“Gyan, coba lihat aku!” Gyan yang tengah menuangkan seluruh kreativitas artistiknya ke dalam susunan waffle dan es krim, mengerjap lalu menoleh. Belle hanya melongokkan kepala dari celah pintu kamar. Ia menatap Belle. Tidak berkedip. “Kenapa kamu malah diam?” sambat Belle. “Kamu yang bilang agar aku melihatmu? Aku sedang melakukannya,” tanggap Gyan tanpa dosa. Edith mendengus keras. Di seberang meja, Céleste hampir menangis—bukan karena terharu, melainkan karena terlalu sulit menahan tawa melihat tingkah menantunya yang konsisten menyebalkan. “Ke sini!” sentak Belle. Lalu, seolah baru sadar ada penonton, ia menoleh ke Edith. “Maman, maaf,” lirihnya. “Aku sudah memarahinya seumur hidupku, tapi itu percuma. Percayalah, ma chérie,” tanggap Edith. Ia lalu menoleh tajam ke Gyan. “Apa

