Naura menatap pria di hadapannya itu lama — terlalu lama, sampai ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang semakin cepat. Kata-kata Ethan masih menggantung di udara, dingin namun sarat dengan makna yang sulit dicerna. > “Kamu yang paling dekat dengan satu-satunya kelemahanku.” Kalimat itu terus bergema di kepala Naura, memantul-mantul tanpa henti. Ia tidak tahu apakah harus tersentuh atau justru takut. Karena jika benar ia adalah “kelemahan” Ethan, berarti nyawanya juga menjadi taruhan dalam permainan yang bahkan ia tidak paham aturannya. “Aku nggak ngerti, Ethan,” suaranya nyaris bergetar saat akhirnya bicara. “Kenapa aku? Kenapa kamu sampai harus melibatkan aku dan Ibu? Aku cuma orang biasa. Aku bahkan nggak punya hubungan dengan dunia kamu.” Ethan menatapnya tajam, tapi kal

