Bab 24

1288 Kata

Malam ini, angin dingin berhembus dari celah celah ventilasi udara rumah kami, membuat udara dingin terasa mengigit kulit. Andi makin mengeratkan pelukannya ke tubuhku. Sejak kami merebahkan diri di atas dipan bambu usai makan malam, tangannya sudah merayap ke pinggangku. Awalnya kupikir hanya usapan biasa, seperti malam-malam sebelumnya. Tapi kali ini berbeda. Tangannya lebih hangat, lebih penuh hasrat, lebih... mendesak. "Sayang," bisiknya di telingaku. "Hm?" gumamku tanpa menoleh. Posisiku masih memunggungi, sementara dia masih memelukku dari belakang. "Dingin..." Bisiknya lagi. Aku langsung terkesiap. 'apa ini sebuah kode kalau dia lagi kepengen?' "Aku ingin kamu..." Aku menoleh. Di tengah cahaya lampu minyak yang redup, kulihat matanya menyala. Bukan hanya hasrat biasa, tapi s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN