jadi orang yang menjaga kamu. Mama mau lihat kamu bahagia Mama hanya ingin kamu menikah dengannya." Deg! Bagaimana disambar petir perkataan Mama barusan. Kata-kata itu menghantam seperti palu. Aku terdiam, tubuhku pun kaku, hatiku ingin berontak. Gala adalah sosok yang aku sangat benci, yang aku anggap mata keranjang, pembohong. Tapi, saat ini aku di hadapkan dengan keadaan Mama yang sekarat memohon dengan sisa tenaga terakhir. "Ma jangan bicara seperti itu, jangan minta itu! Aku nggak bisa," ucapnya dengan suara bergetar, antara marah dan putus asa. Mama menatapku dengan mata penuh harap, meski redup. "Harin, kamu harus janji ya demi Mama!" pinta Mama dengan suara semakin lirih. Air mataku semakin deras. Aku merasa terjebak antara kebencian pada Gala dan cinta yang tak terbatas pada Mama. Aku tahu, mungkin ini permintaan terakhir sebelum Mama benar-benar pergi. "Nak," panggil Mama membuat mataku terpejam. Karena, ini adalah keputusan yang sangat berat. "Ma, Mama boleh minta apapun itu. Tapi, jangan suruh aku menikah dengan Om Gala. Mimpiku masih panjang, Ma. Aku mau bahagiakan Mama dengan caraku sendiri," ucapku dengan penuh memohon. "Sayang, tolong percaya sama Mama kalau ini yang terbaik untuk kamu," ucap Mama membuat air mataku tidak bisa berhenti. Dengan suara serak, akul akhirnya berbisik, "Baik, Ma ... kalau itu yang Mama mau." Aku berkata dengan suara lesu tak bersemangat. Namun, berbeda dengan Mama. Senyum tipis kembali muncul di wajah Mama, lalu perlahan matanya terpejam. Monitor di samping ranjang berbunyi pelan, tanda kondisi semakin kritis. Aku mengguncang tangan Mama karena panik. "Ma! Jangan pergi! Aku sudah janji! Aku akan lakukan apapun yang Mama mau! Tolong bertahan!" teriakku tak terima dengan segala keadaan yang terjadi pada Mama. Namun tubuh Mama semakin lemah, dan aku hanya bisa menangis, menatap wajah perempuan yang selama ini menjadi duniaku. Aku pun diminta oleh suster untuk menunggu di depan. "Sebaiknya Mbak menunggu di depan untuk kelancaran dokter memeriksa pasien," ucap Suster sopan. Tubuhku semakin limbung seperti orang mabuk saat melihat dokter memasangkan alat medis. Saat jantung Mama dipompa supaya berdetak. Saat ini, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain berharap Mama segera sadar. "Mama ...." Teriakku saat dokter menggelengkan kepalanya dan monitor berbunyi nyaring.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN