Lingga dan Mardhi bergerak menuju Nastiti Atelier. Tak lama, keduanya tiba di atelier ternama dan juga mewah tersebut.
“Ingat, kita hendak membuat kostum,” gumam Lingga. “Jangan terlalu kentara kita sedang menyelidiki sesuatu.”
“Iya,” ucap Mardhi.
Dengan nama besar ‘Diwangkara’ yang melekat di belakang nama Mardhi, mereka pun bisa menemui Dhatu Nastiti langsung. Ia sengaja merahasiakan kehadiran Lingga bersamanya.
Keduanya dipersilahkan duduk di sebuah lounge mewah.
Sepanjang jalan menuju lounge tersebut, Lingga tetap mengenakan maskernya meski tanpa topi. Itu sebabnya beberapa staf menatap sahabatnya dengan curiga. Kemungkinan menebak nebak kalau dia adalah pebalap ternama.
Tak lama, pintu lounge terbuka. Seorang perempuan yang usianya mungkin di awal kepala empat menatap keduanya. Ia berpakaian rapi minimalis dengan material mewah yang menjadikannya berkelas meski tanpa aksesoris berlebih.
Siapapun bisa menilai kalau perempuan di hadapan mereka itu memiliki sense of fashion yang tinggi.
“Halo…” sapanya.
Mardhi berdiri menyalaminya, “Saya Mardhi Diwangkara, dan di sebelah saya ini…”
Lingga kemudian melepas maskernya, “Lingga Mahapraja.”
Dhatu langsung membelalak kaget, “Li.. Lingga… Ma… Mahapraja…”
Perancang busana kenamaan tersebut tidak sanggup menutupi rasa kagetnya.
“Saya tidak percaya bisa ketemu pebalap ternama,” Dhatu tersenyum lebar. “Apa yang bisa saya bantu?”
Lingga dan Mardhi saling bertatapan dan tersenyum.
Sepertinya mudah saja memancing informasi dari Dhatu Nastiti.
Mardhi diam diam menyikut lengannya, sehingga Lingga mulai berbicara.
“Saya membutuhkan kostum baroque ala venesia,” ucap Lingga. “Tidak sekedar kostum tapi harus perfect…”
“Kamu datang ke tempat yang tepat,” Dhatu tersenyum senang. “Tidak banyak yang bisa membuat kostum seperti itu.”
Lingga memamerkan senyumnya yang mematikan. Dhatu langsung terhipnotis. Matanya berbinar binar bahagia.
“Mmm… Kita ukur dulu,” ucap Dhatu.
Ia mengambil meteran untuk mengukur tubuh Lingga. Berulang kali dhatu melirik wajah tampan pebalap internasional tersebut. Dan Lingga memanfaatkan ketertarikan perancang busana itu untuk mendapatkan informasi sebanyak banyaknya.
“Apa banyak yang meminta dibuatkan kostum sejenis?” tanya Lingga memancing obrolan.
“Banyak. Tapi tidak semua saya terima…” Dhatu kembali melirik ke arah Lingga.
Lingga dengan sengaja menatapnya langsung ke matanya, “Kenapa?”
Dhatu langsung menunduk malu, “Tidak mudah mengerjakan kostum semacam ini. Bisa memakan waktu setidaknya tiga bulan. Jadi… Saya harus selektif.”
Lingga lagi lagi tersenyum. Senyum maut yang membuat Dhatu Nastiti menjatuhkan meteran di tangannya karena gugup. Apalagi ia harus mengukur lingkar d**a pebalap nomor satu tersebut. Jantungnya mendadak berdebar kencang tanpa henti.
“Apa akhir akhir ini ada yang memesan kostum sejenis?” tanya Lingga lagi sambil memperhatikan Dhatu yang membungkuk untuk mengambil meteran yang terjatuh.
Sedangkan Mardhi hanya menatapnya sambil menahan tawa. Ia mengenali tingkah laku Lingga yang memang berniat menggoda Dhatu Nastiti. Aslinya, saat menyukai perempuan, seorang Lingga Mahapraja kadang terlihat malu malu.
“Ada. Klien itu memesan untuk sebuah pesta topeng,” jelasnya.
“Oh…” Lingga diam diam melirik Mardhi. Ia kemudian menatap Dhatu, “Apa saya bisa melihat model yang kamu buat untuk klien tersebut?”
Dhatu mengangguk, “Tunggu. Saya akan membawa buku sketsanya..”
Sepeninggal perancang tersebut, Lingga menghampiri Mardhi, “Aku yakin kita akan segera tahu sosok lelaki itu…
“Pastikan sketsa yang nanti dia perlihatkan sama seperti pakaian yang dikenakan lelaki itu. Matamu lebih tajam daripadaku kalau urusan fashon.”
Mardhi hanya tergelak.
“Apa yang kamu tertawakan?” Lingga mengerutkan keningnya.
“Dhatu Nastiti sepertinya tak bisa mengelak dari pesonamu,” bisik Mardhi. “Dia terus terusan menatapmu tak berkedip.”
“Itu rencanaku,” ucap Lingga penuh percaya diri. “Aku akan memancing ceritanya.”
Tak lama, Dhatu kembali ke dalam lounge sambil membawa buku sketsanya. Ia duduk di samping Lingga sambil memperlihatkan lembar demi lembar kertas berisi coretan coretannya.
“Ini yang terbaru,” ucapnya.
Lingga melirik ke arah Mardhi agar mengecek apa itu model yang sama yang dikenakan lelaki di pesta topeng tersebut. Sahabatnya itu memperhatikan gambar dalam buku sketsa tersebut lalu mengangguk sebagai tanda kalau itu model baju yang sama.
“Mmm… Apa saya boleh tahu, ini rancangan untuk siapa?” Lingga tersenyum menatap Dhatu.
“Oh euh.. Ini eksklusif untuk Tuan Tranggana,” jawabnya.
“Guntur?” Lingga memastikan.
Dhatu menggeleng, “Bukan. Untuk Tuan Gatra.”
Lingga dan Mardhi saling bertatapan kaget.
“Oh, bukan Guntur?” Mardhi mengulang pertanyaan Lingga karena tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
“Iya, bukan. Ini pesanan Tuan Gatra,” jawab Dhatu lagi.
Ia membuat desain di buku sketsanya untuk Lingga lalu memperlihatkannya, “Model kostummu, bagaimana kalau seperti ini?”
Lingga mengangguk angguk, “Iya ok.”
“Tim kita bisa mulai mengerjakannya dan selesai setidaknya tujuh puluh hari dari sekarang. Bagaimana?” tanya Dhatu.
Lingga kembali mengangguk, “Ok.”
Ia kemudian meminta invoice dan mengurus pembayaran, lalu bergerak keluar.
Keduanya memasuki mobil.
“Man… Tiga ratus juta untuk kostum yang mungkin tidak akan kamu kenakan,” Mardhi geleng geleng kepala.
“I’m going to wear it on my wedding day,” Lingga tergelak. “Another masquerade party, and another kiss with her…
“My future bride.”
“Wedding of past century…” Mardhi tertawa terbahak bahak. “Sin ting… Kamu sin ting…”
Lingga menyalakan mesin mobil dan bergerak menjauh dari Nastiti Attelier.
“Tapi abaikan soal pernikahanku. Sekarang kita sudah tahu si pemilik kostum yaitu Gatra Tranggana,” Lingga menarik nafas panjang. “Apa mungkin dia berbuat jahat pada si nomor satu? Om Gatra?”
Mardhi mengatupkan bibirnya dan berpikir, “Tapi postur tubuh di video itu tegap dan kekar, tidak seperti seseorang yang seusianya.
“Meskipun tubuh Om Gatra memang kekar dan tegap tapi tidak persis seperti yang ada di rekaman cctv itu. Kecurigaanku tetap pada Guntur. Dia bisa saja meminjam kostum papanya bukan?”
“Aku juga berpikiran sama. Pertanyaan berikutnya, apa yang Guntur lakukan hingga membuat si nomor satu meminta tolong?” gumam Lingga.
Mardhi menatap sahabatnya, “Untuk mencari tahu, kita awasi si Guntur.”
“Caranya? Tidak mudah untuk bisa berada di dekatnya,” tanya Lingga.
“Aku punya satu cara,” Mardhi menyeringai.