Ganika memutuskan untuk menemui teman kantornya yang bertugas di kantor pusat. Nimas, itu namanya. Keduanya janjian di coffee shop yang berada di samping gedung kantor stasiun televisi tempat mereka bekerja. "Bagaimana situasi kantor pusat? Aku kangen Jakarta," Ganika mulai memancing cerita. "As usual," ucap Nimas. "Sedikit hectic juga karena banyak demo akhir akhir ini, jadi... Ya... Persoalan politik jadi isu hangat yang membuatku cukup sibuk." "Kamu pindah ke desk politik?" Ganika tergelak. "Yes..." Nimas mengangguk. "Ribet dan penuh kepalsuan. Narasumber sok sibuk dan sok penting lah. Kebayang kan gaya pejabat seperti apa? Malas sekali... "Tapi... Lama lama seru juga. Terjun meliput politik penuh tantangan." "Situasi kantor sendiri bagaimana?" tanya Ganika lagi. "B

