Lingga tiba di kediaman orangtuanya.
“Ibu mana?” tanyanya pada staf rumah yang menatapnya dengan kagum.
“Di taman belakang,” jawabnya gugup.
Lingga tidak meresponnya lagi dan langsung melangkah ke halaman belakang rumahnya. Ibunya terlihat sedang merawat beberapa tanaman kesayangannya.
“Bunga pun kalah cantik dari ibuku…” Lingga mengecup pelipis ibunya dengan sayang.
Laksmi langsung tersenyum senang, “Kamu memang anak ayahmu. Perayu ulung.”
Lingga hanya tertawa, “Ibu, aku mau bicara, penting. Empat mata.”
“Tunggu di ruang makan. Sebentar lagi selesai,” jawabnya.
“Ya,” Lingga bergerak masuk ke dalam rumah menuju ruang makan. Ia duduk sambil menikmati aneka camilan yang ada di hadapannya.
“Kembali ke Indonesia membuatku ingin makan terus,” gumamnya. “Juaranya karbo…”
Tangannya mengelus perutnya yang jauh dari kata buncit.
“Ada apa?” tanya Laksmi tiba tiba muncul di balekangnya
“Ini soal calon pengantinku,” Lingga tergelak.
Laksmi langsung berubah cerah ceria, “Apa kamu sudah memilih?”
“Memilih siapa?” Lingga tertawa. “Kenal saja belum.”
Laksmi bertanya tanya, “Lalu…? Kamu hanya membuat ibu memiliki harapan palsu…”
Lingga menahan senyumnya ketika memperhatikan raut wajah ibunya yang berubah cemberut.
Ia pun tertawa sambil merangkul ibunya, “Jangan kecewa begitu. Aku bertekad akan menemukan si gadis halte bis itu dan menikahinya. Sudah mulai ada titik terang.”
Laksmi langsung merasa senang. Ekspresinya berubah berseri seri.
“Ibu yang akan membantuku untuk menemukannya,” ucap Lingga lagi.
“Apa? Apa yang bisa ibu bantu?” tanyanya bersemangat.
Lingga merasa lucu memperhatikan perempuan yang melahirkannya itu begitu antusias. Ibunya masih terlihat awet muda di usianya yang ke lima puluh delapan tahun. Kedua orangtuanya memang menikah muda karena perjodohan dan berhasil menjaganya sehingga awet dan langgeng.
Ibu menikah di usia dua puluh dua tahun dan melahirkannya di usia dua puluh tiga tahun. Usianya selisih lima tahun dari sang ayah.
Itu sebabnya, diusianya yang kepala tiga, ibu dan ayahnya sedikit was was. Meski sebetulnya di era sekarang, menikah tidak lagi mengenal usia muda atau tua. Tapi Lingga memahaminya.
Sebagai keluarga konglomerat dengan nama besar dan perusahaan yang mempekerjakan puluhan ribu karyawan di seluruh Indonesia, keturunan menjadi hal penting. Ayahnya tidak akan tenang sampai cucunya lahir ke dunia.
“Jangan melamun,” Laksmi menepuk pelan lengan anaknya. “Apa yang bisa ibu bantu?”
“Eh ya,” Lingga tersadar. “Ini soal gadis bergaun merah. Saat ibu dan ayah memintaku berkenalan dengan tiga orang perempuan di pesta itu, Om Cakra bilang cirinya mengenakan gaun merah.
“Kenapa bisa ibu dan ayah tahu kalau ketiga gadis itu akan mengenakan gaun merah?”
“Itu informasi yang ibu dapatkan dari Garini. Garini Tranggana, ibu dari Guntur Tranggana. Kamu kenal Guntur bukan?” tanya Laksmi memastikan.
Lingga mengangguk angguk.
Keluarga Tranggana merupakan keluarga konglomerat yang bergerak di industri hiburan. Gatra Tranggana, ayah dari Guntur adalah ‘Raja Hiburan’ alias ‘King of Entertainment’. Ia mengenal Guntur tapi tidak sebagai teman dekat. Hubungannya hanya formalitas saja. Sekedar kenal.
“Apa yang Tante Garini sampaikan?” tanya Lingga lagi. “Persisnya bagaimana?”
“Masquarade Party Benefit Ball merupakan acara amal yang diselenggarakan Tranggana Foundation. Itu sebabnya Garini menemui ibu dan menceritakannya.
“Obrolan kita langsung menyinggung soal kamu yang masih single. Akhirnya Garini bilang kalau Guntur mengundang beberapa teman teman perempuannya yang masih single. Katanya lagi, siapa tahu kamu bisa datang ke acara amal tersebut dan berkenalan dengan mereka.
“Singkat cerita, Garini meminta data perempuan perempuan tersebut dan menyerahkan tiga nama pada ibu. Dia juga bilang kalau ciri dari ketiga perempuan itu mengenakan gaun merah.
“Soal gaun merah, ibu tidak tahu apapun. Hanya dari cerita Garini saja.”
Lingga terdiam.
Ini melebar. Bahkan melibatkan Keluarga Tranggana.
Aku semakin penasaran.
“Jadi ketiga nama itu dari Guntur?” Lingga mengerutkan keningnya.
“Iya,” angguk Laksmi. “Tapi Garini menjamin kalau mereka perempuan baik baik. Guntur mengenal ketiga perempuan itu dalam lingkungan pergaulannya. Jadi ibu pikir…”
Lingga menarik nafas panjang.
Kalau ibu mendengar rumor soal Guntur, rasanya tidak akan memintaku mengenal perempuan pilihan seorang Guntur Tranggana. Tak heran sikap Lanaya begitu berani. Dia berada dalam lingkungan pergaulan anak Om Gatra.
“Apa ibu salah?” tanya Laksmi bingung. “Apa ketiga perempuan itu tidak baik baik saja?”
Lingga hanya tergelak, “Tidak salah. Ibuku yang cantik selalu benar.
“Bahkan, siapa tahu, salah satu dari ketiga gadis cantik itu adalah calon istriku. Kalau terjadi, ibulah yang paling berjasa menemukan jodohku.”
Laksmi ikut tertawa, “Kamu memang anak ayahmu.”
“Anak siapa lagi kalau bukan anak Luhung Mahapraja?” Lingga merangkul ibunya.
Laksmi hanya tertawa.
“Sekarang aku harus pergi,” ucapnya sambil mengecup kening Laksmi.
“Kemana?” ibunya itu langsung mengerutkan keningnya. “Makan malam dulu di sini.”
“Tidak. Aku harus segera menyelesaikan semua ini. Waktu off ku hanya tiga bulan. Jadi mau tidak mau harus gerak cepat agar calon menantu ibu bisa segera diketemukan.”
Laksmi akhirnya membiarkan putranya pergi.
Ia hanya geleng geleng kepala memperhatikan sosok Lingga berlari keluar dari rumah dengan cepat. Lalu terdengar derum keras dari mobil sport nya.
Dasar pebalap.
Laksmi hanya membiarkannya saja. Dari kecil, Lingga sering dibawa ayahnya ke kantor juga ke pabrik perakitan mobil. Itu sebabnya, dia memiliki ketertarikan yang begitu besar akan dunia otomotif. Mainan mobil mobilan dan motor motoran menumpuk di rumahnya. Saking tertariknya, dari usia remaja, Lingga mulai mengerti mesin dan bisa memahami gangguan pada kendaraan yang digunakannya. Meski sayangnya, putranya itu hanya tidak tertarik berbisnis.
Luhung dan Laksmi tentu saja tidak bisa memaksakan. Anaknya bisa tidak bahagia kalau tidak melakukan yang diinginkannya. Apalagi dari kecil, Lingga konsisten ingin menjadi pebalap. Dengan tekad kuat, cita citanya itu tercapai.
Laksmi hanya tersenyum mengingat semua itu.
>>>
Lingga dengan cepat menghubungi sahabatnya.
Mardhi : “Ya.’
Lingga : “Kamu masih di restoran?”
Mardhi : “Masih.”
Lingga : “Aku ke situ. Tunggu.”
Mardhi : “Ya.”
Lingga mengemudikan kendaraannya secepat mungkin.
Ia terpikirkan sesuatu.
Kalau Guntur Tranggana terlibat, pasti ada sesuatu yang salah. Tak heran, perempuan itu meminta tolong kepadanya.
‘HELP’…
Satu kata yang membuatnya tergerak untuk segera melakukan sesuatu.