Bab. 2

1048 Kata
“Hey… Mas, bangun! Bisa dengar suaraku?” bisikku dengan suara serak, hampir tak terdengar. Kulepaskan kayu dan kusentuh bahunya dengan ujung jari. Dingin. Kuguncang perlahan. Tidak ada respon sama sekali. Nadinya, saat kucari di lehernya, berdenyut sangat lemah. Kepanikan melanda. Apa yang harus kulakukan? Berlari ke kampung terdekat meminta bantuan? Butuh waktu hampir sejam bolak-balik. Lelaki ini mungkin tidak akan bertahan lebih lama. Dia harus mendapatkan pertolongan segera! Rumahku lebih dekat, tetapi aku sendirian. Bagaimana caraku membawa tubuh sebesar ini? Dia pasti berat. Namun, sesuatu dalam diriku—mungkin naluri kemanusiaan—membuat aku ingin melakukan sesuatu yang berarti yang mendesakku untuk bertindak cepat. Aku tidak bisa meninggalkannya mati di sini. Mataku melirik ke gerobak sorong kayu kecil milikku yang biasa kupakai mengangkut kayu bakar atau hasil kebun. Gerobak itu ada di gubuk kecil dekat sungai. Itu mungkin ini satu-satunya cara. Dengan sekuat tenaga, aku menarik tubuh lelaki misterius itu keluar dari sela-sela batu. Air membuatnya sedikit lebih ringan digeser, tetapi tetap saja dia sangat berat. Nafasku tersengal-sengal, keringat bercucuran meski pagi masih dingin. Akhirnya, berhasil juga aku menyeretnya ke tepi sungai yang berumput. Aku berlari mengambil gerobak, lalu dengan susah payah ku dorong, kuangkat, dan tarik... lalu aku berhasil membaringkannya di atas papan gerobak. Kepalanya terkulai lemah. Aku menata posisinya sebaik mungkin, lalu memikul ujung gerobak dan mulai mendorongnya menuju rumah. Perjalanan lima puluh meter itu terasa seperti lima kilometer. Setiap lubang di jalan setapak, setiap tanjakan kecil, adalah sebuah pertarungan. Otot-otot lenganku berteriak, punggungku sakit, tetapi aku terus mendorong. Pikiranku kalut. Siapa dia? Mengapa terluka parah? Apakah dia penjahat? Korban kejahatan? 'Astaga Iroh! Kamu baru saja membawa seorang asing yang mungkin saja dia berbahaya?!' Apakah tindakanku membawanya ke rumahku yang terpencil sudah benar? Tetapi melihat wajahnya yang pucat tak berdaya, rasa takut itu sedikit terdesak oleh rasa kemanusiaan! Sesampainya di rumah, memindahkannya ke dalam menjadi tantangan baru. Aku harus menariknya pelan-pelan, satu anak tangga demi satu anak tangga, dengan tali dan kain sebagai peluncur. Setelah usaha yang nyaris mustahil, akhirnya tubuhnya terbaring di lantai ruang tengah rumahku yang sederhana. Aku tak punya waktu untuk beristirahat. Setiap detik sangat berharga untuk menyelamatkan nyawanya. Aku mengambil air hangat, kain lap bersih, kotak obat seadanya, dan beberapa ramuan herbal warisan ibuku untuk mengobati luka terbuka. Pertama, ku gunting kemejanya yang sudah compang-camping. Dadaku sesak melihat luka di sana—sebuah sayatan panjang sekitar sepuluh sentimeter di d**a kiri atas, dekat bahu. Lukanya dalam dan tampak kotor. Untungnya, sepertinya tidak mengenai organ vital karena perdarahannya sudah melambat. Luka di kepalanya juga serius, benjolan besar dan lecet yang menganga. Dengan hati-hati, aku membersihkan kedua luka dengan air hangat dan antiseptik. Ku usapkan daun sirih dan kunyit yang sudah dihaluskan, lalu membalutnya dengan kain kasa bersih untuk lukanya. Untuk lukanya di kepala, ku gunakan minyak kelapa dan ramuan lain untuk mencegah infeksi. Seluruh proses ini kulakukan dengan konsentrasi penuh, tangan yang tadinya gemetar menjadi stabil karena fokus. Aku seperti kembali ke masa lalu, merawat Pak Dar yang sedang sakit, meski kali ini adalah orang asing. Setelah luka dibalut, aku mengganti pakaiannya dengan piyama lama Pak Dar yang masih kusimpan rapi. Aku terkejut melihat betapa pas ukurannya, meski si lelaki ini sedikit lebih berotot. Kemudian, aku menyelimutinya dengan selimut tebal dan menaruh bantal di kepalanya. Barulah setelah semuanya selesai, kelelahan fisik dan mental menghantam ku. Aku limbung, duduk di lantai di sampingnya, memandangi wajahnya yang masih pucat namun sudah tampak lebih nyaman. Dalam keadaan tenang seperti ini, aku bisa melihat dengan jelas betapa tampannya dia. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, alisnya hitam dan tebal. Bibirnya yang tipis terbuka sedikit, mengeluarkan napas pelan. Dia seperti pangeran dalam dongeng yang terkena kutukan, terbaring tak berdaya. Malam pun tiba. Aku menyalakan lampu minyak, karena listrik tidak sampai ke rumahku. Aku duduk di sampingnya, sesekali memeriksa suhu tubuhnya dan memberinya air minum setetes demi setetes dengan sendok. Pikiranku dipenuhi pertanyaan. Aku berdoa dalam hati, memohon agar dia selamat. Kehadirannya, meski dalam keadaan tak sadar, tiba-tiba membuat rumah ini terasa berbeda. Tidak lagi sunyi yang menghujam, tetapi sunyi yang ditemani oleh napas orang lain. Dan kemudian, saat bulan sudah tinggi di langit, matanya berkedip. Aku menahan napas. Matanya perlahan terbuka. Mata itu berwarna cokelat tua, keruh dan penuh kebingungan. Dia memandang ke sekeliling, lalu menatapku. Tidak ada kilatan pengenalan, tidak ada rasa takut, hanya kekosongan yang sangat dalam. “Di… di mana ini?” suaranya parau dan berat, nyaris tak terdengar. “Ini rumahku. Aku menemukanmu di sungai,” jawabku pelan. Dia mengerutkan kening, seolah mencoba mengingat sesuatu. “Sungai?” Tatapannya kosong. “Aku… siapa aku?” Jantungku berdebar kencang. “Kamu tidak ingat namamu?” Dia menggeleng perlahan, wajahnya menyeringai kesakitan saat menggerakkan kepala. “Tidak… sakit. Kepalaku sakit. Semuanya… kosong.” Dia mencoba untuk duduk, tetapi ku tahan dia kembali. “Jangan dulu banyak gerak. Kamu terluka parah.” Dia menatapku lagi, matanya seperti anak kecil yang tersesat. “Kamu… siapa?” “Aku Munaroh. orang orang memanggilku Mak Iroh.” “Mak Iroh…” ucapnya, mencoba mencerna. Lalu, sekali lagi, dia bertanya dengan suara penuh kebingungan yang memilukan, “Dan aku… siapa?” Aku terdiam, memandanginya. Cahaya lampu minyak menari-nari di wajahnya yang tampan dan tak bersalah. Semua rencanaku untuk menyerahkannya ke pihak berwajib atau mencari keluarganya seakan menguap. Di hadapanku bukan lagi seorang lelaki asing yang misterius, tetapi seorang manusia yang hilang ingatan, terluka, dan sepenuhnya bergantung pada kebaikan hatiku—sebuah kebaikan yang sudah lama tidak aku gunakan. Bingung. Itulah yang kurasakan. Bingung dan… sebuah perasaan aneh yang sudah lama tidak kukenal: rasa memiliki, tanggung jawab, dan secercah harapan bahwa mungkin, kesepian ini untuk sesaat akan terisi. “Kamu…” kataku akhirnya, mengambil napas dalam. “Untuk sementara, kamu adalah tamuku. Istirahatlah dulu. Kita akan cari tahu siapa kamu besok, sekarang tidurlah.” Dia mengangguk lemah, lalu menutup matanya, seolah kata-kataku adalah satu-satunya pegangan di dunianya yang gelap dan kosong. Dan aku, Mak Iroh, seorang janda mandul berusia empat puluh tahun yang hidup sebatang kara, tiba-tiba memiliki seorang pria tak bernama yang terluka terbaring di ruang tengah rumahku. Lika-liku hidup, ternyata, tidak pernah berhenti mengaduk-aduk takdir, bahkan di usia senja yang kukira akan dilalui dengan monoton. Malam itu, sunyi rumahku tidak lagi mutlak. Ia dipecah oleh napasnya yang berat, dan oleh sebuah pertanyaan besar ... Apa yang akan terjadi esok? Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN