Bab 5

896 Kata
Aku menaiki batu, membuka kedua kakiku, dan... Aku terbaring di atasnya. Mata kami bertemu. Di matanya, ada ketakutan, kebingungan, tetapi juga sebuah penyerahan total. "Kamu yakin?" tanyanya, suaranya parau. Sebagai jawaban, aku turun. Kehangatan. Kepenuhan. Sebuah sensasi yang hampir terlupakan, tetapi segera membakar seluruh sarafku. Dia men desa keras, tangannya mencengkeram pinggir batu. Wajahnya menyeringai, antara sakit dan nikmat. Aku, yang memimpin. Gerakanku pelan di awal, menyesuaikan dengan tubuhku yang sudah lama tak terjamah. Tapi hasrat yang terpendam selama bertahun-tahun segera mengambil alih. Gerakanku menjadi lebih liar, lebih dalam. Tanganku menempel di dadanya yang bidang, merasakan detak jantungnya yang kencang. "Mak Iroh..." Bisiknya, tangannya kini meraih pinggangku, mencengkeram erat. "Jangan bicara," desahku, mempercepat ritme. Air sungai berdesir di sekitar kami, menyapu kulit, menambah sensasi basah dan liar. Matahari pagi memanas, menyinari dua tubuh yang menyatu di tengah alam liar. Dia mulai menemukan ritmenya sendiri. Meski kaku dan polos, tubuhnya mengikuti insting. Pinggulnya mendorong, menyelaraskan dengan gerakanku. kami menyatu dengan gemericik air, menjadi simfoni liar yang memecah kesunyian hutan. "Mak... Hmmm,. Aku...." Rasa sakit di lukanya sepertinya terlupakan. Yang ada hanyalah panas, tekanan, dan sebuah kebutuhan yang meledak-ledak. Aku memandang wajahnya yang tampan, yang kini berkerut dalam kenikmatan. Dia adalah milikku sepenuhnya saat ini. Lelaki tak bernama yang kuselamatkan, yang kini menyelamatkanku dari kekeringan jiwa dan raga. Kecepatanku meningkat. Sensasi menggumpal di perutku, sebuah ledakan yang sudah lama tak kurasakan. "Andi..." teriakku, bukan lagi bisikan. Dia merespons dengan uluran tangan ke arah dadaku yang menjuntai, tangannya menarik dua labu Siam itu keras, menyatukan kami dalam cengkeraman erat. Dan kemudian, semuanya meledak. Gelombang kenikmatan menerjang, membuat seluruh tubuhku bergetar. Aku merasakan dia juga meletus di dalamku, panas, memenuhi kekosongan yang selama ini menganga. Untuk beberapa saat, kami hanya terdiam, masih menyatu, napas tersengal-sengal. d**a kami naik turun beriringan. Mataku tertutup, menikmati kepenuhan terakhir sebelum realitas kembali. Pelahan, kulepaskan diri, turun dari batu. Air sungai segera menyapu bekas-bekas kami. Aku gemetar, kelelahan, tetapi ada kepuasan mendalam yang belum pernah kurasakan selama ini. Andi masih terbaring, matanya terpejam, tapi air mata mengalir pelan dari sudutnya. "Kanapa? Kenapa kamu menangis?" tanyaku, khawatir. Dia menggeleng, membuka mata. "Aku tidak tahu... kenapa. Rasanya... aneh. Seperti mimpi." "Itu bukan mimpi," kataku, membasuh wajahnya dengan air. "Itu nyata." Dia duduk, memandangi tubuhnya, lalu memandangiku. "Kamu... kenapa melakukan itu?" Kutarik napas dalam. "Karena aku ingin. Dan kamu juga ingin, meski kamu tidak mengatakannya." "Apakah ini...akan dosa?" tanyanya polos. "Dosa adalah ketika kita menyakiti orang lain. Apa Kamu merasa disakiti?" Dia berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Maka, itu bukan dosa," kataku, meski di hatiku ada bisikan keraguan. Kami mandi membersihkan diri dalam sunyi yang kini berbeda. Sunyi yang penuh dengan gelombang emosi yang baru saja terjadi. Saat kami memakai pakaian kembali—aku dengan sarung dan kebaya, dia dengan kemeja dan celana lama—sebuah perubahan halus terasa. Dia tidak lagi menghindari tatapanku. Dan saat tangannya tak sengaja menyentuh tanganku, dia tidak menariknya. Perjalanan pulang terasa berbeda. Udara pagi terasa lebih segar, sinar matahari lebih hangat. Andi berjalan di belakangku, sesekali tangannya menyentuh punggungku untuk menyeimbangkan diri. Setiap sentuhan itu seperti aliran listrik kecil. Sesampai di rumah, kami tidak banyak bicara. Tapi saat aku menyiapkan makan siang, dia mendekat, berdiri sangat dekat. "Mak Iroh," bisiknya. "Iya?" "Terima kasih." "Untuk apa?" "Untuk... mandi tadi. Untuk semuanya." Aku berbalik, memandang matanya yang jernih. Di kedalaman mata itu, selain kebingungan, kini ada sesuatu yang baru: kepercayaan. Dan mungkin, sedikit percikan gairah yang mulai mengenali dirinya sendiri. Makan siang kami lalui dengan sunyi yang nyaman. Tapi di dalam diriku, badai berkecamuk. Apa yang baru saja kulakukan? Aku memanfaatkan ketidakberdayaannya, kebingungannya. Tapi di sisi lain, aku juga memberinya pengalaman manusiawi yang mungkin bisa membantunya mengingat siapa dirinya. Atau, justru semakin mengikatnya padaku. Sore hari, saat aku duduk di beranda rumah sambil menjahit, dia duduk di sampingku, memandang ke arah sawah di depan gubuk kami. "Aku ingin ingat," katanya tiba-tiba. "Apa yang kamu ingat?" tanyaku. "Siapa aku. Dari mana aku datang. Apakah ada orang yang menungguku." Dia memandangku. "Tapi... aku juga takut." "Takut apa?" "Kalau aku ingat, mungkin aku harus pergi. Dan aku... tidak ingin meninggalkanmu." Kalimat itu menggantung di udara, penuh makna. Jantungku berdebar. Dia tidak ingin meninggalkanku? Sebuah kalimat sederhana, tapi bagai air di padang pasir bagiku. "Kamu tidak harus pergi, Andi. Rumah ini cukup untuk kita berdua." Dia tersenyum, senyum polos yang membuat dadaku semakin sesak. Tangannya yang besar dan hangat tiba-tiba menutupi tanganku yang sedang memegang jarum. Sentuhan itu sederhana, tapi lebih intim daripada hubungan badan tadi pagi. Malam itu, aku membaringkannya di ruang tengah seperti biasa. Tapi sebelum aku pergi ke kamarku, dia menggenggam tanganku. "Tidurlah di sini," pintanya, matanya memohon dalam cahaya lampu minyak. "Aku... takut sendirian." Aku tahu itu alasan. Tapi aku juga tidak ingin menolak. Kuambilkan tikar dan bantal, kubaringkan diri di sampingnya, dengan jarak satu lengan. Tapi di tengah malam, saat dingin menyusup, tanpa kata-kata, dia memelukku dari belakang. Tubuhnya yang besar dan hangat melingkari tubuhku. Aku tidak menolak. Malah, aku melengkungkan tubuhku, menyatu dengan lekuk tubuhnya. Dan di pelukannya, di tengah malam yang sunyi, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku tertidur dengan perasaan aman dan diinginkan. Tapi di bawah kesadaran, sebuah pertanyaan menggayut: Apakah ini awal dari sesuatu yang indah, atau justru awal dari petaka? Karena lelaki di pelukanku ini bukan hanya seorang yang hilang ingatan. Dia adalah misteri berdarah yang kutemukan di sungai. Dan misteri, suatu saat, pasti akan terungkap. ( Bersambung)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN