Sisa Rasa

1374 Kata
Handaru membetulkan kerah kemejanya sambil melirik Izora yang sibuk merapikan jepit rambut stroberi favoritnya di depan cermin. Sudah satu tahun mereka menjalani rutinitas pagi seperti ini. Sederhana, berisik, tetapi selalu menjadi bagian terbaik dalam harinya. Dan pagi ini, pikirannya kembali pada pertanyaan yang diajukan Izora sebelum tidur semalam. "Paparu pernah sedih banget, gak?" Pertanyaan itu membuat Handaru terdiam cukup lama. Sebab jika jujur, ada masa ketika dia merasa kehilangan arah setelah ditinggalkan Ariana. Namun pada akhirnya, dia hanya mengusap rambut putrinya dan berkata bahwa semua orang pasti pernah merasa sedih. Handaru menghembuskan nafas pelan. Ariana terlihat baik-baik saja setelah empat tahun pergi. Senyumnya masih sama, hidupnya juga terlihat tenang. Tak ada tanda bahwa wanita itu pernah hancur karena perpisahan mereka. Berbeda dengannya. Meski hidupnya terus berjalan dan bisnisnya semakin besar, Handaru tak pernah benar-benar melupakan Ariana. Buktinya, sekali saja wanita itu muncul di hadapannya, semua rasa sakit yang selama ini dia pendam kembali menyeruak. "Pap... nanti jadi jemput aku, kan?" Izora sudah duduk anteng di kursi tempat papanya biasa memakai sepatu, menunggu pria itu selesai bersiap. "Kalau nggak jadi juga nggak apa-apa sih," lanjutnya. Lirikan tajam Handaru membuat gadis kecil itu langsung nyengir. "Mau apa sampai berharap Paparu nggak bisa jemput?" tanyanya. Sembari memakai jam tangan, tatapannya tak bergeser dari Izora. "Gini loh, Pap. Aku tuh semalam lupa kalau hari ini udah ada janji sama Buna—" Izora menjeda kalimatnya sejenak. Memikirkan cara terbaik untuk merayu papanya. "Janji harus ditepati, kan, Pap? Biar hidungku gak panjang kayak Pinokio." "Panggilan 'Buna' itu udah resmi dapat izin dari Tante Ariana, atau masih ilegal, Izora?" "Awalnya sih ilegal. Lama-lama Tante Ariana senang aku panggil gitu." Dari ekspresi Izora yang mengernyitkan kening di akhir kalimat membuat Handaru mendengkus. Mana mungkin Ariana mau dipanggil ‘Buna’ oleh anak kecil yang bukan siapa-siapanya? Apalagi sekarang wanita itu sudah tahu kalau Izora adalah putrinya. Apa tidak makin enggan wanita itu? "Paparu udah bilang, kan, sama Izora? Kalau nggak boleh memaksakan keinginan kita ke orang lain?" Izora langsung mengangguk. Dia sangat ingat dengan pesan papanya itu. "Meskipun kamu suka sama Tante Ariana, tetap nggak boleh manggil dia 'Buna' kalau dia keberatan." "Iya, Pap. Nanti aku bakal tanya lagi." Izora tidak marah. Justru dia tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya. Handaru yang sudah selesai bersiap langsung menggendong putrinya ke bawah. Tubuh kecil itu bertengger nyaman di sebelah lengannya. Pekerjaan Handaru memang tak pernah ada habisnya. Namun, ada satu hal yang tidak pernah dia lewatkan: mendengarkan cerita Izora. Sejak kecil, gadis itu terbiasa menceritakan apapun kepadanya. Mulai dari hal sepele sampai sesuatu yang membuatnya sedih atau kesal. Karena bagi Handaru, mengetahui apa yang dirasakan putrinya sama pentingnya dengan memenuhi semua kebutuhannya. Handaru mendudukkan Izora di kursinya, lalu mendorong semangkuk sup jagung dan roti panggang ke depan gadis kecil itu. "Nah, Putri Keripik harus sarapan yang banyak biar nggak gampang sakit." Izora mengangguk patuh. Namun baru dua suap, mulutnya sudah kembali aktif. "Oh iya, Pap. Kemarin aku ketemu anaknya Om Kai." Handaru yang tengah menikmati kopinya langsung menoleh ke arah Izora. "Yazeen?" "Iya." "Terus?" Izora mengangkat bahunya. "Dia aneh. Aku kurang suka sama dia." Sebelah alis Handaru langsung terangkat. "Kenapa kok kurang suka? Bukannya dia teman satu sekolah kamu?" "Soalnya dia sering lihat aku." Handaru meletakkan cangkir kopinya perlahan. "Seberapa sering?" "Banyak." "Banyak itu berapa, Izora?" Izora berpikir sejenak. "Ya... sering banget, Pap. Pas aku lagi main dia lihat. Pas aku lagi makan dia lihat. Pas aku lagi gambar dia juga lihat." "Tumben kamu nggak ngomel saat ada orang yang bikin kamu nggak nyaman?" "Kan di sana ada Buna sama Ante Senja." Handaru yakin cepat atau lambat keberadaan Izora akan diketahui banyak orang. Dan sepertinya, hari itu telah tiba. Pantas saja siang nanti para sahabatnya tiba-tiba mengajaknya makan siang bersama. Sudah bisa dipastikan topik utama pembahasannya adalah Izora. "Lalu apa yang Izora lakukan saat nggak nyaman dengan tatapan Yazeen waktu itu?" "Aku ingetin dia kalau harus fokus biar cepat selesai nyusun puzzle-nya. Dan dia ngerti. Tapi cuma sebentar." Izora mencebikkan bibir. "Pantesan Ante Senja bilang kalau Yazeen itu agak nakal." "Izora nggak boleh bilang gitu," tegur Handaru. Tangannya membelai lembut kepala gadis kecil itu. "Lanjut makan. Biar nggak telat ke sekolah." Meski mengangguk, tetap saja Izora menganggap Yazeen itu anak nakal. Jadi, dia merasa harus menjaga jarak. *** Kai menjadi orang pertama yang tiba di ARIA Prime, restoran flagship milik Handaru yang berada di bawah naungan HK Dining Group. Tak lama kemudian, Chiko dan Nakara menyusul. Setelah saling menyapa singkat, mereka langsung menuju rooftop, tempat favorit mereka untuk berkumpul. Suasana di atas cukup lengang siang ini. Angin laut berhembus pelan, membuat udara terasa sejuk. Ketiganya memilih meja di sudut, lalu duduk santai sambil menunggu si empunya muncul. "Tumben Handaru meeting di luar?" tanya Chiko. Kai menggeleng. Sementara Nakara menyalakan rokoknya. Ya, si pemilik jaringan restoran mewah itu memang malas diajak meeting di luar. Sekalipun kliennya seorang pejabat maupun konglomerat. Lalu apa yang membuat Handaru bisa meninggalkan singgasananya? Panjang umur, orang yang sedang dibicarakan akhirnya datang. Bukan dengan senyuman, melainkan wajah yang tampak memberengut kesal. Dia melonggarkan dasinya setelah duduk, lalu menatap Kai dengan tajam. "Apa?" tanya Kai heran. "Gue habis dipanggil wali kelasnya Izora. Lo tau nggak, Mas, kenapa anak gue yang cantik, pinter, dan anggun itu bisa sampai menjambak teman sekelasnya?" Pertanyaan itu hanya ditujukan pada Kai. Sementara Chiko dan Nakara menunggu jawaban pria itu dengan penuh rasa penasaran. "Yazeen suka sama Izora," balas Kai santai. "Bilangin sama anak lo itu, Mas. Jangan deketin anak gue!" seru Handaru. "Gue nggak mau dapat mantu modelan Yazeen yang serampangan itu." Putranya ditolak mentah-mentah oleh sahabatnya membuat Kai tidak terima. "Meskipun serampangan, anak gue itu bibit unggul kalau lo lupa, Han." "Pokoknya lo harus kasih tahu Yazeen biar nggak gangguin Izora di sekolah." Handaru masih kekeuh dengan permintaannya. "Tunggu dulu—" sela Chiko. "Gue masih nggak paham. Hubungannya Yazeen ngedeketin Izora sama Izora menjambak rambut teman sekelasnya apa?" "Iya," timpal Nakara. "Bukannya mereka beda kelas, ya?" Handaru mengatur nafasnya lebih dulu sebelum menjawab. Kekesalannya sudah berada di puncak saat mendapati wajah mulus putrinya terkena cakaran kuku temannya. Dia saja tidak pernah membentak Izora, malah orang lain dengan seenaknya menyakiti gadis kecil itu. "Sudah beberapa hari ini Yazeen ngasih cokelat buat Izora. Tepatnya setelah pertemuan mereka di Kedai Etalase Cinta," terang Handaru. "Meski sudah ditolak Izora, Yazeen tetap maksa supaya dia nerima cokelatnya. Dari situ kalian pasti udah tahu kan penyebabnya?" Ketiga pria di depan Handaru langsung menahan tawa. Ternyata anak usia empat tahun sudah mengenal cemburu. Chiko dan Nakara tidak memiliki anak perempuan, jadi tidak terlalu was-was anaknya digoda. Sedangkan Kai, Yamika sudah cukup besar dan tinggal di luar negeri bersama Oma dan Opanya. Jadi relatif aman dari urusan semacam itu. Nasib Handaru memang agak mengenaskan. Dia memiliki putri yang cantik dan pintar. Sialnya lagi, yang menggoda putrinya justru anak dari sahabatnya sendiri. "Namanya cinta memang harus diperjuangkan, Han. Lo kayak nggak pernah aja," kelakar Kai. "Para penggemarnya Yazeen marah sama anak gue, Mas. Untungnya Izora bukan gadis yang cengeng. Dia bisa membela diri meskipun kena cakar." Handaru menghembuskan nafas kasar. "Pengen gue cakar balik itu anak yang nyakitin anak gue. Kalau nggak ingat Izora nggak punya siapa-siapa kalau gue masuk penjara." Kai paham dengan kekesalan yang dirasakan sahabatnya. Namun, dia juga tidak bisa berbuat banyak. Putra kecilnya itu memang sangat serampangan. Kalau dinasehati, malah memberikan petuah balik sambil menyamakan kelakuannya dengan dirinya. "Ntar gue minta Senja kasih paham Yazeen," putus Kai. Makan siang pun dimulai. Mereka tidak memiliki banyak waktu karena harus segera kembali ke kantor masing-masing. Di tengah makan, obrolan serius akhirnya dimulai. "Para nyonya sudah tahu kalau lo punya anak, Han," ujar Chiko. "Mereka ngomel-ngomel karena kami menyembunyikan fakta tentang Izora." "Ariana juga sudah ketemu sama Izora. Bahkan mereka sudah jadi teman dekat," balas Handaru. "Senja sudah cerita soal itu." Kai menatap sahabatnya. "Lo nggak nangis, kan, waktu ketemu lagi sama Ariana, Han?" "Ngapain gue nangisin orang yang nggak penting?!" "Wowww— benarkah ucapan itu, Han?" sahut Nakara. "Jangan sok jual mahal deh, Han. Ntar ditinggal lagi malah kebingungan nyari." Chiko berkata sembari menahan tawa. "Ya kalau perginya cuma buat menenangkan diri. Kalau nikah sama pria lain gimana?" Brak! Ketiga orang di depan Handaru langsung berjengit kaget saat pria itu menggebrak meja. "Yah, yah... nggak penting katanya," cibir Nakara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN