TAMU MISTERIUS

1035 Kata
Laksmi melotot tak percaya. “Lalu… Kalau seperti itu.. Kenapa kamu tidak mencarinya?” tanya ibu dari Lingga tersebut. “Sudah. Tidak ketemu,” Lingga menggelengkan kepalanya. “Kalau kamu memiliki calon istri, siapapun itu, kamu tidak perlu memilih dari tiga orang tadi,” Laksmi tersenyum lebar. “Meski aku sudah menciumnya?” Lingga menggoda ibunya. “Seperti yang kamu bilang, mereka perempuan dewasa. Kalau ciuman itu salah, mereka akan menuntutmu. Tapi kalau ciuman itu benar, suka sama suka, setidaknya tidak akan membuat mereka marah…” Laksmi mengalihkan perhatian. Di kepalanya sekarang, yang penting, putranya itu menemukan calon istri. Lingga hanya tertawa. “Cepat sekali ibu berubah pikiran,” ucapnya. “Ibu hanya mau kamu segera menemukan calon istri. Jangan sampai rumor itu menjadi kenyataan,” Laksmi bergidik. “Rumor apa? Jangan termakan ucapan orang yang tidak bertanggung jawab,” Lingga menggelengkan kepalanya. Laksmi melipat kedua tangan di dadanya dan menatap putranya dengan tatapan dongkol, “Kamu sungguh tidak tahu? Hal ini sudah menjadi pembicaraan kalangan terbatas.” “Aku tidak tahu,” Lingga mengangkat bahunya. “Aku tidak pernah peduli urusan rumor atau gosip. Bahkan meski itu soal diriku sendiri.” “Soal kamu penyuka sesama jenis. Itu rumornya,” Laksmi berterus terang apa adanya. “Ibu dan ayahmu ingin segera membuktikan kalau itu salah…” Lingga tertawa terbahak bahak lalu merangkul ibunya, “Ibuku sayang, anakmu ini normal. Bahkan mungkin abnormal. “Mana ada lelaki g a y mencium tiga orang perempuan dalam semalam. Jangan termakan rumor tidak jelas.” “Ibu tahu. Tapi sebagai orangtua, ibu dan ayahmu ingin membuktikan kalau hal itu salah,” tegas Laksmi. “Sekarang.. Ibu akan membantumu mencari gadis halte bis itu dan kalau sudah ketemu, kamu harus menikahinya. Bagaimana?” Lingga kembali tertawa terbahak bahak, “Jangan campuri urusan pribadi putramu yang sudah dewasa ini. Aku akan menikah, pada waktunya.” “Tidak ada waktu. Secepatnya kamu harus menikah dan memberikan cucu pada ayah ibumu ini. Lingga tergelak, “Ibu cocok jadi komedian. “Satu persatu. Menikah saja belum, jangan dulu bicara cucu.” Laksmi lagi lagi menggelengkan kepalanya, “Jangan buang buang waktu.” “Sudah. Ibu keluar dulu dari kamarku. Aku mau mandi dan setelahnya ada urusan yang harus aku lakukan,” Lingga mengusir halus perempuan yang melahirkannya ke dunia tersebut. “Ibu tunggu di ruang makan,” Laksmi bergerak keluar dari kamar putranya. “Ya, ya,” Lingga melangkah ke kamar mandi. Ia senyum senyum sendiri. Sikap ibu membuatku seperti anak kecil. Ada ada saja. Setelah selesai mandi, ia pun melangkah ke ruang makan. Senyum tersungging di wajahnya ketika menyadari bukan hanya ibunya, tapi juga ayahnya menanti di ruangan tersebut. Keduanya menatap tak berkedip memperhatikan tingkah lakunya. “Ada apa dengan ayah dan ibu? Aku bukan anak kecil lagi… Jangan seperti itu,” Lingga geleng geleng kepala. “Selain itu, ini rumahku, jangan sembarangan datang. “Bagaimana kalau sedang ada seseorang di rumah.” “Apa sering ada orang atau perempuan datang?” Luhung tersenyum penuh makna. “Itu urusanku,” Lingga mulai mengambil makanan yang tersaji di meja. “Winter break seharusnya jadi waktuku beristirahat, tidak dijejali misi impossible untuk menikah begini. “Waktuku beristirahat selama jeda musim hanya beberapa bulan saja. Banyak rencana yang ingin aku lakukan sebelum memulai musim berikutnya.” Luhung menatapnya, “Kamu masih tetap bersama Mercedes?” Lingga mengangguk, “Sekarang tim sedang fokus pengembangan mobil baru untuk musim depan.” “Kita manfaatkan momen kamu libur untuk mencari perempuan itu,” Laksmi tersenyum lebar. “Ibu yakin, misi impossible ini bisa menjadi possible.” Lingga tertawa terbahak bahak, “Sudahlah. Biarkan aku melakukannya sendiri.” “Sudah bertahun tahun ibu membiarkanmu tanpa hasil,” Laksmi kembali memaksa. “Ini waktunya orangtua terlibat.” Lingga lagi lagi tertawa, “Ah sudah. Aku mau makan dulu.” Drr… Drr.. Ada pesan masuk ke ponsel Lingga. Ia pun mengeceknya. Cakra : Ini link file cctv. Sesuai permintaanmu. Lingga : Thanks. “Aku minta sesuatu pada Om Cakra semalam,” ucapnya tiba tiba sambil menyimpan ponselnya. “Setelah ini, aku mau fokus pada urusanku, ayah dan ibu bisa pulang.” “Apa terkait calon menantu?” Laksmi tersenyum penuh makna. Lingga lagi lagi tertawa, “Iya. Bisa dibilang begitu.” “Baiklah, setelah sarapan, ibu dan ayah akan pergi,” ucap Laksmi lagi. Sarapan pun berakhir. Sepeninggal kedua orang tuanya, Lingga membuka link tersebut di laptopnya. Rekaman CCTV di area pintu masuk itu memperlihatkan tamu tamu yang berdatangan. Lingga mengabaikan mereka semua kecuali perempuan bergaun merah. Hmm… Perempuan nomor tiga datang paling awal. Kipas di tangannya jadi ciri yang tidak terelakkan. Lalu perempuan nomor dua. Perempuan pertama belum kelihatan. Dan tiba tiba kamera menangkap perempuan lain bergaun merah. Siapa dia? Gaun yang dikenakannya pendek. Dia bukan salah satu dari tiga perempuan yang aku cium. Sebut saja dia si nomor empat. Apa ada empat perempuan bergaun merah? Lingga terus menyimak rekaman tersebut. Hingga matanya menangkap satu perempuan bergaun merah yang menyelundup masuk begitu saja tanpa melakukan scan undangan. Dia… Dia si nomor satu. Kenapa dia tidak melakukan scan undangan? Apa dia tamu tak diundang? Lingga teringat kata kata pertama perempuan itu ketika memeluknya, ‘HELP ME’. Dia meminta tolong. Kenapa aku sebodoh itu melupakan hal tersebut? Lalu, dia tiba tiba menciumku. Ah, ada apa ini? Ia termenung. Aku tidak bisa melihat gerak langkahnya karena rekaman ini hanya cctv di area registrasi. Sepertinya, aku mencium dua orang dari perempuan yang seharusnya aku temui. Sedangkan satu orang lagi, perempuan yang pertama bukanlah tamu undangan. Atau… Undangan miliknya dicuri oleh tiga perempuan lainnya? Bisa saja bukan? Itu sebabnya dia meminta tolong? Ahh… Membingungkan. Lingga mengambil jaketnya lalu bergerak ke ‘garasi’ miliknya. Ia lalu menyalakan mesin satu mobil mewah miliknya berlogo kuda poni berjingkrak dengan tulisan STUTTGART di atasnya, yang merupakan nama kota tempat produsen mobil mewah tersebut awal berdiri. Porsche Panamera termasuk mobil sport yang tidak sulit dikendarai di jalanan Jakarta. Sebagai seorang pebalap formula satu, Lingga sangat menyukai kendaraan berkecepatan tinggi. Sayangnya, tidak semua kendaraan sport miliknya bisa dikendarai di jalanan ibukota. Mobil itu bergerak cepat keluar dari kediamannya menuju MAHAPRAJA OTO Headquarter, kantor ayahnya berada. Ia hendak menemui Cakra Atmaja untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai para perempuan bergaun merah tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN