LANAYA ISVARA

1101 Kata
Lingga terdiam. Ia mencoba mengenali perasaannya sendiri sehingga membiarkan ciuman itu terjadi dan tidak menolaknya. Tiga detik bibir mereka melekat, lalu Lingga menghentikannya. She’s not the one… “Kenapa?” Lana bertanya tanya. “Bukankah kamu mengajakku ketemu?” “Tidak untuk menciummu…” Geleng Lingga terus terang. “Seperti yang aku bicarakan sebelumnya, ada yang ingin aku bicarakan.” Lana tersenyum. Ia mendekat dan menggerakkan jari jemarinya di sudut bibir Lingga, “Ada lipstikku di sini.” Dengan lembut ia mengecup rahang Lingga dan berbisik, “Kamu yang memulai, di pesta itu, bukan aku.” Lingga hanya tersenyum, “Itu sebabnya aku yang menghentikannya. Dia yang memulai, dia juga yang harus menghentikan.” Lana terlihat kecewa, “Aku tidak memintamu berhenti.” “Let’s put the talk on hold…” Lingga menghentikan pembicaraan tersebut. “Ada yang ingin aku tanyakan terlebih dahulu.” “Ada apa?” tanyanya ogah ogahan. “Malam itu, di lokasi acara, apa ada sesuatu terjadi?” Lingga bertanya. “Seperti apa maksudmu?” tanya Lana. “Apa ada keributan? Atau tamu tak diundang?” Lingga mengemukakan maksudnya. Lana menyilangkan kakinya dengan santai hingga membuat paha putihnya semakin jelas tersingkap, “Setahuku tidak ada apapun yang terjadi. Memang kenapa?” “Mmm..” Lingga terdiam. Ia tidak mungkin mengungkapkan mengenai permintaan tolong dari si nomor satu malam itu. “Aku hanya ingin tahu.” “Malam itu, sejujurnya aku datang terlambat,” terang Lana. “Lalu… Setelah insiden kita, mmm.. Aku sedikit bad mood dan akhirnya pulang. Jadi tidak berlama lama di sana juga… “Kalau kamu mau, aku bisa tanya temanku. Mungkin dia bisa menceritakan sesuatu…” Lingga menatap Lana. Perempuan di hadapannya menatapnya dengen genit. Gestur dan caranya bersikap seperti berusaha menggodanya. Ah… Aku hanya laki laki biasa. Lana sungguh menggoda. She’s hot. Andai hari ini adalah Lingga sebelum masquerade party lalu, mungkin aku akan meresponnya. Apalagi aku sudah berniat untuk move on. Tapi, pertemuan dengan si nomor satu membuatku sulit melupakannya. Dia seperti gadis di halte bis itu. Aku… Gagal move on. “Kalau kamu bisa membantuku… Mmm… Itu bagus. Informasi sekecil apapun akan membantuku,” Lingga menjawab dengan anggukan dan tersenyum. Lana kemudian menyodorkan ponselnya, “Nomormu.” Lingga tersenyum sambil mengambil ponsel Lana. Perempuan ini bisa saja. Dia berhasil mendapatkan nomorku. Nice move woman… Sesaat, terbersit ide untuk memberikan nomor Mardhi daripada nomornya. Tapi Lingga berubah pikiran. Ia menuliskan nomornya yang sesungguhnya. Lana tersenyum, “Ini nomor aslimu bukan?” “Try me,” Lingga tergelak. Lana kemudian menghubungi nomor tersebut dan ternyata terhubung ke ponsel Lingga. “See… Aku tidak bohong,” Lingga menunjukkan layarnya yang memperlihatkan nomor Lana. Lana kembali mempertontonkan senyumnya yang manis dan menggoda. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Lingga hingga kedua gunung kembarnya itu hampir menempel. “Kamu bisa menghubungiku kapan saja,” desahnya. “Anytime?” Lingga balas menggodanya. “Yes… Anytime,” Lana dengan berani mengelus d**a pebalap nomor satu dunia tersebut. Lingga sudah terbiasa menerima rayuan dari para perempuan yang tertarik kepadanya. Tanpa dia berbuat apapun, kaum hawa selalu mendekat dan memberikan nomor ponselnya dengan sukarela. Sikap Lana kepadanya bukanlah sesuatu yang asing. Lama kelamaan, Lingga semakin terbiasa dengan perilaku agresif para perempuan yang mendekatinya. Bahkan, sebagai lelaki normal, tidak semua godaan itu berhasil ia tahan. Sekali dua kali, ada perasaan yang tumbuh hingga ia menjalani satu hubungan meski tidak pernah lama. “Aku harus pergi,” Lingga menggeser posisi duduknya, tapi Lana menahannya dan dengan berani mengecup pipinya. “Call me,” bisiknya. Lingga bangkit berdiri dan tersenyum, “Let’s see…” Ia hendak melangkah keluar dari lounge, namun… Satu pertanyaan kembali terbersit dalam ingatannya. Lingga terdiam beberapa saat dan berpikir. Gaun merah. Topeng moretta. Mereka berempat mengenakan gaun merah dan topeng moretta, apa kebetulan? Atau tidak kebetulan? “Ada apa?” Lana bangkit dari kursi dan berdiri di hadapan Lingga. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki tampan itu, “Apa kamu ragu untuk pergi? “Aku tidak pernah seperti ini pada lelaki manapun. Tapi… Ciumanmu malam itu membuatku berdebar. Sejujurnya, aku senang bisa ketemu kamu lagi hari ini.” Lingga lagi lagi tersenyum, “Aku senang membuatmu senang.” Lana ikut tersenyum, “Jangan menggodaku. Ini serius.” “Aku juga serius,” Lingga menatapnya sambil melepaskan kedua tangan Lana yang merangkulnya. “Ada satu hal lain yang ingin aku tanyakan. Malam itu, kamu mengenakan gaun merah dan topeng moretta. Apa itu semacam dress code? Atau kebetulan saja? Karena aku melihat ada beberapa orang perempuan lain yang juga mengenakan gaun merah dan topeng moretta.” “Oh gaun dan topeng itu?” Lana mengembungkan pipinya menahan rasa kecewa karena Lingga menolak rangkulannya. “Ada yang mengirimkannya bersamaan dengan undangan ke acara tersebut.” Lingga mengerutkan keningnya, “Gaun dan topeng itu ada yang mengirimkannya? Bersamaan dengan undangan?” “Iya,” Lana mengangguk. “Undangan, topeng dan gaun dikirimkan bersamaan.” “Siapa yang mengirimkannya? Apa kamu tahu?” tanyanya lagi. “Mmm… Aku pikir karena masquerade party, jadi…” Lana tidak meneruskan ucapannya. “Aku jadi bingung juga.. “Sepertinya, aku harus melakukan konfirmasi pada penyelenggara charity benefit kemarin.” Ia baru tersadar. Lingga kembali diam dan mendadak bingung. Apa ada hubungan keempat orang perempuan berbaju merah tersebut? Apa mereka semua mengenakan gaun merah dan topeng moretta yang dikirimkan bersama dengan undangan? Ada apa ini? Aku jadi tambah penasaran. “Sorry, satu pertanyaan lagi, apa kamu mengenal seseorang bernama Lituhayu atau Larasati?” tanya Lingga lagi. Lana menggeleng dengan ekspresi tidak suka, “Jangan menanyakan perempuan lain kepadaku.” Lingga tergelak, “I have to go… Thanks for the talk.” “Call me,” Lana mengedipkan matanya dengan genit. Lingga lagi lagi tersenyum dan berbalik pergi. Ia menghubungi sahabatnya. Mardhi : “Aku di ruang ganti.” Lingga : “Aku ke situ.” Ia pun bergegas ke lokasi Mardhi berada. Sahabatnya itu sudah berpakaian rapi. “Kita harus bicara. Bantu aku,” ucap Lingga. “Ada apa?” Mardhi bertanya tanya. “Perutku lapar. Kita bicara di tempatku saja.” Mereka bergerak ke lokasi restoran milik Keluarga Diwangkara. Tak menunggu lama, setibanya di tempat makan mewah tersebut, Lingga langsung mengungkapkan semua percakapannya dengan Lanaya. Termasuk soal gaun merah dan topeng yang dikirimkan bersama undangan tersebut. “Ada apa ini?” Mardhi merasa heran. “Apa ada hubungan dengan Om Luhung dan Tante Laksmi? Kamu tahu soal ketiga perempuan bergaun merah dari ayahmu bukan?” “Mmm…” Lingga menggumam. “Aku hanya ingin tahu soal si nomor satu, tapi kenapa ada misteri ini? Dan, kenapa dia meminta tolong?” Lingga mengerutkan keningnya dan memikirkan langkah berikutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN