"Pagi," sapa Gala pagi-pagi sekali.
Terlihat senyum manis di wajah Gala, tapi aku tidak tertarik. Aku hanya meliriknya sekilas lalu aku bersiap untuk pergi. Namun, Gala memegang lenganku dengan cukup kencang.
"Mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Gala serius, seperti seseorang yang tak rela melihat pasangannya pergi.
"Bukan urusan anda!" sahutku dengan ketus dan aku berusaha melepaskan tanganku yang dipegang Gala.
"Galak banget sih," ucap Gala lirih, namun terdengar jelas di telingaku.
"Lepasin!!! Jadi orang nggak sopan banget sih pegang-pegang tangan orang sembarangan!" gerutuku, tapi tanganku sampai saat ini belum juga dilepaskan oleh Gala.
Gala seperti sengaja sekali membuat aku kesal. Aku heran apa sih maunya dia. Niat dia kesini kan ketemu Mama, tapi kenapa malah aku yang selalu ditatapnya dan sekarang berani sekali menyentuhku.
Tiba-tiba Gala mencondongkan wajahnya ke telingaku. Aku berusaha menghindar, namun semakin aku menghindar Gala semakin erat memegang tanganku. Tubuhku dibuat merinding saat hembusan napas Gala mengenai rambutku.
"Bagaimana kalau kita saja yang menikah?" ucap Gala dengan berbisik di telingaku membuat mataku melotot.
"Jangan macem-macem ya!!! Aku teriak sekarang juga kalau Om nggak lepasin aku!" ucapku penuh penekanan.
Mendengar bisikan itu membuat tubuhku bergidik ngeri. Bisa-bisanya Gala mengatakan itu di rumahku dimana ada Mama meskipun Mama di dalam. Semakin jijik saja tanganku disentuh Gala, aku pun berusaha menepis dengan cukup kencang dan akhirnya tanganku berhasil bebas dari genggaman tangan Gala.
"Jangan pernah sakiti Mamaku! Sudah baik aku merestui Om dengan Mama!" ucapku lagi dengan tatapan semakin muak.
Gala malah tersenyum tipis. "Tapi, yang saya mau itu kamu ... bukan Mamamu," ucap Gala membuat darahku mendidih.
Aku menatap Gala dengan sorot mata penuh amarah. Nafasku terasa berat, d**a berdegup kencang. Kata-katanya barusan seperti racun yang merembes ke dalam pikiranku.
Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Padahal yang di dekatinya itu Mama. Aku pun semakin geram dengannya, jika bisa aku ingin menghajar Gala saat ini juga.
"Jangan pernah mimpi kalau aku ini mau jadi istri Om-om seperti anda!!! Aku nggak pernah mau jadi mainan Om!" suaraku meninggi, hampir seperti teriakan.
"Kalau Om masih berani ngomong begitu, aku nggak segan-segan bilang ke Mama sekarang juga!" imbuhku dengan mengancam Gala.
Gala hanya berdiri tegak, senyumnya tak kunjung hilang. Senyum yang membuatku semakin muak. Dia melangkah setengah maju, seolah ingin mendekat lagi. Aku spontan mundur, menjaga jarak.
"Kenapa harus marah? Saya serius," ucapnya tenang, seakan-akan kata-kata menjijikannya tadi adalah hal biasa.
Aku mengepalkan tangan, berusaha menahan diri agar tidak meledak. "Serius? Om pikir aku bisa terima omongan gila itu?!" tanyaku dengan penuh amarah.
Suasana pagi yang tadinya tenang berubah mencekam. Burung-burung yang tadi berkicau di halaman seakan lenyap, digantikan oleh ketegangan yang menggantung di udara. Pertemuan kami pagi ini begitu panas, padahal matahari belum terlalu tinggi.
"Lihat saja, kalau sampai itu terjadi ... kamu harus menuruti semua perintah saya," ucap Gala dengan penuh ancaman.
Saat aku ingin membalas perkataan Gala, aku seperti mendengar suara Mama. Tiba-tiba terdengar suara langkah dari dalam rumah. Mama keluar dengan wajah heran, menatap kami berdua. "Ada apa ribut-ribut pagi-pagi begini? Loh Mas Gala, kapan datangnya kok nggak ngabarin dulu" tanya Mama pada Gala.
Eh apa-apaan ini, tiba-tiba Mama langsung memeluk Gala begitu mesra. Ish menjijikan sekali. Mataku sudah ternodai pagi-pagi begini.
"Kamu belum berangkat, Sayang?" tanya Mama dengan tubuh yang menempel pada Gala, benar-benar semakin menjijikan.
Aku segera menoleh ke Mama, wajahku masih merah karena emosi. "Ma, Om Gala ...."
Belum selesai aku bicara, Gala cepat-cepat memotong, suaranya terdengar manis dan penuh kepura-puraan. "Kami cuma bercanda, Sayang. Anak kamu ini galak sekali kalau digoda."
Om Gala benar-benar manipulatif. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada Mama. Aku kesal, bisa kali satu tonjokan mendarat di wajahnya itu.
Mama tersenyum tipis, tidak menyadari ketegangan yang baru saja terjadi. "Ah, kalian ini ... jangan ribut-ribut. Sebentar lagi kita akan tinggal bersama kan, yaudah mumpung kamu disini, ayo sarapan dulu."
Mama pun menarik tangan Gala agar mau sarapan dengannya. Sementara, tatapan Gala masih saja menatapnya. Sepertinya Gala memang sudah benar-benar gila.
Aku menatap Gala dengan tatapan tajam, penuh peringatan. Dalam hati aku bersumpah, kalau Gala berani lagi melewati batas, aku tidak akan tinggal diam. Saking kesalnya aku sampai memberikan jari tengahku pada dia.
Gala hanya menatap balik, seolah menikmati saat melihatku. Senyumnya tipis, matanya berkilat penuh maksud tersembunyi. Senyuman yang terlihat tidak tulus.
Mama sudah masuk kembali ke dalam rumah bersama Gala, meninggalkanku di teras dengan d**a yang masih bergemuruh. Nafasku masih tersengal, seolah baru saja berlari jauh. Aku menatap pintu rumah yang tertutup, seakan-akan di balik sana ada rahasia besar yang siap meledak kapan saja.
"Dasar laki-laki gila manipulatif! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu sama Mama!" ucapku kesal.
Aku berjalan mondar-mandir di halaman, mencoba menenangkan diri. Namun, bayangan wajah Gala yang tersenyum penuh tipu daya terus menghantui pikiranku. Kata-katanya tadi masih terngiang jelas. “Yang saya mau itu kamu ... bukan Mamamu.”
Kata-kata itu membuatku terus terbayang-bayang. Gala sudah keterlaluan, dia seperti mempermainkan hubungannya dengan Mama. Aku jadi nggak tega melihat Mama terluka nantinya kalau sampai tau.
Aku menggenggam ponsel di saku. Ada dorongan kuat untuk segera menelpon seseorang, mungkin Tante, atau sahabatku untuk menceritakan semua ini. Tapi aku tahu, kalau aku gegabah, Mama bisa saja marah dan menganggap aku berlebihan. Gala terlalu pandai bersandiwara.
"Awas aja kalau sampai membuat Mama sakit hati, kamu akan berurusan denganku Gala!" ucapku penuh amarah.
Tak lama kemudian, suara tawa Mama terdengar dari dalam rumah. Tawa yang biasanya menenangkan, kini terasa seperti pisau yang menusuk. Aku tahu Mama sedang tertawa bersama Gala. Aku mendengarnya pun semakin muak.
"Kalau bukan karena terpaksa aku nggak akan masuk ke dalam rumah ini lagi," gerutuku kesal.
Aku masuk perlahan, langkahku ringan agar tidak menarik perhatian. Dari balik pintu, aku melihat Mama dan Gala duduk bersebelahan di meja makan. Mama tampak bahagia, sementara Gala sesekali melirik ke arahku dengan senyum penuh arti. Senyum itu membuat darahku mendidih lagi.
“Ma, aku berangkat sekarang,” ucapku singkat, berusaha menahan nada emosiku.
Mama menoleh, wajahnya penuh kasih. “Hati-hati ya, Nak. Jangan lupa makan siang.” Tumben sekali Mama perhatian padaku.
Aku mengangguk, lalu menatap Gala dengan sorot mata tajam. Gala hanya mengangkat alis, seolah menantang ku. Aku pun memilih menatap ke arah lain.
Saat aku melangkah keluar, Gala tiba-tiba bersuara, cukup keras agar terdengar oleh Mama. “Nanti sore saya jemput kamu pulang, ya. Biar kita bisa ngobrol lebih banyak.”
Aku berhenti seketika, menoleh dengan tatapan membunuh. “Tidak usah repot. Saya bisa pulang sendiri,” jawabku dingin.
Mama tersenyum, tidak menyadari ketegangan yang terselubung. “Wah, bagus sekali kalau Mas Gala mau antar. Selain ada yang jagain Harin, kalian memang harus dekat. Apalagi sebentar lagi Om Gala ini kan jadi papamu, Nak.” Mama berkata seolah tidak mempunyai beban.
Aku ingin berteriak, ingin mengatakan semuanya pada Mama. Tapi lidahku kelu. Gala terlalu lihai memainkan peran.
Aku keluar dengan langkah cepat, meninggalkan rumah. Namun dalam hati aku bersumpah, ini tidak bisa dibiarkan. Gala sudah melewati batas. Kalau dia benar-benar berani mendekat lagi, aku akan mencari cara untuk membuka kedoknya di depan Mama.
Di jalan, aku merasakan campuran rasa takut dan marah. Gala bukan sekadar menjijikkan, namun dia berbahaya. Senyumnya, tatapannya, kata-katanya semua seperti racun yang perlahan menyusup ke dalam hidupku.
Aku terus melangkah menjauh dari rumah. Langkahku terhenti ketika ponsel di saku bergetar. Sebuah pesan masuk. Aku membuka layar, dan jantungku seakan berhenti berdetak.
“Harin, jangan coba-coba melawan. Aku tahu semua rahasiamu.”
Pesan itu dikirim dari nomor tak dikenal. Namun, aku tahu persis siapa pengirimnya. Siapa lagi kalau bukan dia?
Gala.
Tanganku bergetar, mataku menyapu sekeliling jalan yang tiba-tiba sepi. Aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasi ku. Apakah dia sedang mengawasi dari kejauhan?
Aku menggenggam ponsel erat-erat, napas tersengal. Untuk pertama kalinya, aku sadar kalau ini bukan sekadar ancaman. Ini adalah sebuah paksaan yang membuatku semakin merasa tidak nyaman.
"Apa aku bilang aja kelakuan Gala ke Mama, biar Mama yang berikan dia tindakan tegas, syukur-syukur dia tidak jadi menikah dengan Mama!" ucapku lirih dengan memikirkan banyak rencana.