Hamzah terdiam. Ruangan itu mendadak terasa begitu luas dan dingin. Hamzah menunduk, menatap jari-jarinya yang saling bertautan. Bohong rasanya kalau dia tidak kecewa. Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Aletta, amanah besarnya yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Aletta bisa melihat jakun suaminya bergerak naik turun, seolah sedang menelan kenyataan pahit yang baru saja dia dengar. Dia melepas napas berat, sambil memejamkan matanya, semakin merasa tidak pantas untuk suaminya. Keheningan itu berlangsung lama. Sangat lama, sampai Aletta mulai merasa bahwa diamnya Hamzah adalah sebuah gambaran kekecewaan sang suami atau mungkin sebuah penolakan terselubung. Aletta menundukkan kepalanya lebih dalam. “Maafkan aku, Mas. Aku bukan wanita baik-baik sebelum ketemu kamu. Aku tahu kamu pasti

