Pagi datang pelan. Sinar matahari menyelinap masuk lewat tirai krem yang setengah terbuka, menimpa wajah Naura yang masih tertidur di ranjang besar itu. Wajahnya tenang, tapi ada bekas lelah yang jelas di bawah matanya. Malam sebelumnya ia hampir tidak tidur—pikiran tentang Aditya, ibunya, dan Ethan saling bertubrukan tanpa memberi ruang untuk istirahat. Suara ketukan lembut di pintu membuatnya membuka mata. Pelayan masuk pelan, membawa nampan berisi sarapan. “Selamat pagi, Nyonya,” sapa pelayan itu sopan. Naura tersentak mendengarnya. “Jangan panggil aku Nyonya,” ujarnya buru-buru. Pelayan itu tersenyum kecil. “Maaf, itu perintah Tuan Ethan.” Naura terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk dan menatap sarapan di hadapannya—roti, omelet, dan segelas jus jeruk. Beber

