Keesokan paginya, matahari baru saja naik ketika Naura terbangun. Cahaya lembut menembus tirai kamar yang besar itu, membuat ruangan tampak hangat namun tetap asing baginya. Ia masih belum terbiasa tidur di tempat seindah dan semewah ini. Tempat tidur empuk dengan seprai putih bersih, meja rias elegan dengan cermin besar, dan balkon dengan pemandangan taman belakang yang luas — semua terasa terlalu berlebihan bagi seseorang yang semalam saja masih menahan tangis di sisi ibunya di rumah sakit. Naura duduk di tepi ranjang, meremas ujung piyama sutra yang diberikan pelayan semalam. Ia tidak yakin apa yang lebih membuatnya gelisah — kenyataan bahwa ia sekarang tinggal serumah dengan Ethan Arsenio, atau bahwa pria itu berniat membawanya ke kantornya hari ini. Pintu kamar diketuk pelan. “Nona,

