81. Rayuan Maut

1613 Kata

“Loh itu kan—“ “Siska?!” Aletta memekik kecil, nyaris tidak percaya melihat manajernya, tiba-tiba berdiri di halaman rumahnya. “Heh, ngapain kamu ke sini?” tanya Aletta bingung sambil menghampiri manajernya. Siska mendatangi Aletta. Tatapannya bingung, bahkan dia langsung memegang tangan Aletta. “Gawat ini, Ta. Gawat banget!” Ucap Siska dengan wajah kuyu dan napas terengah-engah. ​“Gawat? Apanya yang gawat?” tanya Hamzah yang juga masih melihat ke arah tamu dadakannya. Siska melihat ke Hamzah. “Gawat. Pokoknya ini urgen. Penting banget, Mas. Eh ... Mas, Ustad ato apa nih aku manggilnya?” tanya Siska yang belum terlalu akrab dengan Hamzah. Hamzah tersenyum. “Panggil nama aja juga gak papa. Eh, ayo masuk dulu. Ayo Sat, masuk dulu,” ajak Hamzah yang batal ke pondok, karena tamunya suda

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN