9. Hadiah Kecil

1643 Kata
“Oh, jadi gini ya kelakuan ustad di sini?” geram Aletta yang kesal melihat suaminya bersama dengan wanita lain di tempat kerjanya. Rasa nyeri karena dikhianati itu kembali datang. Luka karena pengkhianatan Kevin belum sembuh, kini harus di tambah dengan pengkhianatan suaminya yang baru kemarin dia menikahinya. Amarah yang selama ini belum sempat dia lampiaskan ke Kevin, mendadak menyesaki dadanya, ingin meluap keluar. Aletta mengepalkan tangannya kuat-kuat. Napasnya memburu, membuat dadanya naik turun di balik gaun sutranya yang mewah. “Bener-bener ya, Mas Hamzah. Di rumah sok alim, di sini malah asyik ketawa-ketiwi sama cewek lain!” geram Aletta dalam hati. Wanita yang tadi menyapa Aletta, ikut bingung dengan sikap wanita tak dikenal di depannya ini yang mendadak tampak marah. Dia mengikuti arah pandang Aletta yang berakhir di sosok pria pujaan banyak wanita di kampung ini. “Oh itu Us—“ Aletta tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pengajar di pondok suaminya. Dia malah melangkah pergi, untuk melabrak suaminya. Tanpa sengaja, mata Hamzah menangkap sosok mencolok di ujung koridor. Hamzah tampak tertegun sejenak melihat wanita dengan kacamata hitam yang penampilannya sangat berbeda dibanding sekelilingnya. Hamzah tersenyum tipis lalu berjalan menghampiri Aletta. Wanita berkerudung yang tadi bersamanya, mengikut di belakangnya, ikut penasaran dengan sosok lain di koridor pondok. “Kenapa gak bilang kalo mau ke sini? Naik apa tadi?” tanya Hamzah dengan tutur sopan. Aletta menatap suaminya dengan pandangan tidak bersahabat. Dia mendekat ke suaminya dan memiringkan badannya sampai bahu mereka berdempetan. “Katanya mau ngajar, taunya malah jadi buaya darat di sini!” sindir Aletta pelan sambil memamerkan rahangnya yang mengetat. Mata Aletta berpindah ke arah wanita yang ada di depannya. Pandangannya penuh selidik di balik kaca mata hitamnya. “Ck! Ternyata seleranya yang lebih tua!” gerutu Aletta dalam hati, saat melihat wanita itu usianya jauh lebih tua darinya. Hamzah terkekeh kecil, seolah tahu isi kepala istrinya. “Letta, kenalkan. Ini Bu lek Aminah, adik bungsu Umi yang tinggal di desa sebelah. Beliau baru saja datang untuk menjengguk putrinya yang mondok di sini,” jawab Hamzah mematahkan pemikiran buruk istrinya. Aletta mematung. Dia melihat ke suaminya. Mimik wajah yang tadi penuh amarah mendadak hilang, berganti wajah polos karena malu setelah salah tuduh. “Bu lek?” ucap Aletta pelan. Hamzah mengangguk. “Iya. Bu lek. Tante ya kalo di Jakarta.” “Oh, jadi ini istri kamu ya, Ham? Masya Allah, cantiknya banget, Ham,” puji Bu lek Aminah dengan tulus. Aletta langsung salah tingkah. Dia segera melepas kacamata hitamnya dan mengangguk pelan. Suasana jadi sangat canggung. “Eh ... iya, Tan. Eh, Bu lek ya ... Bu lek. Saya Letta,” ucap Letta memperkenalkan diri dengan canggung. Hamzah terkikik melihat sikap istrinya. Dia sampai menundukkan kepalanya, menyembunyikan tawanya, agar istrinya tidak semakin marah. Aletta mencubit lengan Hamzah. Dia sangat malu, apa lagi saat ini dia sukses menjadi tontonan banyak orang. “Oh iya, ayo kita ngobrol di dalem aja. Gak enak dilihat santri kalau mengobrol di koridor begini,” ajak Hamzah sambil melirik ke arah para santri yang masih curi-curi pandang. Hamzah mengajak dua wanita itu ke dalam ruang pimpinan pondok, yang menjadi ruang kerjanya. Dia mempersilakan tamunya duduk di sofa sederhana, tempat dia biasa menerima tamu para wali santri. Aletta duduk dengan canggung. Dia melepas topi dan kaca mata hitamnya, lalu tersenyum kaku menatap saudara mertuanya yang duduk tepat di depannya. “Masya Alloh, makin keliatan cantiknya. Bener kata umimu Ham, istrimu cantik banget,” Aminah memuji kecantikan Aletta lagi. Hamzah berjalan ke arah sofa. “Bisa aja Bu lek ini.” Hamzah menoleh ke istrinya. “Tapi memang cantik kok, tapi—“ Hamzah tak meneruskan suara hatinya. “Jadi gimana Bu lek, tadi udah ketemu sama Saskia belum?” tanya Hamzah. “Udah, tapi tadi Bu lek gak ketemu sama ustadzahnya. Bisa titip uang jajannya Saskia ke kamu gak, Ham?” Hamzah mengangguk. “Boleh. Ntar biar Hamzah masukkan ke tabungannya Saskia.” Aminah melihat lagi ke arah menantu kakaknya. Dia memang sudah mendengar kalau keponakannya akan menikah, tapi kemarin dia serang sibuk, jadi tidak sempat datang. “Gimana Letta, betah gak di sini? Hamzah baik kan?” tanya Aminah dengan senyum lebar. Aletta tersenyum sambil menatap suaminya. “Baik apanya? Dia pelit dan suka marah kok. Nyebelin juga!” gerutu Aletta di dalam hatinya yang ditutupi dengan senyum manisnya. “Letta baru sehari Bu lek di sini. Dia juga belum ke mana-mana. Jadi kalo di tanya betah apa gak, kayaknya terlalu cepat,” sahut Hamzah. “Ya kan siapa tau dia gak suka sama lingkungan kampung. Di sini sepi ya Letta, gak kayak di Jakarta.” Aletta hanya tersenyum malu. “Iya. Harus banyak adaptasi,” jawab Aletta. “Gak papa, ntar pelan-pelan juga betah kalo udah kenal lingkungan sini. Ham, kalo libur ajak ke tempat Bu lek.” Hamzah mengangguk. “In syaa Alloh, Bu lek.” “Ya udah, kalo gitu Bu lek pamit dulu ya. Mau belanja buat pesenan kue besok.” “Oh iya, kebetulan banget itu. Letta, kamu kan suka roti, pesen di Bu lek aja. Rotinya enak loh. Kamu mau apa?” Aletta mendadak bingung. Dia melihat ke arah suami dan Aminah secara bergantian. “Kamu suka rasa apa, Letta? Coklat, strawberry, kacang ato yang lain.” Aminah antusias ingin membuatkan keponakan barunya kue andalannya. “Em ... ap-apa aja, Bu lek. Letta suka semua sih. Tapi lebih suka yang tawar,” jawab Aletta ragu. “Kue kampung seenak apa sih? Gak bakalan bisa sama kayak kue di Jakarta. Awas aja kalo kuenya keras ya,” gerutu Aletta dalam hati meragukan kemampuan Aminah. “Ya udah, ntar Bu lek anter ke rumah ya. Ya udah Ham, Bu lek pamit dulu ya. Letta, yang betah di sini ya.” Aletta mengangguk dan ikut suaminya mengantar Aminah sampai ke depan pintu. Dia ikut mencium punggung tangan Aminah, seperti yang dilakukan suaminya. Setelah Aminah pergi, Aletta kembali memasang wajah masam. Perutnya kembali keroncongan, dan rasa malu karena sudah salah sangka membuatnya makin bad mood. Hamzah melihat ke arah istrinya. Senyum indah yang tadi menghiasi wajah ayu itu mendadak hilang. Sepertinya istrinya ini sudah layak mendapat piala oskar, karena kelihaiannya memainkan peran. Baru saja Hamzah mau duduk, Aletta malah berdiri. “Mau ke mana?” tanya Hamzah saat melihat Aletta berdiri hendak keluar. “Kantin! Laper! Tadi Mas kan yang suruh aku jajan di kantin. Di rumah gak ada makanan,” jawab Aletta ketus. “Maaf ya belum bisa belanja. Tapi nanti kita pergi ya sekalian makan.” Hamzah merasa bersalah pada istrinya. Aletta menoleh ke suaminya. Sungguh ucapan yang menyentuh hati, tapi Aletta membentengi hatinya agar tidak mudah luluh. Aletta melengos. “Aku pergi dulu.” Namun, baru saja Aletta melangkah, tangannya tiba-tiba dicekal lembut oleh Hamzah. Aletta terhenti dan melihat ke arah suaminya. Aletta melihat ke tangannya yang di pegang Hamzah. Entah ada apa dengan jantungnya, karena sekarang berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. “Tunggu sebentar,” ucap Hamzah pelan. Hamzah mengajak istrinya mendekat ke meja kerjanya. Tangan Hamzah membuka laci mejanya dan mengeluarkan sehelai kain kerudung panjang berwarna cokelat yang masih baru. Aletta hanya diam, terpaku melihat kain yang dikeluarkan suaminya. Hamzah kemudian merapikan rambut istrinya. Dia berjalan memutar dan berdiri di belakang sang istri. “Maaf ya,” ucap Hamzah pelan yang lalu memegang rambut tebal Aletta. Entah bius apa yang diberikan Hamzah, sampai membuat Aletta pasrah saat suaminya menggelung rambut panjangnya. Tak ada keinginan menolak atau marah-marah seperti biasanya. Hamzah kembali ke depan Aletta. Dia merapikan poni wanitanya lalu menyampirkan kerudung itu ke kepala Aletta. Dengan gerakan tangan yang sangat hati-hati dan lembut, Hamzah merapikan kerudung itu hingga membingkai wajah cantik istrinya. Meski hanya selembar kain biasa, tapi ternyata bisa membuat Hamzah tertegun menatap sang istri. “Masya Alloh,” gumam Hamzah pelan mengagumi kecantikan bidadari di depannya. Jantung Aletta semakin tidak baik-baik saja. Jarak mereka sudah sangat dekat sampai Aletta bisa mencium aroma parfum kayu yang maskulin dari tubuh Hamzah. “Kamu lebih cantik kalau pakai ini daripada pakai topi,” bisik Hamzah sambil menatap mata Aletta dalam-dalam. “Lain kali kalau ke keluar rumah, pakai kerudung ya? Aku gak mau kecantikan istriku jadi tontonan gratis orang banyak,” ucap lembut Hamzah yang terdengar seperti melodi yang mampu melumpuhkan akal sehat Aletta. Aletta diam terpaku. Pipinya mendadak terasa panas yang membuat wajahnya memerah mendengar pujian suaminya yang terdengar sangat tulus. Rasa lapar dan kesalnya seolah hilang, berganti dengan perasaan aneh yang menggelitik di dadanya. Aletta menatap Hamzah. Dia memegang lehernya yang masih terbuka karena dia hanya memakai pasmina panjang. “Tapi aku belum siap pake kerudung. Ak—“ “Aku gak nyuruh kamu pake kerudung seperti santri lainnya. Karena semua harus dari kesiapan hatimu sendiri,” potong Hamzah, yang mengerti apa yang akan disampaikan istrinya. “Tapi setidaknya, kalo kamu menyembunyikan rambutmu dan menjaga batasan di luar dengan laki-laki, itu akan bikin aku lebih tenang,” lanjut Hamzah. “Lebih tenang? Apa dia posesif sama aku? Apa dia cemburu?” sorak Aletta dalam hati. Hamzah tersenyum pada istrinya. Pandangannya tidak bisa beralih, karena penampilan Aletta sangat jauh berbeda seperti yang dia jumpai sejak kemarin. Citra wanita bar-bar tak tahu aturan itu mendadak lenyap saat Aletta menjadi penurut di hadapannya. Naluri tak posesifnya mendadak menguasai hati ustad muda itu. “Oh ya lupa, bentar.” Hamzah mengambil dompetnya dari dalam tas. Dia mengeluarkan uang pecahan 50 ribu dan memberikan pada istrinya. “Ini buat kamu jajan. Abis jajan langsung pulang ya. Kalo mau minta anter, ke sini lagi aja,” pesan Hamzah. Aletta melihat ke uang di tangan suaminya. Pecahan uang itu biasanya hanya untuk bayar parkir saja saat dia di Jakarta. “Gak usah. Aku punya uang kok,” tolak Aletta. Hamzah menggelengkan kepalanya. “Kamu tanggung jawabku. Termasuk uang jajanmu.” “Udah, sana ke kantin. Nanti keburu laper,” lanjut Hamzah. “Tap-tapi—“ “Tapi apa?” tanya Hamzah penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN