Pagi berikutnya, sinar matahari menembus tirai tipis kamar besar itu, menimpa wajah Naura yang masih terlelap. Ia terbangun perlahan, kelopak matanya terasa berat, seolah tidur semalam tidak benar-benar menenangkan. Hening. Hanya suara burung di taman belakang yang terdengar samar. Untuk beberapa detik, Naura hampir lupa di mana dirinya berada—sampai pandangannya jatuh pada dinding besar, lemari kaca, dan meja rias elegan di sudut ruangan. Semua terasa asing, mahal, dan berjarak. Ruangan itu begitu luas, tapi dingin, seperti mencerminkan orang yang memilikinya. Ia menghela napas panjang, bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju balkon. Udara pagi menyentuh kulitnya lembut, tapi pikirannya masih terasa berat. Ia menatap halaman belakang rumah Ethan yang begitu rapi, taman dengan kol

