Saat tiba di MAHAPRAJA OTO HEADQUARTER, Lingga memarkirkan kendaraannya di area reserve. Meski ia hanya tercatat sebagai pemegang saham, tapi sebagai anak tunggal dari pemimpin perusahaan dan pemilik saham mayoritas, juga cucu dari pendiri perusahaan, kuasanya besar kalau hanya untuk mendapatkan satu lahan parkir.
Selain itu, kalau ada yang melihat wajahnya dan mengenalinya sebagai Lingga Mahapraja, pembalap formula one nomor satu di dunia, siapapun pasti akan membiarkannya. Ia turun dari mobil sambil mengenakan masker, kacamata hitamm dan topi.
Lingga berlari menuju lift khusus dan naik ke lantai tiga puluh tiga yang menjadi lokasi ruangan Cakra Atmaja. Di dalam lift, ada satu dua orang meliriknya penuh rasa ingin tahu. Meski wajahnya tersamarkan oleh masker dan topi, namun beberapa bagian dari dirinya yang terlihat tetap mampu menarik perhatian.
Tubuh tingginya yang menjulang sepanjang seratus delapan puluh tujuh senti meter tentu saja berhasil membuat siapapun penasaran. Apalagi dengan bahu lebar dan d**a bidangnya. Belum lagi gaya berpakaiannya yang memang stylish. Sebagai pebalap, Lingga rajin menjaga tubuhnya agar selalu sehat dan fit.
Ia keluar di lantai tiga puluh tiga tanpa kendala. Saat hendak menuju ruangan Cakra Atmaja, seorang staf perempuan menghentikan langkahnya, “Bapak maaf, mau ke siapa?”
Lingga melepas kacamata dan maskernya. Ia kemudian memamerkan senyum mautnya yang menggoda. Staf perempuan di hadapannya langsung terpesona, “Oh.. Euh.. Ma.. Maaf saya tidak tahu ka.. Kalau bapak.”
“Tidak masalah,” Lingga mengedipkan matanya sambil tak henti tersenyum.
Staf perempuan di hadapannya itu semakin salah tingkah.
“Om Cakra ada?” tanyanya.
“A… Ada… Tapi… Kalau Bapak Luhung belum datang,” ucap staf tersebut.
“Saya hanya mencari om Cakra,” ucapnya sambil kembali mengenakan kacamata hitamnya.
“Si… Silahkan,” staf perempuan tersebut menjawab dengan gugup dan mencoba mengendalikan dirinya. Kalau bukan di kantor, mungkin saja ia langsung pingsan menahan histerisnya berhadapan langsung dengan pebalap ternama tersebut.
Semua karyawan MAHAPRAJA OTO tahu kalau Lingga Mahapraja adalah putra dari bos besar mereka yaitu Luhung Mahapraja. Jadi, meski bukan atasan secara langsung, tapi sosok Lingga patut mereka segani.
Lingga pun bergerak menjauh dari staf tersebut dan mengetuk ruangan Cakra Atmaja.
“Ya masuk,” balas suara dari dalam ruangan.
Lingga pun membuka pintu dan melangkah masuk, “Om.”
“Oh kamu. Ada apa?” tanyanya. “Ayahmu belum datang.”
“Saya mencari om,” ucapnya. “Bukan ayah.”
“Ada apa?” Cakra langsung penasaran.
“Saya mau meminta bantuan om mencarikan identitas perempuan bergaun merah nomor satu,” jawab Lingga.
“Mmm.. Nomor satu? Berdasarkan apa penomoran ini?” Cakra menahan senyumnya.
“Berdasarkan urutan ciuman. Dia perempuan pertama yang aku cium di pesta kemarin,” terang Lingga lagi.
Cakra tertawa, “Baiklah. Tapi itu mudah saja bukan. Kita bisa melacaknya dari urutan kedatangan lalu disesuaikan dengan daftar tamu di urutan tersebut.”
Lingga menyilangkan kedua tangan di dadanya, “That’s the problem.
“Si nomor satu sepertinya adalah bisa jadi, tamu tak diundang.”
“Maksudmu?” Cakra semakin bingung.
“Kita lihat rekaman cctv di area kedatangan masquerade party,” Lingga lalu memperlihatkan video yang dimaksud, “Lihat, perempuan ini masuk tanpa melakukan scan undangan. Dia si nomor satu.”
“Oh ya ya…” Cakra mengangguk angguk.
“Setelah aku amati video ini, terlihat jelas ada empat orang perempuan bergaun merah yang memasuki area pesta. Satu orang adalah tamu tak diundang. Tapi pertanyaannya adalah… Siapa tamu tak diundang itu? Apa nomor satu? Nomor dua? Nomor tiga? Atau nomor empat?” Lingga menatap Cakra dengan serius.
“Tapi… Bukankah tamu tak diundang itu si nomor satu?” Cakra bingung.
“Kalau lihat videonya, memang begitu. Hanya saja… Dia tiba tiba menghampiriku dan berkata ‘HELP’. Bagaimana kalau, ada insiden yang menyebabkan undangannya hilang, lalu ada perempuan lain yang menggunakannya. Bisa saja bukan?” tanya Lingga.
Cakra mengerutkan keningnya, “HELP? Dia meminta tolong kepadamu? Ada apa?”
“Itu dia misterinya. Apa yang terjadi?” Lingga menerangkan. “Dia masuk tanpa undangan, tiba tiba meminta tolong, dan… She kissed me…”
“Dia yang melakukannya lebih dulu?” Cakra bertanya tanya.
“Iya… Om mau tahu how great it is?” Lingga tergelak.
“Too much information,” Cakra menggelengkan kepalanya.
Lingga hanya tertawa, “Sudahlah. Sekarang bantu aku. Cari tahu identitasnya dan alasan dibalik permintaannya meminta tolong.”
“Ok. Om akan membantumu,” ucapnya.
“Oh ya, tiga dari perempuan bergaun merah itu pastinya perempuan yang ayah minta untuk aku kenal lebih jauh. Sayangnya, malam itu, aku tidak sempat bertukar nama ataupun nomor ponsel,” terang Lingga. “Apa aku bisa mendapatkan foto mereka?”
Cakra terdiam.
“Kenapa?” Lingga penasaran.
“Ibumu yang tahu,” ucap Cakra. “Tapi… Nanti om akan mencari informasinya.”
“Hhh.. Aku tahu ini pekerjaan ibu,” Lingga geleng geleng kepala.
“Tapi kenapa kamu ingin mencari si nomor satu ini? Apa kamu menyukainya?” Cakra tersenyum. “Ada apa dengan si nomor satu? Kamu menyukainya? Apa ayahmu akan segera mendapatkan menantu?”
Lingga tertawa terbahak bahak, “Satu satu… Aku butuh identitas dan wajah jelasnya terlebih dulu. Topeng moretta itu menghalangi wajah cantiknya. Too bad… Too bad.”
“Soal menantu? Kita lihat nanti…” Lingga berhenti tertawa.
“Semoga saja. Buat ayah dan ibumu tenang,” ucap Cakra.
Lingga bangkit dari kursinya sambil senyum senyum sendiri. “Temukan si nomor satu, dan mungkin saja, bisa jadi… Aku akan menemukan seseorang untuk mengikat diri.”
Cakra tersenyum lebar, “Semoga saja…”
“Aku pergi,” Lingga mengenakan kacamata hitam dan maskernya lalu keluar dari ruangan orang kepercayaan ayahnya itu.
Ia bergerak ke arah basemen, tempat mobilnya terparkir.
Drr.. Drr…
Ponselnya berbunyi. Ternyata sahabatnya, Mardhi.
Lingga : “Ya.”
Mardhi : “Kita harus ketemu.”
Lingga : “Ada apa?”
Mardhi : “Ini penting. Salah satu perempuan yang kamu sebutkan itu. Ada di sini, di tempatku berada.”
Lingga : “Aku ke situ. Kirimkan alamatmu.”
Mardhi : “Sudah
Lingga menutup ponselnya.
Porsche Panamera itu bergerak keluar dari parkiran basemen MAHAPRAJA OTO Headquarter.
Sepanjang jalan, senyum mengembang di wajahnya. Tanda tanya besar menggelitiknya.
Siapa perempuan itu? Si nomor satu? Dua? Atau tiga?
BRRMMM…
Deru suara Porsche semakin kencang sebagai tanda pengemudinya bergerak secepat mungkin.