Ethan berdiri di depan jendela kaca besar ruangannya, menatap panorama kota yang dipenuhi gedung tinggi dan kilau mobil di bawah sana. Sinar matahari sore menembus kaca, memantulkan bayangan tubuh tegapnya di lantai marmer. Ia diam lama, tangannya bersedekap, rahangnya masih mengeras menahan sisa amarah yang belum reda. Vanessa datang tanpa pemberitahuan. Seharusnya ia tahu, wanita itu tidak akan menyerah begitu saja. Tapi melihat Vanessa berbicara dengan nada merendahkan seperti tadi—dan di depan Naura pula—membuat darahnya mendidih. Ia sudah berusaha keras memisahkan masa lalunya dari kehidupan barunya, namun wanita itu justru kembali menghantui langkahnya, seolah tak rela melepaskan kendali. Sementara itu, Naura masih duduk di kursi tamu, menatap punggung Ethan tanpa suara. Ia ingin b

