Naura menggenggam ujung selimut erat-erat, tubuhnya gemetar kecil meski udara kamar tidak terlalu dingin. Kata-kata Ethan yang tanpa sengaja ia dengar tadi malam terus berputar di kepalanya, seperti gema yang tidak mau berhenti. Dia nggak boleh tahu kalau aku masih bagian dari mereka. Bagian dari siapa? Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang disembunyikan dengan sengaja. Pagi datang tanpa tidur. Ketika cahaya matahari menembus tirai, matanya perih karena semalaman menahan kantuk dan ketegangan. Ia berdiri di depan kaca, menatap bayangan dirinya—wajah pucat, mata sembab, dan bibir yang kering. “Kamu harus tenang, Naura,” bisiknya pelan pada diri sendiri. “Jangan gegabah.” Ia tahu satu hal: Ethan bukan orang biasa. Dari awal pernikahan ini, sudah banyak hal yan

