Bab. 1
Namaku Munaroh.
Orang orang biasa memanggil ku dengan sebutan Mak Iroh.
Umurku belum bisa dikategorikan sebagai Lansia, karena usiaku sekarang masih 40 tahun awal. Tubuhku masih sintal dan padat dengan bagian bawah yang berlekuk indah mirip gitar spanyol.
Tapi sayang, keindahan ragawi ini seolah sia sia karena nyatanya aku cuma seorang janda sebatang kara yang ditinggal mati suami lebih dari 8 tahun lalu. Tak ada suami. Tak ada buah hati yang menemani hari hariku yang semakin menua. Vonis mandul delapan tahun silam telah membuat hidupku hancur dan sejak saat itu aku pasrah menjalani hari hariku sendirian, menempati sebuah rumah yang rasanya terlalu besar untuk diriku sendiri.
Rumahku, sebuah rumah panggung kayu sederhana berusia puluhan tahun, berdiri terpencil di tepi hutan, jauh dari keramaian rumah rumah warga lainnya.
Jarak terdekat ke rumah tetangga sekitar satu kilometer.
Dulu, almarhum suamiku, Pak Dar, yang memilih lokasi ini karena dia adalah seorang pencari madu hutan dan pengrajin kayu.
“Di sini kita tenang, Iroh. Kita bisa bercocok tanam, memelihara ayam, hidup tentram, dan jauh dari hiruk pikuk tetangga” katanya waktu itu.
Tentram memang, sampai maut menjemputnya delapan tahun silam, menyisakan aku dan kesunyian yang makin menjadi-jadi. Kini, ketenangan itu seringkali berubah menjadi kesepian yang kian menusuk.
****
Pagi ini aku melakukan aktivitas seperti biasa.
Usai bangun tidur, aku langsung menyalakan kompor minyak tanah untuk memasak air dan membuat sarapan nasi goreng sederhana dari sisa nasi semalam.
setelah sarapan seadanya, aku memikul sebuah ember besar berisi pakaian kotor.
Tujuanku adalah sungai kecil di lembah di belakang rumah, berjarak kira-kira lima puluh meter melewati jalan setapak ladang sayuran dan kebun singkong milikku
Matahari belum sepenuhnya muncul, langit baru berwarna jingga lembut di ufuk timur. Embun pagi membasahi rumput dan membuat jalannya licin. Aku berjalan dengan langkah pasti, nafasku mengeluarkan kabut putih tipis. Suara gemericik air sudah terdengar sebelum sungai terlihat.
Sungai itu bukan sungai besar, lebarnya hanya sekitar empat meter, airnya jernih kebiruan mengalir di antara bebatuan besar dan akar-akar pohon yang menjulur. Tempat ini adalah salah satu teman setiaku. Di sini, aku mencuci, mandi, kadang memancing, atau hanya duduk mendengarkan celoteh air yang tak pernah berhenti bercerita.
Aku menurunkan ember di sebuah batu datar yang biasa aku gunakan sebagai landasan cuci. Ritual pun dimulai. Membasahi, menggosok dengan sabun kelapa buatanku sendiri, memukul-mukul pakaian di batu, membilas, dan mengangkatnya. Suara pukulan itu berirama, memecah kesunyian pagi. Pikiranku, seperti biasa, mengembara. Mengenai Pak Dar, mengenai kehidupan yang seharusnya, mengenai hari-hari yang terasa panjang dan hampa. Tiba-tiba, dari sudut mataku, sesuatu terlihat aneh.
Sekitar lima belas meter di hilir, di antara rumpun semak dan batu-batu besar yang menghalangi aliran, ada sebuah benda yang tak biasa. Bukan kayu apung, bukan kantung plastik yang terombang-ambing. Bentuknya… seperti manusia!
Dadaku berdebar kencang.
"Jangan-jangan… itu mayat? Korban pembunuhan yang dibuang? Atau... jangan-jangan orang hanyut dari hulu? Ah tapi mana mungkin? sungai ini kan enggak terlalu besar? ih, serem!" gumamku, bermonolog pada diri sendiri sambil bergidik ngeri membayangkan kemungkinan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Rasa takut mencengkeram tengkukku. Instingku berteriak untuk segera lari, pulang, dan melupakan apa yang kulihat pagi ini. Tetapi kaki ini bagai tertanam. Pikiranku masih berputar tentang kemungkinan lain.
"Bagaimana jika dia masih hidup?"
Matahari semakin tinggi, menerangi sisi bentuk itu. Aku melihat kain berwarna terang, seperti kemeja putih dan celana jeans biru.
Perlahan, dengan hati berdebar-debar, aku memberanikan diri beranjak dari tempat cuci ku. Tanganku menggenggam erat batang kayu yang biasa ku gunakan untuk mengaduk cucian.
Satu langkah, dua langkah. Aku mendekat, hati-hati, siap lari setiap saat jika terjadi hal hal yang tak diinginkan. Saat jarak sudah cukup dekat, nafasku tertahan.
Ternyata dugaan ku benar. Itu tubuh seorang lelaki. Posisinya Terlentang, tersangkut di antara dua batu besar, separuh tubuhnya terendam air yang mengalir tenang di sekitar itu. Wajahnya terbalik ke langit, pucat pasi dengan mata terpejam. Rambutnya yang hitam basah menempel di kening dan pipinya. Dia terlihat muda, mungkin akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan. Tubuhnya atletis, terlihat dari bahunya yang bidang dan lengan yang berotot meski dalam keadaan lemas. Kemeja putihnya sobek-sobek di beberapa bagian, terutama di sekitar d**a, di mana kain itu ada noda merah kecokelatan. Noda darah!
Celana jeansnya juga koyak di beberapa tempat.
Yang paling mencemaskan adalah luka di dahinya, sebuah luka menganga yang sudah tidak berdarah lagi. Mungkin akibat benturan dengan batu batuan selama tubuhnya hanyut, sebelum akhirnya tersangkut di sini.
"Astaghfirullah... laki-laki yang malang," gumamku merasakan bulu kudukku merinding.
Sesaat aku berdiri diam. Terjebak antara rasa ngeri dan iba. Aku hampir memastikan ini adalah mayat. Tetapi, entah mengapa, aku tidak bisa begitu saja pergi.
Akhirnya, dengan tangan gemetar, aku membungkuk, mendekatkan wajahku ke wajahnya. Ku pandangi dadanya. Ya Tuhan… ada gerakan naik turun yang sangat-sangat lemah.
Dia masih bernapas! Dia masih hidup!
bersambung