Deru Porsce miliknya terhenti. Lingga memarkirkan kendaraannya di halaman restoran milik Keluarga Diwangkara.
Ia kemudian bergerak naik ke lantai dua, Mardhi menunggunya di ruangan khusus.
Lingga membuka pintu ruangan tersebut dan duduk di sofa besar nan empuk.
“Apa apa?” Mardhi menghampirinya dan duduk di hadapan sahabatnya itu.
“Ada petunjuk baru,” Lingga menarik nafas panjang.
Mardhi menyimak. Ia penasaran.
“Ternyata ketiga perempuan itu, kenalan dari Guntur Tranggana. Acara masquerade party tersebut diselenggarakan Tranggana Foundation,” jelas Lingga. “Jadi… Kunci dari semua ini ada di kepala si Guntur.”
“Kenapa ketiga perempuan itu mengenakan gaun merah dan topeng moretta?
“Lalu, siapa ketiga perempuan itu? Apa latar belakangnya?
“Kalau mau tahu cepat, kita bisa bertanya kepadanya. Tapi…”
Mardhi mengangguk angguk.
Ia bisa memahami kalau Lingga tidak ingin berurusan dengan seorang Guntur Tranggana. Dalam lingkungan pergaulan mereka, Guntur memiliki reputasi ganda. Di hadapan publik, lelaki itu terlihat kharismatik dan memesona. Tapi dibaliknya, dia adalah seorang ‘player’ atau istilahnya ‘red flag’.
“Jadi, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Mardhi.
“Aku harus mencari si nomor satu secepat mungkin. Dia membutuhkan pertolongan, aku yakin…” gumam Lingga. “Tapi kalau bertanya pada Guntur secara langsung mengenai identitas tamu malam itu, bagaimana kalau…
“Bagaimana kalau justru perempuan itu ada kaitan dengan Guntur Tranggana? Bagaimana kalau ternyata, dia melarikan diri dari lelaki itu?”
“Iya juga…” Mardhi memikirkan kemungkinan itu.
“Maksudnya, aku jadi terpikirkan, jangan jangan lelaki yang mengenakan kostum antik itu adalah Guntur,” gumam Lingga.
Mardhi membuka laptopnya sambil melihat rekaman CCTV yang mempertontonkan lelaki berpakaian antik nan mewah tersebut. Ia menekan tombol ‘pause’.
“Ini lelaki yang kita curigai sebagai sosok yang membuat si nomor satu meminta tolong,” tunjuk Mardhi ke layar laptop.
“Sekarang, ini foto Guntur Trenggana,” Mardhi membuka ponselnya dan melakukan pencarian putra dari Gatra Trenggana tersebut. Ia membandingkan apa yang terlihat di layar ponsel dengan layar laptop.
“Kamu benar,” ucapnya lagi. “Postur tubuh si lelaki berkostum dengan postur Guntur itu mirip. Baik tingginya badannya dan juga lebar bahunya.”
Lingga memperhatikan layar ponsel dan laptop secara bergantian.
“Kamu benar,” Ia menarik nafas panjang. “Coba, apa bisa zoom wajah lelaki bertopeng tersebut?”
“Tadi sudah aku coba, hasilnya malah tambah burem,” Mardhi memperlihatkan foto lain di laptopnya yang merupakan hasil zoom dari rekaman cctv.
“Iya, tidak jelas,” gumam Lingga.
“Kecuali, kita minta bantuan ahli,” Mardhi kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi seseorang lalu mengirimkan sesuatu. “Aku coba minta orang desain yang kerja di restoran untuk coba mengutak atiknya. Semoga saja bisa sedikit jelas.”
“Nice,” Lingga tersenyum senang.
“Kita harus gerak cepat bro… Winter break hanya tiga bulan saja. Aku berharap urusan ini selesai sebelum aku kembali ke lintasan,” ucapnya lagi.
“Memang kenapa?” tanya Mardhi bingung. “Kalau memang kamu sudah harus kembali balap, serahkan saja urusan ini pada orang lain. Banyak staf ayahmu yang kompeten untuk mencari tahu soal ini. Om Cakra pasti membantumu juga…”
Lingga tersenyum lebar, “Kalau aku berhasil menemukan si nomor satu dan kalau ternyata dia si gadis halte bis, aku tidak akan membuang waktu lagi. I’m going to marry her.”
“Kamu gila. Bagaimana kalau dia tidak mau?” Mardhi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Lingga tertawa terbahak bahak, “Lingga Mahapraja tidak menerima kata ‘TIDAK’. Dia akan menjadi istriku… Kalau perlu, ayah dan ibu akan memohon kepadanya.”
“Sin ting…” Mardhi melemparkan remasan kertas ke arah sahabatnya itu.
“Aku serius. Jadi saat winter break berakhir dan aku harus berangkat ke Saudi Arabia, dia harus ikut. Istriku harus mendampingiku,” tegas Lingga lagi.
Bayangan ciuman di malam itu kembali merasuk.
Ah… Aku semakin yakin kalau kamulah si gadis halte bis.
“Jangan senyum senyum sendiri,” Mardhi merasa kesal sendiri memperhatikan tingkah sahabatnya.
Lingga tertawa terbahak bahak.
“Putaran pertama nanti di Saudi Arabia?” tanya Mardhi mengalihkan pembicaraan.
“Iya,” Lingga menarik nafas panjang. “Ah sudah dulu. Jangan bicara soal balap. Sekarang kita bicara dulu soal kostum antik yang dikenakan lelaki di rekaman cctv itu, apa kamu sudah menemukan petunjuk? Siapa pemiliknya? Atau dibuat dimana?”
“Sebentar,” Mardhi mengecek email di laptopnya. “Aku sudah meminta ada yang mencari tahu mengenainya. Siapa tahu sudah ada petunjuk.”
Lingga menanti dengan penuh harap. Ia memperhatikan wajah sahabatnya yang sangat serius menatap laptopnya.
“Kamu membuatku tegang. Ada informasi atau tidak?” tanya Lingga lagi. “Aku tidak sabar.”
“Mmm… Menurut informanku, katanya itu kostum yang dipesan khusus meniru gaya Baroque abad kedelapan belas dengan detail tinggi,” gumam Mardhi. “Tidak sembarang perancang busana yang bisa membuatnya. Harus yang memang memiliki keahlian tinggi.”
“Aku juga tahu kalau itu,” Lingga geleng geleng kepala. “Siapa informanmu itu? Sepele sekali informasinya…”
“Belum selesai bicara. Dengarkan dulu sampai selesai,” Mardhi tergelak. “Yang pasti kostum ini replika antik yang menyerupai karya seni. Bahannya velvet mewah yang diimpor dari Italia dengan kombinasi sutra. Lalu topengnya itu mirip topeng venesia one of a kind yang kemungkinan besar juga diimpor dari Italia.
“Satu satunya perancang tanah air yang bisa membuatnya adalah Dhatu Nastiti dari Nastiti Atelier.”
“Oww…” gumam Lingga.
“Kita temui dia. Ayo…” Lingga bangkit dari kursinya.
“Sekarang?” tanya Mardhi.
“Tidak, setahun lagi…” Lingga melangkah keluar dari ruangan tersebut. “Ya sekarang lah.”
“Ahh… Serius… Kamu mengesalkan. Cinta membuatmu jadi abnormal,” Mardhi mengambil jaketnya lalu mengenakannya sambil berlari mengejar Lingga. “Kenapa juga aku harus ikut?”
“Aku tidak tahu siapa itu Dhatu Nastiti. Dan tidak tahu dimana lokasi atelier nya..”jawab Lingga.
“Memang kamu pikir aku tahu?” Mardhi geleng geleng kepala.
“Sudahlah. Jangan banyak mengeluh,” Lingga tertawa. “Help me, help her…”
Keduanya bergerak ke arah parkiran dan memasuki mobil Lingga. Tak lama, deru mobil Porsche Panamera terdengar di jalanan.