Naura duduk di kursi belakang mobil, matanya menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota berkelebat cepat, bayangan gedung dan pepohonan menari di permukaan kaca. Tapi di dalam mobil, suasana begitu tegang dan hening. Ethan duduk di kursi depan, diam tanpa suara, tangannya menggenggam kemudi dengan kuat hingga buku jarinya memutih. Tidak ada satu pun kata terucap sejak mereka keluar dari klinik. Hanya suara mesin mobil dan detak jantung Naura yang terasa terlalu keras di telinganya sendiri. Ia ingin bicara, ingin menjelaskan bahwa semuanya hanya kebetulan, tapi tatapan Ethan tadi—dingin, tajam, nyaris menembus kulit—membuat lidahnya kelu. Akhirnya, setelah perjalanan yang terasa seperti selamanya, mobil berhenti di halaman rumah. Ethan turun tanpa menunggu, membuka pintu belakang, lalu berk

