Keesokan paginya, Naura bangun lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari menembus tirai jendela, membuat kamar besar itu terasa hangat tapi tetap hening. Ia sempat berdiri lama di depan cermin, memandangi wajahnya yang masih terlihat lelah. Matanya sedikit bengkak karena kurang tidur. Ia mengganti baju dengan kemeja santai berwarna putih dan celana panjang krem, lalu turun ke bawah. Di dapur, pelayan rumah sudah menyiapkan sarapan: roti, buah, dan kopi hitam. Naura mengambil segelas air putih sebelum duduk. “Pak Ethan sudah berangkat?” tanyanya pada salah satu pelayan. “Belum, Bu. Beliau masih di ruang kerja. Tadi pagi sudah olahraga, lalu langsung rapat daring,” jawab pelayan itu sopan. Naura mengangguk pelan, lalu menatap ke arah ruang kerja di seberang ruang makan. Dari pintu yang s

