Bab 26

1120 Kata

Naura duduk di sisi tempat tidur ibunya lebih lama dari yang ia sadari. Udara kamar yang lembap, aroma obat dan antiseptik yang samar, semuanya menciptakan suasana yang menggantung di dadanya. Di luar, suara burung sore dan langkah perawat sesekali terdengar lewat di lorong. Tapi di dalam ruangan itu, waktu terasa berhenti. Tangannya masih menggenggam tangan ibunya. Kulitnya dingin dan rapuh, seperti kertas tipis. Sesekali, Naura mengusapnya lembut, mencoba menghangatkan meski tahu hangat itu hanya sementara. “Ibu tahu kamu capek, ya?” suara ibunya serak tapi lembut. “Wajah kamu kelihatan lelah, Nak.” Naura tersenyum tipis, memaksa dirinya tampak tenang. “Enggak, Bu. Aku cuma belum terbiasa aja sama tempat baru.” “Tempat baru?” ibunya menatap penasaran. “Kamu sekarang tinggal di mana,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN