10. Gosip

1724 Kata
​“Tapi apa?” tanya Hamzah sambil menaikkan kedua alisnya. “Emm ... anu .... Gak jadi!” Aletta tidak mampu menjawab. Entah mengapa tatapan Hamzah membuatnya gila siang ini. Ini tidak bisa dibiarkan. Aletta tidak ingin terkesan gampangan, terlalu mudah diluluhkan hanya dengan selembar kain dan uang 50 ribu saja. Aletta memilih langsung pergi dari ruangan. “Aku pulang!” pekik Aletta menyelamatkan jantungnya yang akan meledak. “Lho eh ... kok langsung pergi sih. Letta,” panggil Hamzah kebingungan. Tapi manusia cantik pengganggu hidup Hamzah itu kini sudah menghilang dari hadapannya. Dia hanya bisa tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah manja sang istri. Hamzah yang yakin istrinya akan baik-baik saja, memilih untuk tidak terlalu khawatir istrinya tidak bisa aman di pondoknya. Dia kembali ke mejanya, mempersiapkan materi mengajar selanjutnya. Aletta masih berdiri di depan ruang kerja suaminya. Tangannya masih menegang hendel pintu dan punggungnya menempel di dinding. Dada Aletta naik turun. Napasnya gak beraturan. Jantungnya juga berdegup begitu kencang sampai rasanya mau melompat keluar. Aletta menunduk, menahan malu yang menyerangnya. Pipinya pasti sudah semerah kepiting rebus. “Ya ampun, dia kenapa sih tadi. Astaga Letta, dia cuma kasih kerudung murah. Gak special!” ucap setan di samping Aletta. Meski Aletta sibuk menolak kenyataan kalau dia sedang sangat bahagia dengan perhatian sederhana suaminya, tapi mimik wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia itu. ​Aletta memilih pergi begitu dia sudah bisa mulai mengendalikan diri. Begitu sampai di koridor yang agak sepi, Aletta memperlambat langkahnya. Dia menarik ujung kerudung panjang pemberian Hamzah itu, lalu menutupi sebagian wajahnya. Bukan karena malu dilihat santri, tapi karena dia ingin menghirup dalam-dalam aroma yang tertinggal di sana. ​Wangi kayu cendana dan sedikit aroma segar. Aroma parfum Hamzah yang belakangan ini selalu menggodanya. Aletta berjalan perlahan menuju kantin, sambil menghirup aroma suaminya. Senyumnya tersembunyi di balik kain kerudung sederhana, hadiah pertama dari suaminya. “Ih, kok aku jadi kayak orang gila gini sih? Pakai dicium-cium segala!” gerutunya pelan, tapi senyum di bibirnya tidak bisa bohong. Rasanya ada jutaan kupu-kupu yang baru saja lepas di dalam perutnya, mengalahkan rasa laparnya sejenak. Akhirnya dia sampai juga di kantin pondok putri. Beberapa santri dan petugas kantin yang ada di saja langsung melihat ke arahnya. Aletta melempar senyum ke penduduk pondok suaminya. Dia kemudian mengedarkan pandangannya ke jajanan yang dijual di sana. “Maaf, dari mana ya, Bu? Kayaknya baru liat,” tanya penjaga kantin sambil melihat penampilan Aletta yang sangat berbeda dengan para penghuni pondok. Aletta balas menatap penjaga kantin. “Dari sini kok. Di sana, di rumah Mas Hamzah,” jawab Aletta sambil menunjuk ke arah rumahnya dengan Hamzah. “Eh, jangan-jangan berita kalo ustad udah nikah itu bener.” “Iya, kemaren beliau juga izin gak ngajar kan. Kabarnya nikah.” Bisik-bisik para santri yang duduk di bangku kayu panjang itu di dengar oleh Aletta. Dengan percaya diri, dia menoleh ke para santri yang sedang membicarakannya diam-diam. “Iya, kami baru nikah kemaren. Saya istrinya Mas Hamzah,” ucap Aletta yang kini dengan bangga memperkenalkan diri jadi istri pemilik pondok ini. “Ya Alloh, Umi. Maaf Umi, kami gak tau.” “Hah, Umi?” Aletta melongo mendengar panggilan baru yang disematkan padanya. Para santri dan penjaga kantin langsung berebutan menyalami dan mencium tangan Aletta. Tentu saja Aletta kaget dan melongo dibuatnya. Kalau dulu dia sering dimintai tanda tangan atau foto bersama, kini dia malah diserbu untuk dicium tangannya. “Umi, Umi mau apa?” tanya penjaga kantin ramah karena dikunjungi oleh istri pemilik pondok. Aletta sedikit gelagapan. “Oh ini, cuma mau beli roti. Iya, mau roti,” jawab Aletta yang masih belum bisa menyembunyikan rasa kagetnya. “Oh roti. Ini Umi ada macam-macam jenisnya. Tapi yang best seller yang ini.” “Oh iya, mau ini aja.” Aletta tiba-tiba menjadi orang yang lambat berpikir. Pikirannya kosong, masih terlalu syok setelah mengetahui efek nama suaminya di kampung ini. Aletta mencoba menyadarkan dirinya. Dia kembali melihat semua barang yang dipajang di sana, untuk dia bawa pulang. “Eh, cantik banget ya istri Ustad Hamzah. Kayak artis.” “Iya bener. Kemaren aku denger katanya orang Jakarta.” “Pantes cantik. Orang kota. Tapi emang cantik banget deh.” Senyum Aletta terus mengembang saat dia mendengar pujian tentang dia. Bahkan kini juga ada beberapa santri lain yang datang ke kantin lalu menyalaminya lagi. Tapi kini dia tidak lagi kaget. Aletta malah bisa membusungkan d**a dan mengangkat dagunya, saat santri suaminya bersalaman dengannya. “Tuh kan, aku tuh emang cantik. Pasti bentar lagi ada yang ngenalin aku deh,” guman Aletta dalam hati. Aletta mengumpulkan jajanan yang ingin dia beli. Terkadang dia bertanya tentang jajanan di sana yang tidak dia kenali. “Eh, kalo ustad nikah, trus gimana sama Ustadzah Sarah ya? Masa mereka putus sih.” “Padahal mereka serasi banget loh dulu.” “Iya bener. Malah katanya dulu udah mau nikah kan kalo ustadzah pulang dari kota. Tapi kok malah ustad nikah duluan.” “Tenang, kan masih ada jatah poligami.” Selentingan kali ini membuat senyum di wajah Aletta mendadak hilang. Dia yang tidak pernah mendengar kalau suaminya ternyata punya pacar sebelum menikahinya, tiba-tiba diserang rasa kecewa. Dadanya terasa sangat sakit. Bahkan kini matanya sudah panas, siap memproduksi air mata. “Sarah? Siapa dia? Kenapa aku gak pernah tau soal Sarah,” gerutu geram Aletta dalam hati. “Umi, ada lagi yang mau di beli?” tanya penjaga kantin. Aletta melirik sinis. “Gak usah. Ini aja.” Nada suara Aletta sedikit sinis. Penjaga kantin yang merasa perubahan sikap Aletta, langsung menunduk. Dia melirik ke teman-temannya yang tadi berbisik-bisik tentang kisah percintaan yang pernah terembus di pondok, meski tidak pernah dikonfirmasi oleh Hamzah atau Sarah. “Ini Umi belanjaannya,” ucap penjaga kantin sambil memberikan kantong plastik berisi belanjaan Aletta. “Berapa semuanya?” tanya Aletta datar. “Gak usah, Umi. Gak papa kan ini pon—“ “Saya di sini belanja. Bukan minta!” tegas Aletta yang sudah kepalang kesal. Aletta mengambil dompetnya. Dia mengeluarkan uang pemberian suaminya itu dan menyodorkan pada penjaga kantin. “Hitung semuanya,” ucap Aletta. “Ba-baik, Umi,” jawab penjaga kantin sedikit tidak enak pada istri pimpinan mereka. Meski uang di tangannya sudah diambil, tapi pandangan Aletta masih terarah ke tangannya. Dia baru menyadari kalau kemarin Hamzah tak memberinya cincin pernikahan. Ada sesuatu yang hilang di hati Aletta. Tangannya masih kosong, tak ada pengikat hati antara dia dan Hamzah. “Apa ini alasan kemaren dia gak kasih aku cincin? Siapa Sarah? Apa dia benar calon istri Hamzah?” gumam Aletta dalam hati, sambil menahan perih. Transaksi sudah selesai. Tanpa pamit, Aletta langsung pergi meninggalkan kantin. Penjaga kantin melihat ke arah santri yang piket kantin hari ini. “Heh! Kalian tadi ngomong apa sih?! Liat tuh, Umi marah. Gak ada sopannya kalian ya malah ngegosip di sini. Kalo kabar ini kedengeran ustad, tanggung sendiri resikonya!” tegur penjaga kantin yang yakin kalau tadi Aletta mendengar bisik-bisik tidak sopan para santri. Aletta yang sudah panas hati, melangkah cepat meninggalkan pondok. Air matanya sudah akan menetes dan dia tidak ingin seorang pun yang tahu. Saat Aletta melangkah pergi meninggalkan pondok, Hamzah yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, tidak sengaja melihat istrinya dari belakang. Dia tersenyum melihat kerudung pemberiannya masih tetap dipakai sang istri. Sayangnya Hamzah tidak tahu, cambuk apa yang baru saja mendera hati istrinya. ** “Letta, udah siap belum?” tanya Hamzah yang sedang menunggu istrinya karena mereka akan pergi ke minimarket. “Iya, udah siap kok,” jawab Aletta dari dalam kamar. Aletta yang tadi sempat kesal pada suaminya, mencoba menenangkan diri dengan percaya pada sang suami. Melihat pribadi suaminya, tampaknya sang suami bukan tipe playboy. Dan kalau Hamzah sudah memutuskan menikahinya, Aletta yakin kalau Hamzah akan mengubur cintanya dengan wanita lain. Aletta keluar dari kamar. Kali ini dia tidak memakai kerudung dari suaminya. Dia memakai syal mahal miliknya, yang selama ini hanya jadi aksesoris penahan dingin saja. “Mas, aku pake ini boleh?” tanya Aletta, memanggil suaminya yang sedang bermain ponsel. Hamzah menoleh. Senyum tipis mengembang di bibirnya. “Boleh. Bagus kok. Yuk jalan, keburu magrib ntar.” Aletta mengangguk. Dia senang karena suaminya sudah mengakui kecantikannya. Dia sangat yakin kalau Sarah yang disebut oleh orang-orang kurang ajar tadi tidak akan lebih cantik darinya. Aletta segera mengikuti langkah suaminya keluar rumah. “Naik motor gak papa kan?” tanya Hamzah yang akan mengunci pintu. Aletta memonyongkan bibirnya. “Tapi hati-hati ya. Aku gak pernah naik motor.” Hamzah tersenyum. “Nanti pegangan ya. Biar gak jatuh kalo aku ngebut,” ucapnya sambil mengunci pintu depan. “Jangan ngebut!” tolak Aletta dengan suara manja. “Iya, engak. Yuk jalan.” Hamzah naik terlebih dahulu ke motor matic andalannya. Dia memandu istrinya naik ke motornya, agar bisa duduk dengan nyaman. “Pegangan,” ucap Hamzah. Aletta melingkarkan tangan kanannya di pinggang suaminya. “Udah.” Bukannya langsung menjalankan motornya, Hamzah malah mematung. Ini pertama kalinya ada seorang wanita yang menumpang di motornya selain uminya. Terlebih lagi, penumpang ini malah memeluk pinggangnya yang membuat napas Hamzah sedikit tersendat. “Mas, kok diem? Motornya rusak?” tanya Aletta karena suaminya tak kunjung menjalankan motornya. “Oh enggak kok. Iya, kita jalan ya.” Hamzah mulai menjalankan motornya meninggalkan halaman rumah. Meski awalnya sedikit kaku, tapi akhirnya Hamzah bisa membiasakan diri dengan pelukan istrinya. Sesuai rencana, Hamzah membawa ke minimarket besar di kampungnya, yang jaraknya sedikit jauh dari rumahnya. Setelah belanja nanti, pasangan itu juga akan makan malam bersama di luar untuk semakin mengakrabkan diri. Saat tiba di minimarket, Hamzah banyak membalas sapaan para pengunjung minimarket. Senyum Aletta kembali mengembang, saat dia melihat suaminya tidak ragu mengakui kalau dia istrinya, saat ada yang bertanya. “Mas, aku ambil troli ya,” ucap Aletta. “Kamu tunggu sini aja. Biar aku yang ambil.” Perlakukan kecil Hamzah itu kembali membuat Aletta tersenyum. Semburat merah kembali menghiasi pipinya yang sore ini hanya dibalut make up tipis. Aletta membiarkan Hamzah mengambil troli. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar minimarket yang tampak sangat ramai. “Mas Hamzah. Lagi di sini juga, Mas?” Terdengar suara seorang wanita menyapa Hamzah. Kontan saja hal itu membuat Aletta menoleh. Seorang wanita muda dengan kerudung besar dan gamis panjang, tampak berdiri di depan suaminya. Wajah wanita itu tampak malu-malu, seperti wanita yang sedang menemui pujaan hatinya. “Siapa itu? Apa dia Sarah?” gumam Aletta pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN