Naura duduk diam menatap wajah Ethan yang terlihat serius. Ia mencoba membaca maksud dari ucapannya, tapi pria itu tidak memberi ruang untuk bertanya. Suara jam dinding menjadi satu-satunya bunyi di antara mereka. Ethan meneguk tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkir di meja dengan hati-hati. “Besok pagi aku jemput kamu jam delapan,” katanya akhirnya. “Pakai pakaian yang rapi, jangan terlalu mencolok tapi juga jangan terlalu santai. Aku akan kenalkan kamu ke seseorang.” Naura menelan ludah. “Siapa?” tanyanya pelan. “Orang yang sudah lama kerja sama dengan keluargaku. Kamu nggak perlu khawatir, tapi aku mau kamu belajar bersikap di depan orang seperti mereka.” “Orang seperti mereka itu maksudnya gimana?” Ethan menghela napas. “Naura, dunia tempat aku bergerak itu nggak semuanya bersih

