Bab 3

936 Kata
Aku menatap wajah lelaki muda dan asing yang tertidur lelap di bawah cahaya lampu minyak yang temaram. Napasnya sudah lebih teratur, meski sesekali dia mengerang pelan karena kesakitan dalam tidurnya. Aku tak tahu namanya. Dia juga lupa namanya sendiri. Dalam beberapa saat, aku memikirkan satu nama yang cocok untuknya. Andi. Nama itu tiba tiba aja terngiang di kepalaku. Nama itu kupilih karena terdengar sederhana, akrab, dan mudah diingat. Andi. Tamuku yang hilang ingatan. Sepanjang malam aku tak bisa memejamkan mata. Pikiran kalut bergumul antara rasa khawatir, tanggung jawab, dan getaran aneh yang kurasakan setiap kali mataku tertuju padanya. Delapan tahun hidup dalam kesendirian, tiba-tiba alur hidupku berubah dengan kehadiran seorang lelaki asing. Rumah kayu ini, yang biasanya hanya bergema dengan derit papan dan desis angin, kini dipenuhi oleh suara napasnya yang berat. Aku merasa seperti mimpi. 'Siapa dia sebenarnya? Dari mana asalnya? Kenapa dia hanyut di sungai dalam keadaan penuh luka?' *** Tak terasa, pagi tiba dengan semburat jingga yang menyusup lewat celah-celah jendela. Aku sudah bangun lebih awal, menyiapkan air hangat dan bubur nasi sederhana. Andi masih terlelap. Ku dekati pelan, ku periksa balutan lukanya. Tidak ada tanda infeksi. Kulitnya hangat, tidak demam. "Syukurlah,,, keadaannya normal" gumamku. Saat ku sentuh dahinya untuk memeriksa suhu, matanya terbuka perlahan. Mata cokelat tua itu masih keruh, tetapi sedikit lebih jernih daripada kemarin. "Mak Iroh?" suaranya parau. "Iya, Andi. Bagaimana perasaanmu?" tanyaku, mencoba terdengar tenang. Aku tersenyum hangat menyambut kebangkitannya. "Andi?" dia mengernyit, penuh tanya. "Kamu tidak ingat namamu, kan? Jadi, untuk sementara, aku memanggilmu Andi saja. Tidak apa apa , kan?" Dia memandangku sekilas, lalu mengangguk lemah. "Andi... Hmm... baiklah." Sebuah senyum tipis, polos, muncul di bibirnya. Senyum itu menusuk jantungku. Begitu tulus, seperti balita tak berdosa. "Lapar," katanya kemudian. Ku bantu dia duduk dengan bantal menyangga punggungnya. Aku menyuapinya bubur nasi hangat dengan lauk tempe goreng. Dia makan dengan lahap, meski gerakannya kaku dan tangannya gemetar. Aku harus memegangi mangkuknya. Dalam keadaan ini, dia benar-benar bergantung sepenuhnya padaku. Sebuah perasaan aneh mengalir dalam d**a. Rasa dibutuhkan. Sudah bertahun-tahun tidak ada yang bergantung padaku seperti ini. Sepanjang hari itu, aku merawatnya dengan saksama. Mengganti balutan luka, memberinya ramuan herbal, dan menemani dia berbicara. Percakapan kami awalnya sederhana. Dia tidak ingat apa-apa...tidak ingat nama, tidak tahu asal muasal, tidak tahu bagaimana dia bisa terluka lalu tersangkut di sungai. Yang dia ingat hanyalah rasa sakit dan kekosongan. Terkadang, dia memandang sekeliling ruangan dengan tatapan bingung, seolah mencoba mengenali sesuatu yang tidak pernah ada dalam ingatannya. "Sungai... di mana sungai itu?" tanyanya suatu ketika, saat aku duduk menjahit baju di sampingnya. "Di belakang rumah. Tempat aku menemukan kamu." "Bisa... bisa aku melihatnya?" pintanya, polos. "Nanti, ya. setelah lukamu sembuh." Dia mengangguk patuh. Patuh seperti balita. Tapi tubuhnya adalah tubuh lelaki dewasa, atletis, dengan bahu bidang dan otot otot yang terlihat jelas meski sedang lemah. Kontras antara ketidakberdayaan mental dan keperkasaan fisiknya membuatku sering kehilangan fokus. Hari-hari berlalu. Tiga hari sejak kejadian itu, lukanya menunjukkan kemajuan pesat. Andi sudah bisa berjalan pelan-pelan, meski masih limbung. Keterikatannya padaku makin jelas. Dia selalu mencari keberadaan ku, matanya mengikuti setiap gerakku. Aku menjadi pusat dunianya yang kini kosong. Dan aku... aku mulai menikmati peran ini. Kesepian yang tadinya seperti kabut tebal perlahan tersibak oleh kehadirannya. --- Di hari kelima. Pagi yang cerah. Badanku terasa lengket setelah semalaman tidur tidak nyenyak. Pikiranku dipenuhi oleh bayangan Andi, oleh kebutuhan fisik yang sudah lama ku bungkam, tetapi kini bergolak kembali. Kebutuhan manusiawi yang membuatku gelisah. "Aku akan mandi di sungai, Andi. Kamu istirahat saja di sini ya," kataku setelah kami sarapan. Dia mengangguk, tetapi matanya melirik ke arah pintu, penuh rasa ingin tahu. "Sungai itu... Apa jauh?" "Enggak terlalu jauh. Dari sini cukup jalan sekitar lima puluh meter." Tanpa sadar, suaraku terdengar bergetar. "Nanti, kalau sudah kuat, aku akan ajak kamu kesana." Aku memikul ember kecil berisi sabun dan handuk, meninggalkannya sendirian di rumah dengan perasaan campur aduk. Jalan setapak menuju sungai terasa berbeda pagi ini. Setiap langkahku diiringi oleh desahan napas sendiri yang berat. Pikiran-pikiran terlarang tiba tiba merayap masuk. Bayangan tubuh polos Andi yang ku ganti bajunya beberapa hari lalu. Otot perutnya yang kencang, d**a bidangnya, garis pinggang yang tegas juga ... Aset miliknya yang besar. Delapan tahun. Delapan tahun sejak terakhir kali aku disentuh, dilihat, diinginkan oleh mendiang suamiku. Perasaan liar itu seolah tumbuh kembali. Sampai di sungai, kulepaskan ember. Suasana sepi seperti biasa. Hanya suara gemericik air dan kicau burung yang terdengar. Ku pandangi air yang jernih kebiruan, memantulkan langit dan pepohonan. Tempat ini adalah saksi bisu kesendirianku selama bertahun-tahun. Tapi pagi ini, aku ingin dia menjadi saksi lain. Saksi kebangkitanku sebagai perempuan. Dengan tangan gemetar, kulepaskan ikat rambut. Rambut hitam bergelombang ku turun menyentuh bahu. Ku singsingkan sarung dan kebayaku, satu per satu, hingga kulitku terkena udara pagi yang dingin. Tubuh polos ini, yang kata orang orang masih sintal dan berlekuk indah, terbuka untuk alam. Aku berdiri tanpa sehelai benang di atas batu datar, membiarkan angin menyentuh setiap lekuk tubuh yang lama terabaikan. Air sungai yang ku guyur ke badan terasa dingin menusuk , tetapi segera berganti menjadi khayalan yang membangkitkan setiap sel. Ku usap tubuhku dengan sabun kelapa, tangan ini menyusuri leher, bahu, p******a yang masih kencang, pinggang, hingga paha. Setiap sentuhan adalah pengakuan. Aku masih hidup. Aku masih cantik dan menarik. Dan aku merindukan sentuhan selain sentuhanku sendiri. Mataku tertutup, tenggelam dalam sensasi. Sunyi di sekitarku seolah menjadi ruang gema untuk hasrat yang bergemuruh. Aku tidak mendengar langkah kaki mendekat. "Mak Iroh?" Suara itu... suara Andi....membuatku tersentak kaget. Mataku terbuka lebar. Di seberang sungai, berjarak sekitar sepuluh meter dariku, dia berdiri. Matanya bulat, penuh keterkejutan, terpaku padaku. Pipinya memerah seketika. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN