“Siap?” tanya Belle. Gyan mengangguk. “Aku sudah siap sejak tujuh belas bulan lalu,” jawabnya. “Kamu yang suka membuat orang menunggu.” Belle menahan senyum. “Aku tidak membuatmu menunggu. Jangan terlalu mendramatisir.” “Ya. Aku memang dilahirkan untuk mengisi panggung,” sahut Gyan. “Padahal hari ini kita ke balai kota,” balas Belle. “Balai kota juga panggung,” tanggap Gyan. “Hanya saja penontonnya pegawai sipil dan satu printer yang pasti macet.” Belle tergelak. Itu cukup untuk membuat Gyan merasa dadanya lega. Mereka turun ke lantai dasar, keluar dari lobi apartemen yang terlalu kumuh untuk menyambut atau melepas penghuninya. Bruno sudah menunggu di dekat sedan yang mereka pakai—bukan sedan paling mewah yang biasa dipakai untuk acara formal, tapi cukup nyaman, cukup aman, dan cuk

