“Ku berdebar saat mengingat Cassandra?” tanya mas Rafael, alisnya naik turun.
“Iya, aneh nggak?”
Sekali lagi mas Rafael meletakkan telapak tangannya di dahiku, “Aku yakin kok kamu nggak demam”
“Ih mas Rafa aku seriusan nih” omelku.
“Haha maaf, mungkin kamu kangen aja sama dia Nia. Kamu bilang terakhir dengar kabarnya saat acara tujuh bulanan bukan? Well kamu dan aku sama-sama nggak datang ke acara itu, jadi aku yakin kamu hanya kangen sama dia aja” kata-katanya sedikit menenangkan aku.
“Well baiklah, setelah dia lahiran aku akan berikan leluasa untuk menjenguknya. Aku yakin Bryan pasti membawa istrinya ke rumah sakit ini, kau bisa menjenguknya kapan saja” katanya lagi.
Senyumku tiba-tiba saja merekah mendengarnya, semua ucapannya selalu dia laksanakan seakan mas Rafael menganggap apa yang keluar dari mulutnya adalah janji yang harus di tepati. Malam dingin yang kami lalui ini semakin menusuk kulit, rasanya semakin dingin bila aku menggerakkan badan sedikit saja.
“Gimana mbak Ellaine, apa masih belum ada kabar darinya?” tanyaku penasaran, beberapa hari ini mas Rafael terkesan diam dengan informasi tersebut.
“Aku nggak bisa janji, tapi aku rasa dia akan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat ini” jawabnya pelan, ada sesuatu yang coba ia tahan.
“Benarkah itu? waah aku nggak sabar lagi ketemu mbak Ellaine mas, udah lebih dari lima bulan kami nggak bertatap mata. Kapan dia kembali?” sesungguhnya aku sangat menantikan momen ini sejak lama, aku sampai menunjukkan wajah bahagiaku pada mas Rafael.
“Emm, aku belum tahu kapan dia akan kembali tapi aku rasa dalam satu atau dua minggu ke depan” jawabnya, wajah mas Rafael kelihatan sangat senang melihatku bahagia.
“Baiklah, aku akan mengundangnya ke pesta kecil-kecilan nanti. Aku bakal masak banyak puding untuk mbak Ellaine, aku dengar dia sangat menyukai puding” gumamku sendiri.
“Lupakan soal Ellaine Nia, kau akan bertemu dengannya lagi. Well, siapa orang ketiga yang kau rindukan?” tanya mas Rafael, wajah itu lebih terlihat serius di bandingkan sebelumnya.
“Umm, aku nggak bisa memberitahumu sekarang mas. Aku yakin banget deh mas Rafael nggak akan percaya denganku”
“Hah, memangnya tentang apa itu?”
“Emm, ini tentang kisah dongeng modern yang nggak masuk akal kalo di ciptakan pada jaman canggih seperti ini”
“Ceritakan saja” ujarnya, aku tahu betul mas Rafael punya rasa penasaran yang tinggi.
“Ada seseorang yang selalu menjagaku dari kejauhan, dia menjagaku dari tatapan matanya yang indah” kataku mulai bercerita di malam menjelang subuh ini.
“Kau tahu siapa dia?”
Aku jelas menggeleng karena memang aku nggak tahu mereka, “Aku nggak tahu siapa dia”
“Kalo gitu kenapa kamu yakin banget kalo dia menjagamu?”
“Ada hal rumit diantara kami yang nggak bisa aku jelaskan secara rinci, dia nggak pernah menyakiti aku tapi dia selalu menjagaku setiap kembali dari kantor”
“Lalu?”
“Akhir-akhir ini aku nggak bisa ketemu dia, aku penasaran apa dia mencariku ya? aku ada di rumah sakit setiap hari, aku yakin dia pasti jalan-jalan di sekitaran rumahku setiap malam”
“Kau mau aku menangkapnya?” tanya mas Rafael sedikit menakutkan.
“Jangan dong, dia nggak nyakitin aku” cegahku, aku tahu benar mas Rafael sangat protektif pada temannya.
“Tapi tingkahnya kayak buntutin kamu begitu, aku ngga yakin dia nggak ada niat buruk denganmu”
“Mas Rafael” kataku pelan.
“Enggak enggak, aku nggak mau kamu kenal sama orang nggak bener begitu jadi jangan dekat-dekat dengan dia mulai sekarang” perintahnya tegas.
“Ih kalo kayak gitu aku nggak mau cerita lagi deh ke mas Rafael, ngeselin deh” kataku mulai sebal.
“Hei Nia, kau mau kemana?” teriak mas Rafael saat aku mulai meninggalkannya di taman.
“Mau sholat” jawabku sedikit judes.
“Nia balik sini, kita belum selesai bicara! Balik sini!” teriaknya, entah apa dia nggak malu di dengar oleh pasien lainnya.
Akan tetapi berada di sebelahnya yang terus saja mengomel tentang lelaki misterius saat itu membuatku berada di tengah dua rasa yang berbeda, satu sisi aku menyesal karena respon mas Rafael seperti itu terhadap orang yang ku rindukan, toh dia yang memaksaku untuk bercerita.
Di sisi lain aku ingin tertawa melihat tingkahnya yang konyol, wajah itu kelihatan lucu sekali saat marah. Yah harus aku akui lelaki misterius itu pasti membuat mas Rafael khawatir, siapapun yang mengetahuinya pasti akan bereaksi sama seperti beliau.
*
Hari-hari penuh bahagia seperti biasanya, aku datang ke kantor dengan semangat yang selalu aku tanamkan sejak bangun tidur. Yah meskipun subuh tadi aku sempat bersitegang dengan mas Rafael dan kami masih belum bicara sampai aku meninggalkannya nak bus alih-alih bersedia di antar olehnya.
Semangatku nggak akan pernah pudar dengan ocehannya mengenai lelaki misterius yang aku rindukan, aku senang dengan sikapnya yang melindungiku di hari itu dan ia sama sekali tak menyakitiku walau dia punya banyak kesempatan melakukannya .
“Nia, kau dengar nggak gosip tentang cewek yang jalan sama pak Henry itu? aku dengar dari Nabila, dia menolak ajakan kencan pak Henry walaupun sudah memohon” bisik Ratna di sela jam kerja.
“Hei, kita bisa bicarakan hal itu nanti Ratna. Dua jam lagi jam kerja udah bubar, kita makan soto yuk dari pada gosipin orang melulu” ajakku padanya.
“Kamu bener, nanti aku cerita banyak deh. Kamu pasti kaget sama cewek itu, ih aku jadi pingin lihat mukanya kek mana” ujar Ratna makin kesal.
Aku tak menanggapi serius ucapannya itu, aku tahu betul orang yang di maksud mereka adalah aku, tapi aku masih santai karena tak ada seorangpun yang menyadari bahwa akulah orang yang di bonceng dan menolak tumpangan motor pak Henry tempo hari.
“Edy, kau mau kemana kamu buru-buru begitu?” tanya Ratna saat melihat Edy berjalan cepat ke ruangan pak Henry.
“Eh hehe, aku dengar nona Ellaine sudah kembali ke Jakarta dari Inggris. Aku akan mengundang nona Ellaine ke party yang akan kita adakan besok sore” katanya senang.
Hah? Mbak Ellaine sudah kembali ke Jakarta? Sore ini juga, seriusan?
Aku mencoba mengingat ucapan mas Rafael yang ia utarakan tadi subuh, dia juga mengatakan hal yang sama yaitu mbak Ellaine akan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat. Tapi mas Rafael nggak merinci kapan kedatagannya.
Dan juga aku ingat betul mbak Ellaine dalam keadaan hamil, aku nggak yakin dia bakal mau hadir ke pesta kami setelah perjalan jauh. Dan juga kejutan ini terlalu mendadak, aku nggak dapat kabar apapun dari mas Rafael.
Oh benar juga, aku belum memeriksa ponselku sejak istirahat makan siang tadi. Siapa tahu kan mas Rafael kasih tahu apa penyebabnya, aku merogoh ponselku di tas walaupun sekarang masih jam kerja dan kami di larang untuk bermain ponsel.
“Hah? Apa ini?” gumamku melihat layar ponsel.
Aku tak menemukan satu pesanpun yang di kirim oleh mas Rafael, apa dia lupa mengatakannya padaku? Ataukah dia akan memberikan kejutan padaku? Tapi aneh juga kalo Edy yang mengetahuinya sebelum aku. Semuanya terasa sangat ganjil, nggak pernah sekalipun mas Rafael melakukan hal aneh begini sebelumnya walaupun ku akui dia menyebalkan.
Aku lihat Edy keluar dari ruang kerja pak Henry, lelaki itu memberikan jempolnya padaku dan juga Ratna. Benar, walaupun ini berita baik namun firasat buruk mulai menyelimuti pikiranku.