Matahari sore mulai turun, menyisakan semburat jingga di langit desa yang tenang. Di teras rumah, aroma teh melati dan pisang goreng hangat menemani obrolan serius tapi santai. Sesekali ada suara tawa yang menggema di teras yang teduh itu. Para tamu Aletta masih bertahan di rumahnya, menikmati suasana tenang yang sangat jauh berbeda dengan Jakarta. Umi Salamah ikut duduk bergabung, menyimak obrolan para anak muda. Sesekali dia juga dimintai pendapat, sebagai orang yang pasti sudah punya banyak pengalaman hidup. “Sis! Di tanya Umi itu loh. Malah sibuk aja ama hp,” tegur Satria yang duduk di dekat Siska. Siska gelagapan dan segera melihat ke Umi Salamah. “Eh maaf, gimana tadi, Mi?” tanya Siska. Umi Salamah tersenyum. “Kamu kapan nikah?” tanya Umi lagi mengulang pertanyaannya tadi. “Hah

