bc

Terjebak Nostalgia

book_age18+
51
IKUTI
1K
BACA
HE
second chance
heir/heiress
blue collar
tragedy
sweet
bxg
brilliant
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Empat tahun lalu, Ariana Gauri Aleena meninggalkan pria yang dicintainya demi sebuah restu yang tak pernah bisa dia miliki.

Kembali ke Bali, Ariana hanya ingin menjalani hidup dengan tenang. Namun takdir mempertemukannya dengan Izora, gadis kecil yang perlahan mengisi hari-harinya dan membuatnya kembali merasakan kehangatan yang lama hilang.

Namun kedekatan itu berubah menjadi kebingungan ketika Ariana mengetahui identitas Izora.

Anak kecil itu diklaim sebagai putri Handaru Manggala—pria yang pernah menjadi pusat dunianya.

Ariana berusaha menjauh. Namun semakin dia menghindar, semakin kuat masa lalu menariknya kembali. Terlebih ketika Izora dengan polos meminta sesuatu yang tak pernah siap dia dengar.

"Ante Nana mau jadi Buna Izora, kan?"

Terjebak dalam nostalgia yang kembali hidup, Ariana dihadapkan pada pilihan yang tak mudah… mempertahankan luka yang selama ini melindunginya atau memberi kesempatan pada cinta yang masih bersemayam dihatinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Aroma s**u dan vanila memenuhi gudang kecil di belakang Kedai Etalase Cinta, menguar dari bahan-bahan pembuat gelato yang tersimpan di dalamnya. Ariana berdiri di depan rak pendingin sambil mencatat jumlah bahan baku gelato yang tersisa. Sesekali dia mengernyit ketika menemukan stok yang mulai menipis. "Cokelat tinggal dua kotak. Pistachio harus pesan lagi minggu ini," gumamnya sambil menulis di tablet. Setelah memastikan semuanya sesuai, Ariana menutup catatan dan hendak keluar dari gudang. Baru saja dia melangkah ke area dapur, salah satu karyawan menghampirinya. "Bu Ariana." "Hm?" Ariana langsung menoleh. "Si kecil itu datang lagi." Senyum seketika terbit diwajah cantik Ariana. "Izora?" Karyawan itu mengangguk. "Katanya nyari Bu Ariana dari tadi." Senyum Ariana semakin lebar. Sejak beberapa minggu terakhir, Izora memang menjadi pelanggan tetap yang paling rajin datang ke kedai. Gadis kecil itu selalu punya alasan untuk mampir. Kadang ingin makan gelato, kadang ingin menggambar bersama, dan lebih sering lagi hanya ingin bercerita. Ariana berjalan menuju area kedai. Benar saja. Seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua sedang duduk di kursi favoritnya sambil menggoyang-goyangkan kaki. Begitu melihat Ariana, wajah mungil itu langsung berbinar. "Bunaaa!" Ariana terkekeh pelan. Meski sudah berkali-kali dikoreksi, Izora tetap memanggilnya begitu. "Ih, siapa yang suruh teriak-teriak?" godanya. Izora langsung turun dari kursi dan memeluk kakinya. "Aku kangen." "Padahal baru kemarin ketemu." "Kan cuma sebentar. Soalnya Buna ada meeting di luar.” bibir mungil Izola mengerucut lucu. Sangat menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya. Ariana menggeleng geli melihat tingkah gadis kecil itu. "Sudah, duduk yang manis dulu," ujarnya sambil menunjuk kursi di hadapannya. Izora kembali duduk di kursinya, meski kedua kakinya tetap bergoyang-goyang karena terlalu bersemangat. "Buna mau ke mana?" tanyanya penasaran. "Mau ambil bekal makan siang dulu." Mata Izora langsung berbinar. "Waw, kebetulan aku sangat-sangat lapar sekali,” katanya sembari memasang wajah letih, lesu, lunglai. Tingkah dramatis Izora sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi Ariana. Karena itu, dia hanya menggeleng sambil tersenyum sebelum melangkah menuju ruang kerjanya untuk mengambil bekal makan siangnya. Tak butuh waktu lama, Ariana kembali dengan sebuah kotak makan di tangan. Begitu melihat benda itu, Izora langsung duduk lebih tegak dan menatapnya penuh harap. "Buna bawa apa hari ini?" tanyanya antusias. Ariana sengaja tidak langsung menjawab. Dia meletakkan kotak bekal di atas meja terlebih dahulu sebelum membuka tutupnya perlahan. "Kalau Izora bisa menebak menunya dengan benar, nanti boleh minta tambah." Seketika mata gadis kecil itu berbinar semakin terang. Izora langsung memasang wajah serius seolah sedang menghadapi ujian penting. Meski begitu, tubuh kecilnya tetap bergoyang ke kanan dan kiri, sama sekali tidak bisa diam. "Chicken cordon bleu with mashed potato," tebaknya dengan keyakinan penuh. "Bener, kan, Buna?" Ariana tersenyum tipis sebelum membuka tutup kotak bekal makan siangnya. Dan ternyata tebakan Izora benar. "Yeaay!" Gadis kecil itu langsung bertepuk tangan sambil berseru riang. "Aku sudah duga Buna bakal bikin makanan ini. Soalnya kemarin aku yang minta." Saking gemasnya, Ariana menangkup kedua pipi chubby Izora lalu mencium pucuk hidungnya. "Pinter banget sih." Izora terkekeh senang, sementara Ariana menyiapkan makan siang gadis itu ke dalam piring saji. Keduanya pun menikmati makan siang bersama sambil sesekali mengobrol dan tertawa. Beberapa menit kemudian, piring mereka sudah kosong tanpa menyisakan sedikitpun makanan. Sementara itu, Izora menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengelus perutnya yang kenyang. Senyum lebar tak pernah lepas dari wajah mungilnya sejak tadi. "Coba aja Buna mau jadi Bunanya Izora," celetuknya tiba-tiba. "Pasti Izora bisa makan enak setiap hari." Ariana tersenyum. Bukan sekali atau dua kali gadis kecil itu melontarkan permintaan serupa. Sepertinya setiap kali mereka bertemu, Izora akan mencari cara agar Ariana bersedia menjadi istri papanya. Dan anehnya, meski Ariana selalu menolak dengan halus, Izora tidak pernah marah ataupun ngambek. Gadis kecil itu justru semakin bersemangat mempromosikan sang papa. "Di rumah, kan, ada chef yang masakin kamu, Sayang," ujar Ariana. Izora langsung menggeleng. "Beda rasanya, Bun. Nggak enak." Ekspresi wajahnya bahkan menunjukkan seolah makanan buatan chef itu sama sekali tidak layak dimakan. "Tapi Paparu bilang enak," lanjutnya. "Aneh." "Ya sudah, bilang saja ke chef-nya menu yang Izora suka." Gadis kecil itu mendengkus kesal. "Tetap aja hasilnya nggak enak." Ariana tahu itu hanya akal-akalan Izora. Pada dasarnya, gadis kecil itu selalu jujur mengungkapkan apa pun yang dirasakannya. Termasuk rasa sukanya pada Ariana. Karena itulah, hampir semua hal yang dibuat Ariana selalu dianggap istimewa di mata Izora. "Oh iya, Bun." Izora tiba-tiba mengingat sesuatu. "Aku lagi marah sama Paparu." Ariana mengangkat sebelah alisnya. "Marah kenapa lagi, Sayang? Bukannya kalian baru saja baikan?" Izora langsung memonyongkan bibirnya saat mengingat kelakuan menyebalkan papanya. "Sus Mery lupa beliin aku sabun stroberi." "Lalu?" "Aku sudah minta dibeliin sabun stroberi sama Paparu," gerutu Izora. "Tapi katanya stoknya lagi habis." "Lalu?" tanya Ariana. "Terus Paparu suruh aku pakai sabunnya dia dulu sampai sabun stroberinya dibeli." Ariana langsung menahan senyum. "Memangnya kenapa gak mau pakai sabun punya Papa?" "Soalnya baunya kayak orang tua!" protes Izora dengan wajah cemberut. "Izora maunya bau stroberi, bukan bau Paparu." Di tengah obrolan seru itu, bel di atas pintu kedai berbunyi, menandakan ada pelanggan yang baru datang. Namun, baik Ariana maupun Izora sama-sama mengabaikannya. Keduanya masih terlalu asyik mengobrol di meja mereka. Sementara itu, pria yang baru saja masuk berjalan lurus ke arah mereka. Langkahnya terhenti tepat di samping meja. "Putri Keripik, apa kamu tidak mendengarkan apa yang Paparu katakan tadi pagi?" Ariana dan Izora menoleh secara bersamaan. Izora langsung menatap papanya dengan wajah sebal. Sedangkan Ariana membulatkan mata, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria itu— Handaru. Tubuh Ariana mendadak membeku. Sementara itu, Izora langsung menyedekapkan kedua tangan di depan d**a. "Maaf ya, Raja Keripik. Aku masih ngambek, jadi nggak mau dijemput!" ujarnya ketus. Handaru tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju pada Ariana. Dia menatapnya lekat, seolah sedang memastikan bahwa wanita di hadapannya benar-benar nyata. Beberapa detik kemudian, senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya. "Apaan sih? Lihat Buna sampai melotot begitu." Izora mendecak kesal. "Biasa aja kali, Raja Keripik." Handaru akhirnya mengalihkan pandangan pada putrinya sesaat sebelum menarik kursi di samping gadis kecil itu. Lalu, tanpa melepas tatapannya dari Ariana, dia berkata, "Jadi ini yang kamu maksud cocok jadi Buna kamu?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
751.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
984.2K
bc

A Warrior's Second Chance

read
362.7K
bc

Not just, the Beta

read
349.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook