Suasana di dalam kamar menjadi sangat sunyi. Embusan udara dingin dari pendingin ruangan, terasa menusuk lebih dalam. Aletta menunduk dalam, tak punya kemampuan menatap suaminya. Dia merasa tidak pantas, mendampingi pria sebaik Hamzah. Hamzah masih terus menatap istrinya. Dia berdoa dalam diam, memohon kemantapan hati atas keputusan yang sudah dia ambil. Hamzah menggenggam jemari Aletta yang masih terasa dingin. Menggerakkan ibu jarinya, menyalurkan sedikit kehangatannya. “Letta,” panggil Hamzah pelan namun masih terdengar sangat berwibawa. Aletta menjawab pelan. Tapi suaranya hampir tak terdengar, karena lehernya sangat tercekat. “Sayang, liat aku dong. Masa ada orang ngomong kok dicuekin.” Aletta tidak bergerak. Tangannya meremas mukenanya, takut dengan apa yang akan disampaikan o

