Bab 1:Wasiat yang Mengikat
Alya menatap layar ponselnya untuk ketiga kalinya. Pesan dari sekretaris Pak Hartono, direktur utama, singkat tapi bikin jantungnya langsung berdebar nggak karuan.
Bu Alya, mohon segera ke ruang rapat lantai 12. Penting.
Nggak ada penjelasan lain. Cuma itu.
Alya berdiri dari kursinya, menyibak rok kerja yang kusut karena seharian duduk mengejar deadline laporan keuangan. Di kepalanya berputar seribu kemungkinan—apa ada masalah sama laporan yang dia submit kemarin? Apa dia bakal dipecat? Atau ini soal ayahnya?
Perusahaan ayahnya, CV Wijaya Makmur, sudah tiga bulan terakhir ini goyah. Alya tahu itu. Dia tahu ayahnya berusaha keras cari investor buat nyelametin usaha yang udah dibangun dari nol selama dua puluh tahun. Tapi dia nggak pernah nyangka masalah itu bakal nyampur sama kerjaannya di sini, di kantor tempat dia kerja keras selama tiga tahun terakhir buat naik jabatan.
Sampai di depan pintu ruang rapat, Alya menarik napas dalam-dalam. Dia ketuk pintu dua kali, lalu masuk.
"Silakan duduk, Alya," kata Pak Hartono, wajahnya lebih serius dari biasanya.
Alya duduk di kursi yang disediakan, matanya secara refleks menyapu ruangan. Ada map cokelat tebal di atas meja. Ada Pak Hartono. Dan seorang pengacara berjas rapi yang belum pernah Alya lihat sebelumnya, duduk dengan tenang di sudut ruangan.
Pintu di belakangnya terbuka lagi.
"Maaf, saya telat rapat sebelumnya," suara itu familiar. Terlalu familiar.
Alya menoleh, dan jantungnya langsung berhenti sepersekian detik.
Raka Ardhana.
Direktur operasional termuda yang pernah dimiliki perusahaan ini. Terkenal dingin, perfeksionis sampai bikin stres seluruh tim, dan—yang paling bikin Alya nggak nyaman—orang yang selalu bikin dia merasa kecil setiap kali rapat proyek bareng.
"Duduk, Raka," kata Pak Hartono, menunjuk kursi di sebelah Alya.
Raka duduk tanpa banyak bicara, meletakkan tabletnya di meja dengan gerakan efisien seperti biasa. Dia melirik Alya sekilas—datar, seperti biasa dia menatap siapa pun yang dianggapnya nggak penting. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya—sesuatu yang tertahan, yang tidak sepenuhnya bisa Alya baca.
Alya menegakkan punggungnya. Dia nggak mau keliatan gugup di depan orang ini.
"Saya panggil kalian berdua ke sini," Pak Hartono membuka map cokelat itu, "karena ada situasi mendesak yang menyangkut kalian berdua secara langsung."
Pengacara di sudut ruangan itu akhirnya bersuara. "Perkenalkan, saya Pak Setiawan, pengacara keluarga Ardhana yang menangani warisan almarhum Bapak Ardhana Wijaksana—kakek dari Raka."
Raka menegang mendengar nama kakeknya disebut. Alya melirik ke arahnya, menangkap rahang Raka yang mengeras.
"Seperti yang Raka ketahui," lanjut Pak Setiawan, "wasiat mendiang Bapak Wijaksana mensyaratkan bahwa kepemilikan penuh atas dua puluh lima persen saham Ardhana Group—porsi terbesar warisan keluarga—hanya bisa dialihkan ke Raka apabila dia menikah sebelum usianya genap tiga puluh tahun."
"Saya tau soal itu," kata Raka datar, meski suaranya sedikit tegang. "Saya masih punya waktu setahun lagi."
"Itu masalahnya," Pak Setiawan menatap Raka serius. "Ulang tahun Raka bulan depan. Dan wasiat itu punya syarat tambahan yang selama ini belum kami sampaikan secara terbuka—pasangan yang dinikahi harus berasal dari kalangan pebisnis yang sedang menghadapi kesulitan finansial yang bisa dibantu Raka selamatkan. Syarat ini dibuat kakek Raka secara khusus, katanya, 'supaya cucunya belajar arti tanggung jawab, bukan cuma comot pasangan sembarangan demi warisan.'"
Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu sempit. Alya bisa dengar detak jantungnya sendiri, keras, cepat, mulai menduga ke mana arah pembicaraan ini.
"Dan CV Wijaya Makmur," lanjut Pak Setiawan, menatap Alya, "kebetulan satu-satunya perusahaan mitra bisnis Ardhana Group yang saat ini benar-benar berada dalam kondisi krisis finansial yang bisa diselamatkan lewat akuisisi—sekaligus memenuhi syarat dari wasiat itu."
Alya menoleh ke samping.
Dan di sanalah dia melihatnya—Raka, orang yang selama ini dia hindari kalau bisa, orang yang bikin dia ngerasa nggak pernah cukup baik, duduk dengan ekspresi yang kali ini nggak setenang biasanya. Ada sesuatu yang gelisah di matanya.
"Kenapa harus saya?" Alya akhirnya bersuara, suaranya bergetar menahan syok. "Ada banyak perusahaan lain yang mungkin juga kesulitan. Kenapa harus perusahaan ayah saya?"
"Karena timingnya paling pas," jawab Pak Hartono, nadanya menyesal. "Dan karena kalian berdua sudah saling kenal sebagai rekan kerja. Dewan komisaris menilai ini opsi yang paling realistis dieksekusi dalam waktu sebulan."
"Kalau saya nolak?" tanya Alya.
"Maka warisan itu hangus," jawab Pak Setiawan. "Dan sesuai isi wasiat yang sama, dua puluh lima persen saham itu otomatis dialihkan ke yayasan amal pilihan dewan komisaris—bukan kembali ke Raka."
Alya menatap Raka, mencoba membaca reaksinya. Kalau ini cuma soal warisan pribadi buat Raka, kenapa dia terlihat seolah ini menyangkut jauh lebih dari sekadar uang?
"Kenapa kamu diam aja?" Alya akhirnya bertanya langsung ke Raka. "Ini nggak keberatan buat kamu?"
Raka menghela napas panjang, untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, topeng dinginnya sedikit retak.
"Warisan itu bukan buat saya," katanya pelan, suaranya berat. "Itu satu-satunya cara saya bisa selamatin Yayasan Pendidikan Ratna Ardhana—yayasan almarhum ibu saya. Yayasan itu udah hampir tutup karena kehabisan dana operasional, dan saham warisan itu satu-satunya sumber dana yang cukup besar buat nyelametinnya."
Kata-kata itu mengejutkan Alya. Sisi Raka yang selama ini dia kenal—dingin, ambisius, terobsesi kerja—tiba-tiba menunjukkan lapisan lain yang nggak pernah dia duga ada di sana.
"Jadi ini bukan cuma soal kamu," gumam Alya pelan.
"Bukan," jawab Raka, menatap Alya lurus untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan. "Ini soal menjaga satu-satunya warisan ibu saya yang masih tersisa."
Alya menatap dokumen yang tergeletak di meja, pikirannya berkecamuk antara logika dan keputusasaan. Kalau dia nolak, perusahaan ayahnya bangkrut, ratusan karyawan kehilangan pekerjaan. Kalau dia terima, dia terikat pernikahan dengan orang yang selama bertahun-tahun bikin dia merasa kecil—demi menyelamatkan warisan seorang ibu yang bahkan tidak pernah dia kenal.
"Saya butuh waktu buat mikir," kata Alya akhirnya.
"Dewan komisaris dan pihak yayasan butuh kepastian dalam dua puluh empat jam," kata Pak Setiawan. "Ulang tahun Raka tinggal sebulan lagi, dan proses administratif pernikahan serta pengalihan saham butuh waktu."
Raka berdiri, merapikan jasnya, tapi kali ini gerakannya tidak setenang biasa. Di ambang pintu, dia berhenti sejenak, menoleh ke belakang.
"Saya tau ini berat buat kamu," katanya, suaranya lebih lembut dari yang pernah Alya dengar. "Tapi saya janji, apa pun keputusan kamu, saya akan hormati. Cuma... saya harap kamu mempertimbangkan bahwa ini bukan cuma soal kepentingan saya."
Alya menahan napas, menatap punggung Raka yang berjalan keluar ruangan. Untuk pertama kalinya, dia melihat sisi lain dari pria yang selama ini dia anggap sepenuhnya dingin dan tak berperasaan—dan entah kenapa, itu justru membuat keputusan yang harus dia ambil terasa jauh lebih rumit.