Matanya terasa berat untuk terbuka, seakan memintanya untuk tetap terlelap. Terlebih saat sekelebat ingatan buruk itu muncul, ia ingin terlelap selamanya. Karena dengan begitu, ia tidak akan mengingat semuanya. Beryl, Kirana, Satya, Grace, semua berputar di otaknya. Namun rasa nyaman ini memaksanya untuk membuka mata dan melihat siapa yang menjadi sandarannya untuk terlelap. Matanya yang sembab perlahan terbuka sempurna dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Satya yang terjaga. Air mata kembali menetes dan ia mengeratkan cengkraman pada kemeja Satya. Seketika Satya menunduk saat merasakan tangan Raina menguatkan cengkraman pada kemejanya. "Kau sudah bangun?" Raina hanya diam dan menahan tangis. Ia merasa seperti jalang yang munafik. Saat Satya menyentuhnya, ia sama sekali tak bere