Bab 4

755 Kata
"Ma... maaf, Aku... aku tidak sengaja melihat," katanya terbata-bata, dia buru-buru memalingkan wajah dengan cepat. "Aku hanya penasaran dengan sungai ini. Aku... aku akan pergi." Tapi dia tidak pergi. Tubuhnya kaku, terpaku di tempatnya. Nafasku tersendat. Rasa malu membakar seluruh tubuhku. Tapi lebih kuat dari itu, adalah sebuah dorongan primal, liar, yang tiba-tiba menyala. Dia sudah melihatku. Tanpa sehelai benang. Dan dia tidak langsung pergi. Dengan suara yang lebih berani daripada perasaanku, aku berkata, "Jangan pergi, Andi. Kemarilah!" Dia berbalik pelan, matanya menatapku lagi, penuh konflik. "Tapi... kamu..." "Airnya sejuk. Bagus untuk badan," kataku, mencoba terdengar wajar. Jantungku berdebar kencang seperti genderang perang. "Kamu... kamu juga kotor. Ayo kita Mandi sama sama." Dia menggeleng, malu-malu. "Tidak, tidak boleh." "Kenapa tidak boleh?" tanyaku, melangkah perlahan ke tepi sungai, keluar dari air. Tubuhku masih basah, berkilau di bawah sinar matahari pagi yang mulai hangat. Aku melihat matanya melengos setelah melihat sekilas tubuhku, lalu kembali menatap wajahku dengan panik. "Aku... aku tidak tahu. Rasanya tidak pantas aja," gumamnya. "Tidak ada yang pantas atau tidak pantas di sini, Andi. Hanya aku dan kamu. Dan sungai ini." Aku mendekat, langkah demi langkah, melintasi batu-batu yang licin. Jarak antara kami menyempit. "Kamu bau. Aku sudah merawatmu, sekarang mandilah agar sehat." Dia menunduk, seperti b a l i t a yang dimarahi. "Aku tidak bisa... Apa aku juga harus ... melepas baju." Dia bertanya polos. " Tak apa apa. Aku yang akan membantumu." Tanpa menunggu jawabannya, tanganku sudah meraih ujung kemeja lusuh yang kupakai kan padanya—kemeja lama Pak Dar. Jari-jariku menyentuh kulit perutnya yang hangat. Dia menghela napas tajam. Kubuka kancing satu per satu. Dia tidak melawan, hanya berdiri kaku, napasnya semakin berat. Saat kemeja itu terbuka, terlihatlah torso-nya yang atletis. Otot-otot yang jelas, meski dihiasi balutan luka di d**a kirinya. Kulitnya halus, kecokelatan. Aku menahan nafas. Dengan gerakan mantap, ku tarik kemeja itu dari badannya. Lalu, tanganku beralih ke ikat pinggang celana panjangnya. "Andi," bisikku, suaraku serak. "Anggukkan kepalamu jika kamu mengizinkanku." Dia mengangguk, sangat pelan. Matanya tertutup rapat, seperti tidak berani melihat. Tapi tubuhnya bergetar. Kulepas ikat pinggangnya, kulepaskan kancing celananya, dan menariknya perlahan hingga turun ke kaki. Dia membantuku dengan mengangkat kaki satu per satu, masih dengan mata tertutup. Dan kemudian, dia berdiri di hadapanku, sepenuhnya polos, seperti aku. Seketika itu juga, aku tercekat, Aku tahu dia adalah lelaki dewasa. Tapi melihatnya langsung seperti ini, dalam keadaan polos dan tanpa ingatan, membuatku terpana. Tubuhnya memang perkasa. Otot-otot kaki yang kuat, pinggang yang ramping, dan di antara pahanya... kejantanannya yang besar, bahkan dalam keadaan lemas. Besar, lebih besar dari yang pernah kulihat saat pertama kali aku melepas pakaiannya. Rasa takut, malu, ingin tahu, dan hasrat bergolak menjadi satu. Tanganku, seolah memiliki kehendak sendiri, terulur. Jari-jariku menyentuh lengan atasnya yang berotot. Dingin. Dia menggeletar. "Kamu dingin," gumamku. "Ayo mandi." Kutuntun dia pelan-pelan masuk ke dalam sungai. Air mencapai pinggang kami. Dia masih kaku, matanya terpejam. Tapi saat air menyentuh kulitnya, dia menghela napas lega. "Rasanya... Sejuk," katanya pelan. "Ya," jawabku. "Banyak hal yang enak, Andi. Kamu hanya lupa." Kubasahi tubuhnya dengan tangan. Menyabuni punggungnya yang lebar, bahunya yang bidang. Tanganku menjelajah, memijat otot-otot yang kaku. Dia mulai rileks. Matanya terbuka sedikit, memandangiku. Tatapannya masih bingung, tetapi ada sesuatu yang lain. Sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa aku adalah perempuan, dan dia adalah lelaki. Saat tanganku turun ke pinggangnya, lalu ke perutnya, dia menghela napas lagi. Dan kejantanannya yang semula lemas, perlahan mulai bangun. Membesar, mengeras, di hadapan mataku. Dia tersipu malu, mencoba menutupinya dengan tangan. "Maaf, aku... aku tidak bisa mengendalikan..." "Jangan malu," bisikku, menyingkirkan tangannya. "Itu alami. Itu berarti kamu sehat." Ku tatap benda itu, sebuah keperkasaan yang membuat jantungku berdebar kencang. Delapan tahun sudah 'kebunku' dilanda kekeringan. Delapan tahun gersang. Sekarang mulai hangat dan lembab kembali. Dan di hadapanku, adalah sebuah penawaran untuk mengakhirinya. Sebuah penawaran dari seorang lelaki yang tidak tahu siapa dirinya, tetapi tubuhnya tahu apa yang diinginkannya. Naluri prima ku berbicara lebih keras daripada akal sehat. Tanganku meraih kejantanannya. Hangat. Kuat. Dia m en ger an g, m e n de s a h pelan. Matanya terbuka lebar, penuh kejutan dan kebingungan. "Mak Iroh, apa yang kamu..." "Diam," pintaku, suaraku rendah dan berwibawa. "Percayalah padaku." aku menjatuhkan diri ke dalam air, menariknya bersamaku. Air mencapai d**a kami. Kuaku memutarkan tubuhnya hingga dia membelakangiku, lalu kuraih bahunya, menariknya ke tepi sungai di mana air lebih dangkal. Batu besar dan datar menjadi alas. bersambung "Berbaring," perintahku. Dia menuruti, terbaring di atas batu dengan mata tertutup lagi, tapi napasnya sudah tak teratur. Kejantanannya menjulang tegak, seperti menantang langit biru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN