WHY, HELP?

1078 Kata
Mardhi menatap Lingga dengan serius. “Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya. Lingga menarik nafas panjang, “Dia bilang HELP. Kenapa aku sampai mengabaikannya? “Menurutmu, apa yang terjadi?” Mardhi hanya menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Banyak kemungkinan.” “Sebelum dia menciumku, perempuan itu sempat bilang agar aku jangan salah paham,” gumam Lingga. “Mmm…” Mardhi menggumam. “Apa mungkin ada yang mengejarnya? Dia menciummu untuk menutupi dirinya sendiri agar tidak terlihat oleh si pengejar? “Seperti di film film. You know..” Lingga terdiam, “Bisa jadi. Kamu benar. Sepertinya aku harus meminta rekaman CCTV di dalam ruangan acara.” “Nah itu dia jawabannya. Rekaman CCTV. Kita pasti akan menemukan sesuatu. Aku akan membantumu,” ucap Mardhi lagi. Lingga kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Cakra Atmaja. Cakra : “Halo.” Lingga : “Om. Saya butuh juga rekaman CCTV ruangan utama.” Cakra : “Sudah ada. Sesuai perintahmu untuk mencari tahu kejadian hari itu, jadi om sudah meminta rekaman CCTV di beberapa titik di lokasi acara.” Lingga : “Baguslah.” Cakra : “Om kirimkan link drive nya sekarang.” Lingga : “Terima kasih.” Ia menyimpan ponselnya. “Aku pinjam laptop,” ucap Lingga. “Tunggu,” Mardhi menghubungi seseorang dan memintanya membawakan laptop ke ruangan private tempatnya berada. Ia lalu meletakkan laptopnya di atas meja. Lingga langsung menghubungkannya dengan ponselnya sehingga bisa memindahkan link yang diterimanya. Ia pun mencari titik CCTV yang ada di ruang utama. “Ini dia,” Lingga membuka satu rekaman. Mardhi ikut memperhatikan situasi dan mencari gadis bergaun merah. “Itu… Itu… Itu bukan?” ucapnya sambil menunjuk layar. Lingga menghentikan perputaran video dan memperbesar layar. “Aku sedikit lupa model pakaian yang dikenakannya,” gumamnya. “Rambutnya panjang dan…” Lingga tidak meneruskan ucapannya tapi melanjutkan memutar rekaman tersebut, “Kita lihat saja. Apa yang terjadi berikutnya…” Gadis bergaun merah itu bergerak di antara kerumunan. Lingga terus menerus mengamatinya dengan seksama. Hingga akhirnya, gadis itu menghampirinya dan berbisik di telinganya. “Itu kamu bukan?” Mardhi memicingkan matanya. Lingga menjawab dengan anggukan. Ia fokus pada yang terjadi berikutnya. Gadis itu menciumnya dan selanjutnya… Mardhi tergelak, “Woow man… Itu bukan sekedar ciuman. Do you kiss her or make love or what?” Lingga tersenyum. Entah kenapa memperhatikan adegan tersebut membuatnya berdebar. Ia kembali teringat ciuman malam itu… Seketika, perutnya berdesir. Ada rasa ingin kembali memeluk perempuan tersebut. Mardhi geleng geleng kepala, “How long are we going to see you and her… Kissing…” “I mean… More than five minutes… Man…” ia menatap jam di tangannya. “Kalau tidak ada orang orang di situ, kalian bisa saja berlanjut ke tahap berikutnya,” Mardi bersiul. Lingga kembali tersenyum. Sahabatnya itu betul. Aku bisa berbuat lebih andai tidak ada orang orang di sekelilingku. Mardhi tiba tiba menunjuk layar, “Lihat orang ini… Sikapnya… Seperti sedang mencari seseorang.” Lingga mendekat ke layar dan memperhatikan yang dimaksud sahabatnya. “Sepertinya.. Kita menemukan penyebab yang membuat si nomor satu meminta tolong kepadaku,” ucapnya. Lingga menghentikan rekaman video yang sedang dilihatnya lalu memperbesar sosok orang yang dimaksud Mardhi. Ia lalu menggeser ke arah si nomor satu. “Kamu lihat, arah pandangan si nomor satu memang ke sini, tempat orang ini berada,” ucapnya. “Bisa jadi, dia memang menghindar dari kejaran orang ini. “Pertanyaannya, kenapa harus menghindar? Ada apa?” Lingga memperbesar gambar sosok orang tersebut. Seorang laki laki yang mengenakan kostum bak bangsawan di abad ke enam belas. Topeng yang dikenakannya menutupi seluruh bagian wajahnya jadi Lingga tidak bisa mengenalinya. “Mungkin lelaki ini semacam fans berat? Dia mengejar ngejarnya, tapi si nomor satu menolaknya jadi dia menghindar,” Mardhi menduga duga. “Bisa jadi, bisa jadi… Itu sebabnya si nomor satu menciumku. Mungkin untuk membuat laki laki itu marah?” gumam Lingga. ”Atau membuatnya cemburu? “Apa jangan jangan… Lelaki itu kekasihnya?” Lingga tiba tiba saja merasakan cemburu. Kenapa juga aku harus seperti ini? Tapi kalau lelaki itu memang kekasihnya, apa kisah ini berakhir sebelum dimulai? Mardhi tergelak, “Apa kamu akan kecewa kalau lelaki itu ternyata kekasihnya?” Lingga hanya menyeringai karena kesal. Mardhi langsung tertawa terbahak bahak, “Kalau memang dia sudah memiliki seseorang, artinya… Ini pertama kali kamu ditolak. “Bagaimana rasanya bro?” Lingga menatap Mardhi dengan kesal. Seumur hidupnya, tidak pernah ada perempuan yang menolaknya. Bahkan, sosoknya seperti magnet yang sering menarik kaum hawa. Kejadian bersama gadis di halte bis itu bukanlah penolakan tapi hanya hubungan yang tertunda. “Ah sudahlah, mendengar kata katamu membuatku dongkol,” Lingga menghentikan pembicaraan tersebut. “Kembali ke rekaman CCTV ini, lelaki ini mengenakan kostum mahal. Apa kamu bisa mencari tahu mengenai kostumnya?” Lingga menunjuk kostum bangsawan yang dikenakan lelaki tersebut. “Ini bukan sekedar pakaian. Kalau aku lihat lebih seksama, ini barang mahal dan antik. “Data pemiliknya pasti bisa dengan mudah ditemukan.” Mardhi memperhatikan yang dimaksud Lingga, “Kamu… Benar juga.” Ia mengambil tangkapan layar dari gambar lelaki tersebut. “Aku coba cari tahu.” Lingga mengangguk angguk. Ia mengulang rekamannya dan mencoba fokus pada area di antara lelaki tersebut dengan gadis bergaun merah yang menciumnya. “Iya, kamu benar, aku semakin yakin kalau si nomor satu melarikan diri dari lelaki ini,” Lingga menghela nafas. “Ini menggelitik rasa ingin tahuku…. Tidak hanya soal si gaun merah, tapi juga mengenai si pemilik kostum bangsawan ini.” Lingga mengingat kejadian malam itu sedetail mungkin. Cara si nomor satu menyebut kata ‘HELP’ seperti memang ketakutan. Desahannya dan caranya menyentuh tubuhku tidak biasa. “Ahh…” Lingga menggebrak meja. “Kita harus bergerak cepat.” Mardhi menatapnya, “Kenapa tiba tiba?” “Kenapa aku merasa kalau dia berada dalam bahaya?” Lingga menggertakkan giginya. “Caranya bicara saat meminta tolong..” gumamnya tanpa meneruskan ucapannya. Mardhi kemudian memutar ulang rekaman cctv tersebut dan mencoba memperbesar volume saat si nomor satu mendekat ke arah Lingga. Ia menajamkan pendengarannya. “Hmm…” Mardhi menatap sahabatnya, “Bisa jadi, gara gara si nomor satu ini, membawa kita pada intrik intrik yang tidak terduga… “Something happened.. I knew it.. More than a girl running away from her boyfriend. But something more.” “Jangan buang buang waktu. Bantu aku cari identitas si laki laki itu,” Lingga bangkit berdiri. “Kamu mau kemana?” Mardhi bertanya tanya. “Aku harus bicara pada ibu, soal gaun merah itu…” Lingga langsung bergerak pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN